Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Hiroo Onoda merupakan seorang tentara Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.
Ia lahir di Kainan Wakayaman, Kekaisaran Jepang pada 19 Maret 1922.
Saat usianya masih 17 tahun, Onoda pergi bekerja untuk perusahaan perdagangan Tajima Yoko di Wuhan, Cnina.
Lalu, ia terdaftar di Infanteri Tentara Kekaisaran Jepang saat usia 18 tahun.
Onoda adalah tentara yang telah berjuang saat Perang Dunia II dan tentara yang belum menyerah sampai akhir perang pada Agustus 1945.
Ia dikirim oleh Komandannya ke Pulau Lubang di Filipina untuk mengintai musih dan mencari informasi sejak tahun1944
Onoda kemudian melewati masa hidupnya selama 29 tahun di Filipina sampai mantan panglimanya datang dari Jepang untuk membebaskan dari tugas atas perintah Kaisar pada 1974.
Ia kemudian menjabat sebagai letnan dua dalam Angkatan Darat Kekaisaran Jepang.
Onoda meninggal di usia 91 tahun, tepatnya pada 16 Januari 2014 lalu. (1)
Baca: Lolo Soetoro
Menjadi Militer #
Onoda dilatih sebagai perwira intelijen di kelas komando Futama di Sekolah pimpinan Angakatan Darat Jepang, Sekolah Nakano dan menjadi angkatan ke-14.
Ia diperintahkan dan dikirim ke Pulau Lubang di Filipina paa 26 Desember 9144 untuk menghambat serangan musuh di pulau tersebut, termasuk merusak landasan udara dan dermaga di pelabuhan.
Perintah tersebut juga menyatakan bahwa ia tak boleh menyerah pada situasi apapun.
Ketika tiba di pulau tersebut, Onoda kemudian masuk ke kelompok tentara Jepang yang sebelumnya telah di kirim ke sana.
Pangkat mereka lebih tinggi dari Onoda.
Lantaran Onoda dicegah oleh para tentara dalam kelompok tersebut, akibatnya pulau tersebut berhasil direbut oleh pasukan Persemakmura Amerika Serikat dan Filipina pada 28 Februari 1945.
Dalam waktu singkat usai pendaratan, tiga tentara lainnya tewas atau menyerah.
Onoda yang sudah dinaikkan jabatannya menjadi letnan, kemudian menyuruh orang-orang tersebut turun dari bukit dan masuk ke dalam hutan untuk bersembunyi. (1)
Baca: Candace Nelson
Persembunyian #
Onoda melanjutkan kampanyenya sebagai pasukan Jepang.
Awalnya, ia tinggal di pegunungan Pulau Lubang di Filipina dengan tiga tentara lainnya, di antaranya Yuichi Akatsu, Kopral Shoichi Shimada dan prajurit kelas satu, Kinshichi Kozuka.
Sela tinggal di sana, ia bersama ketiga rekan tentaranya melakukan kegiatan gerilya dan terlibat dalam beberapa baku tembak dengan polisi setempat.
Pada bulan Oktober 1945, mereka menemukan selebaran yang menyatakan bahwa Jepang telah menyerah.
Selebaran itu berbunyi ‘Perang berakhir pada 15 Agustus. Turun dari Gunung!’
Selebaran tersebut dijatuhkan melalui udara dengan perintah menyerah yang dicetak oleh Jenderal Tomoyuki Yamashita dari Tentara Area Keempat belas.
Namun, Onoda dan yang lainnya tidak percaya pada selebaran tersebut, sehingga mereka tetap melanjutkan perjuangannya.
Menurut mereka itu hanyalah sebuah propaganda Sekutu dan mereka yakin jika perang berakhir, mereka tidak akan ditembaki.
Pada bulan September 1949, Yuichi Akatsu pergi meninggalkan yang lain dan menyerah pada pasukan Filipina pada tahun 1950, setelah enam bulan sendirian.
Pada tahun 1952, ada pesawat yang menjatuhkan surat dan foto keluarga mereka dan mendesak untuk menyerah, namun mereka bertiga menganggap bahwa itu adalah tipuan.
Pada Juni 1953, Kopral Shoichi Shimada terkena tembakan di kakinya ketika melakukan baku tembah dengan nelayan setempat, lalu Onoda merawatnya hingga sembuh.
Shimada kemudian terbunuh pada 7 Mei 1954, oleh tembakan yang dilakukan oleh regu pencari yang mencari mereka.
Kinshichi Kozuka pun sama nasibnya dengan Shimada, ia terbunuh pada 19 Oktober 1972 oleh polisi setempat dan terkena tembakan sebanyak dua kali.
Saat itu Kozuka dan Onoda sedang membakar beras yang telah dikumpulkan oleh para petani.
Satu rekannya pergi dan menyerah pada Filipina, sementara dua rekannya yang lain mati terbunuh.
Alhasil, tinggal Onoda yang masih bertahan di tengah hutan Filipina.
Pada 20 Februari 1974, Onoda tak sengaja bertemu dengan Norio Suzuki.
Saat itu, Suzuki sedang berkeliling dunia, setelah selama 4 hari, ia kemudian bertemu dengan Onoda.
Namun, Onoda tetap gigih tak ingin keluar dari hutan dan menyatakan, “Saya sedang menunggu perintah dari atasan”.
Suzuki kemudian kembali ke Jepang dengan membawa foro dirinya dan Onoda sebagai bukti pertemuan mereka.
Pemerintah Jepang menemukan komandan Onoda yang bernama Mayor Yoshimi Taniguchi.
Taniguchi sudah lama menyerah dan sejak saat itu ia menjadi penjual buku.
Pada 9 Maret 1974, Taniguchi pergi ke Pulau Lubang dan bertemu dengan Onoda.
Ia menepati janjinya pada tahun 1944 yang mengatakan, “Apapun yang terjadi, kami akan kembali untukmu”.
Kemudian, Taniguchi mengeluarkan surat perintah kepada Onoda di mana dalam surat tersebut, Onoda dinyatakan bebas dari tugasnya.
Mendengar hal itu, Onoda baru menyerah dan memberikan pedangnya, senapan Arisaka Tipe 99 yang masih berfungsi, 500 butir amunisi dan beberapa granat tangan, serta belati pemberian ibunya pada tahun 1944 untuk bunuh diri jika tertangkap.
Presiden Filipina, Marcos, sempat menjumpai Onoda saat hari penyerahannya pada 11 Maret 1974. (1)
Baca: Budi Darma
Kehidupan Selanjutnya #
Sesampainya di Jepang, ia menjadi populer dan meceritakan perjuangannya ke masyarakan dan membentuk sekolah mata-mata.
Pemerintah Jepang memberikan penawaran dengan uang yang berjumlah besar sebagai tanda jasanya sebagai pejuang tentara Jepang.
Namun, penawaran itu ditolak oleh Onoda.
Ketika diminta oleh simpatisan untuk menerimanya, kemudian ia menyumbangkan uang tersebut ke Kuil Yasukuni yang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah para pejuang tentara Jepang pada Perang Dunia II.
Lantaran menjadi banyak perhatian, Onoda merasa terganggu dan ia pun meninggalkan Jepang menuju Brasil pada April 1975.
Kemudian, pada tahun 1976 ia menikah dan mengambil peran utama di Colonia Janic (Jamic Colony), komunitas Jepang di Terenos, Mato Grossu do Sul, Brasil.
Onoda juga memberikan izin kepada Angkatan Udara untuk melakukan pelatihan di tanah miliknya.
Onoda kemudian kembali ke Jepang pada tahun 1984 dan mendirikan sekolah pendidikan bernama Onoda Shizen Juku atau Sekolah Alam Onoda untuk generasi muda.
Pada tahun 1966, ia sempat menyambangi kembali Pulau Lubang dan memberikan sumbangan kepada sekolah setempat sebesar 10.000 dolar AS.
Pada 16 Januari 2014, ia dinyatakan meninggal dunia akibat gagal jantung di Rumah Sakit Internasional St. Luke di Tokyo.
Onoda sempat membuat sebuah buku ‘No Surrender: My Thity-Year War’ pada tahun 1999. (2)
Penghargaan #
•Medali Merit Santos-Dumont oleh Angkatan Udara Brasil pada 6 Desember 2004
•Mendapat gelar Cidadao (warga negara) oleh Majelis Legislatif Mato Grosso Sul pada 21 Februari 2010 (2)
Baca: Rasuna Said
(TribunnewsWiki.com/Atika)
| Nama lengkap | Hiroo Onoda |
|---|
| Lahir | Kainan, Wakayama, Kekaisaran Jepang, 19 Maret 1922 |
|---|
| Pangkat | Letnan Dua |
|---|
| Dinas/cabang | Angkatan Darat Kekaisaran Jepang |
|---|
| Lama dinas | 1940–1974 |
|---|
| Perang/pertempuran | Kampanye Filipina dalam Perang Dunia II (1944–1945) |
|---|
| Pekerjaan lain | Peternak sapi, Wirausahawan (Pendidikan) |
|---|