Andi menjelaskan BSSN sudah menelusuri beberapa dugaan kebocoran data yang terjadi.
Pihaknya telah melakukan validasi terhadap data-data yang diunggah oleh Bjorka.
Baca: 17 Tahun Berlalu, Kasus Kematian Munir Tak Kunjung Menemui Titik Terang
Baca: Rekam Jejak Pollycarpus, Terpidana Kasus Pembunuhan Munir, yang Meninggal karena Covid-19
Tak hanya itu, BSSN pun melakukan koordinasi dengan penyelenggara sistem elektronik yang diduga mengalami kejadian kebocoran data.
"Termasuk dengan penyelenggara sistem elektronik di lingkungan Kementerian Sekretariat Negara," ucapnya.
BSSN bekerja sama dengan Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) guna memperkuat sistem keamanan pada ruang siber.
"Melakukan upaya-upaya mitigasi cepat untuk memperkuat sistem keamanan siber guna mencegah risiko yang lebih besar pada beberapa PSE tersebut," imbuh dia.
Ariandi juga menegaskan seluruh PSE diminta memastikan keamanan sistem elektronik di lingkungannya masing-masing.
Hal itu sesuai dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.
Di sisi lain, Badan Intelijen Negara (BIN) memastikan dokumen keprisedenan milik Jokowi aman dari upaya peretasan.
Pihaknya selalu berusaha melindungi data-data rahasia Jokowi secara maksimal dari serangan hacker.
Juru Bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanti menyampaikan hal tersebut kepada publik.
"Sampai saat ini masih aman, dan kita tetap berupaya karena ini adalah user kita dan tentu saja segala apa-apa yang menjadi dokumen ataupun surat-surat penting lainnya itu harus betul-betul terlindungi secara maksimal," ujar Wawan, Sabtu (10/9/2022) dilansir Tribunnews.
Wawan mengungkapkan BIN sudah melakukan penguatan pengamanan data kepresidenan dengan pembaruan sistem enkripsi.
Enkripsi merupakan proses teknis mengonversikan informasi menjadi kode rahasia untuk mengaburkan data yang disimpan demi alasan keamanan data.
Wawan pun menjelaskan peretasan tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia.
"Kalau mengenai apa upaya-upaya dari pihak-pihak hacker dan sebagainya terus-menerus terjadi."
"Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia," kata
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Puan/Ka)