TRIBUNNEWSWIKI.COM - Senin, (8/6/2020) pukul 04.20 pagi waktu setempat, ratusan pengungsi Rohingya tiba di Langkawi, Kedah Darul Aman, Malaysia.
Diketahui, 269 pengungsi tersebut kabur dari kamp pengungsi di Cox's Bazar, Bangladesh.
Dikutip dari Aljazeera, pemerintah Malaysia menolak kedatangan para pencari suaka tersebut dan ingin Bangladesh mengambil mereka kembali.
Hal tersebut dikatakan langsung oleh Menteri Pertahanan Malaysia, Ismail Sabri Yakoob pada Selasa, (9/6/2020).
"(Pengungsi) Rohingya seharusnya tahu bahwa jika mereka datang kemari (Malaysia) maka mereka tak bisa tinggal di sini," tegas Sabri.
Sabri juga mengatakan seharusnya Kementerian Luar Negeri Malaysia meminta Dhaka untuk kembali mengambil para pengungsi yang kabur dari Bangladesh tersebut.
Tak hanya itu, penolakan pengungsi Rohingya di Malaysia juga dipengaruhi adanya upaya perlindungan negara tersebut dari pandemi corona.
Baca: Hakim Internasional PBB Setujui Penyelidikan Kejahatan Genosida terhadap Etnis Rohingya di Myanmar
Baca: Gambia Resmi Laporkan Myanmar ke Mahkamah Internasional: Ada Dugaan Pembunuhan Warga Muslim Rohingya
Bangladesh tak mau ambil kembali pengungsi yang kabur
Menanggapi hal tersebut, otoritas Bangladesh telah mengatakan pihaknya tak akan mengambil kembali pengungsi yang kini telah berada di Langkawi.
Terlebih, Bangladesh juga mengaku keberatan lantaran kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh juga semakin padat.
Menteri Luar Negeri Bangladesh, AK Abdul Momen meberikan klarifikasinya.
"Kami tidak diwajibkan dan memiliki posisi yang membuat kami bisa menampung lebih banyak pengungsi," ucap AK Abdul Momen.
Momen kembali menegaskan bahwa Rohingya yang merupakan etnis dari Myanmar, bukan merupakan warga Bangladesh.
Dirinya juga mendesak komunitas global membantu melakukan relokasi jutaan pengungsi Rohingya yang telah berada di Bangladesh sejak 2017 lalu.
Momen tak ingin negaranya sendirian menanggung beban para pengungsi Rohingya yang kini semakin memadati Bangladesh.
UNHCR telah berbicara dengan Malaysia
United Nations High Commissioner for Refugee (UNHCR) atau Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi angkat bicara terkait kasus tersebut.
UNHCR mengatakan pihaknya telah melakukan perundingan kepada otoritas Malaysia mengenai pengungsi Rohingya di Langkawi.
Terlebih, saat pandemi corona telah menyerang Malaysia, negara tersebut telah menutup akses turis asing ke negeri Jiran tersebut.
Sehingga meskipun sebagai negara dengan mayoritas warganya adalah Muslim, keberadaan Rohingya tidak bisa diterima begitu saja.
Beberapa bulan belakangan bahkan terdapat beberapa migran yang sebagian besar adalah penganut Buddha dari Myanmar juga terobang-ambing di lautan.
Mereka juga ingin masuk ke Malaysia, namun patroli laut negara terseut terus melakukan penghalauan.
Selain karena para migran tersebut illlegal, Malaysia juga khawatir mereka bisa membawa viruc corona masuk.
Diketahui, jutaan pengungsi Rohingya di Bangladesh tinggal di kamp kamp tak terurus dan terkesan kumuh.
Sebagian besar dari mereka kabur dari Myanmar sesaat setelah kerusuhan di negara tersebut pada 2017.
Para pengungsi kemudian mulai menjangkau negara-negara tetangga di Asia.
Mereka rela bertaruh nyawa terombang-ambing di lautan untuk mendapatkan kehidupan yang layak di negara-negara Asia.
Ketika mendarat di Langkawi pada Senin lalu, mereka secara perlahan didorong ke perairan internasional dan menjauhi wilayah otoriter laut Malaysia.
Sayangnya, ketika pihak keamanan mendekati kapal, 53 orang dari rombongan melompat ke laut dan kini ditahan.
Dalam kapal kemudian ditemukan 216 orang pengungsi Rohingya dan 1 mayat perempuan yang telah dievakuasi ileh otoritas setempat.
"Berdasarkan hasil investigasi, kapal itu sengaja dirusak dan tidak dapat diperbaiki, sehingga upaya push-back dihentikan," ungkap otoritas maritim Malaysia.
Oleh karena itu pihak Malaysia membawa kapal mendarat dan memberikan makanan serta minuman pada para pengungsi.
Baca: Kasus Positif Covid-19 Pertama Terkonfirmasi di Kamp Pengungsi Rohingya di Bangladesh
Baca: Tolak Dakwaan Lakukan Genosida Etnis Rohingya, Aung San Suu Kyi Di Bawah Pengaruh Militer?
Baca: Aung San Suu Kyi Tiba di Pengadilan Internasional, Myanmar Siap Disidang Kasus Genosida Rohingya
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)