Beberapa bulan belakangan bahkan terdapat beberapa migran yang sebagian besar adalah penganut Buddha dari Myanmar juga terobang-ambing di lautan.
Mereka juga ingin masuk ke Malaysia, namun patroli laut negara terseut terus melakukan penghalauan.
Selain karena para migran tersebut illlegal, Malaysia juga khawatir mereka bisa membawa viruc corona masuk.
Diketahui, jutaan pengungsi Rohingya di Bangladesh tinggal di kamp kamp tak terurus dan terkesan kumuh.
Sebagian besar dari mereka kabur dari Myanmar sesaat setelah kerusuhan di negara tersebut pada 2017.
Para pengungsi kemudian mulai menjangkau negara-negara tetangga di Asia.
Mereka rela bertaruh nyawa terombang-ambing di lautan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di negara-negara Asia.
Ketika mendarat di Langkawi pada Senin lalu, mereka secara perlahan didorong ke perairan internasional dan menjauhi wilayah otoriter laut Malaysia.
Sayangnya, ketika pihak keamanan mendekati kapal, 53 orang dari rombongan melompat ke laut dan kini ditahan.
Dalam kapal kemudian ditemukan 216 orang pengungsi Rohingya dan 1 mayat perempuan yang telah dievakuasi ileh otoritas setempat.
"Berdasarkan hasil investigasi, kapal itu sengaja dirusak dan tidak dapat diperbaiki, sehingga upaya push-back dihentikan," ungkap otoritas maritim Malaysia.
Oleh karena itu pihak Malaysia membawa kapal mendarat dan memberikan makanan serta minuman pada para pengungsi.
Baca: Kasus Positif Covid-19 Pertama Terkonfirmasi di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh
Baca: Tolak Dakwaan Lakukan Genosida Etnis Rohingya, Aung San Suu Kyi Di Bawah Pengaruh Militer?
Baca: Aung San Suu Kyi Tiba di Pengadilan Internasional, Myanmar Siap Disidang Kasus Genosida Rohingya
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)