Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)

Siti Walidah merupakan tokoh emansipasi wanita yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, sekaligus istri dari Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.


zoom-inlihat foto
siti-walidah2.jpg
pahlawancenter.com
Pahlawan Nasional, Siti Walidah (pahlawancenter.com)

Siti Walidah merupakan tokoh emansipasi wanita yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, sekaligus istri dari Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Siti Walidah atau juga dikenal dengan nama Nyai Ahmad Dahlan merupakan tokoh emansipasi wanita yang menjadi Pahlawan Nasional Indonesia, sekaligus istri dari Ahmad Dahlan, pendiri organisasi Muhammadiyah.

Siti Walidah dilahirkan di Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 3 Januari 1872.

Ia yang memprakarsai sebuah gagasan tentang pendidikan yang dikenal dengan konsep "catur pusat", yang kemudian diwujudkan menjadi sebuah sekolah.

Catur Pusat merupakan formula pendidikan yang mana menyatukan empat komponen, antara lain:

- Pendidikan di lingkungan keluarga,

- Pendidikan di lingkungan sekolah,

- Pendidikan dalam lingkungan masyarakat,

- Pendidikan dalam lingkungan tempat ibadah.

Pahlawan Nasional, Siti Walidah
Pahlawan Nasional, Siti Walidah (pwmu.co)

Nyai Ahmad Dahlan menghembuskan dapas terakhirnya di Kauman, Yogyakarta, pada tanggal 31 Mei 1946, ketika berusia 74 tahun.

Pada 10 November 1971, ia dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soeharto berdasarkan Surat Keppres No 42/TK/1971. (1) (2)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: KH Ahmad Dahlan

 

  • Masa Muda #


Siti Walidah merupakan putri dari Kyai Haji Muhammad Fadli, seorang ulama dan anggota Kesultanan Yogyakarta.

Ia menempuh pendidikannya di rumah dengan diajarkan berbagai aspek mengenai Islam, termasuk bahasa Arab dan Alquran, yang dibaca dalam naskah Jawi.

Siti Walidah menikah dengan sepupunya, yakni Ahmad Dahlan.

Pada saat Ahmad Dahlan tengah sibuk mengembangkan Muhammadiyah, Siti Walidah turut mengikuti suaminya dalam perjalanannya.

Akan tetapi, lantaran beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan mengenai Islam dinilai radikal, mereka acap kali menerima ancaman.

Sebelum melakukan perjalanan menuju Banyuwangi, Jawa Timur, mereka mendapat ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana. (1)

Baca: Rasuna Said

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Cut Nyak Meutia

  • Kiprah #


Sopo Tresno

Pada tahun 1914,  Nyai Ahmad Dahlan mendirikan kelompok doa yang diberi nama Sopo Tresno, dimana ia dan suaminya bergantian memimpin kelompok ini dalam membaca Alquran dan mendiskusikan maknanya.

Nyai pun segera menfokuskan dalam membahas isu-isu perempuan yang terkandung dalam ayat-ayat Alquran.

Melalui Sopo Tresno, pasangan ini berhasil memperlambat Kristenisasi di Jawa lewat sekolah yang disponsori oleh pemerintah kolonial Belanda.

Pahlawan Nasional, Siti Walidah (http://www.aisyiyah.or.id)
Pahlawan Nasional, Siti Walidah (http://www.aisyiyah.or.id) (http://www.aisyiyah.or.id)

Aisyiyah

Nyai bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya kemudian membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan.

Berhubung penamaan Fatimah tidak menghasilkan kesepakatan, mereka lalu memutuskan mengganti nama menjadi Aisyiyah, yang berasal dari nama istri Nabi Muhammad, yakni Aisyah.

Kelompok baru ini kemudian resmi terbentuk pada tanggal 22 April 1917, dengan Nyai Ahmad Dahlan sebagai kepala.

Lima tahun setelahnya, organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah.

Siti Walidah mulai mengembangkan Aisyiyah dengan mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan.

Dia juga berkhotbah dalam menentang kawin paksa serta mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa.

Nyai Ahmad Dahlan berpendapat bahwa posisi perempuan sebagai mitra suami mereka, bukan seperti tradisi masyarakat Jawa yang patriarki. (1)

Adapun beberapa upaya yang dijalankan oleh organisasi Aisyiyah, diantaranya:

• Mengajarkan dan mengadakan dakwah Islam

• Memajukan pendidikan pengajaran

• Menghidupkan masyarakat tolong-menolong

• Memelihara dan memakmurkan tempat-tempat ibadah dan wakaf

• Mendidik dan mengasuh anak-anak dan kaum muda perempuan supaya kelak menjadi putri Islam yang berarti

• Mengadakan siaran penerbitan. (2)

Baca: Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA)

Baca: Universitas Muhammadiyah Sorong (UM Sorong)

  • Sepeninggalan Ahmad Dahlan #


Usai kematian suaminya pada tahun 1923, Nyai Ahmad Dahlan melanjutkan kontribusinya di organisasi Muhammadiyah dan Aisyiyah.

Pada tahun 1926, Nyai memimpin Kongres Muhammadiyah ke-15 di Surabaya, dimana ia menjadi wanita pertama yang memimpin konferensi sejenis ini.

Pada tahun 1934, ia meneruskan kiprahnya dalam memimpin Aisyiyah.

Pada masa pendudukan Jepang, tepatnya 10 September 1943, ia tidak diperbolehkan bekerja dengan perempuan oleh Ordo Militer Jepang di Jawa dan Madura.

Ia bekerja di sekolah dan berjuang menjaga siswanya agar tidak dipaksa untuk menyanyikan lagu-lagu Jepang.

Semasa Revolusi Nasional Indonesia, Siti Walidah mengelola dapur umum di rumahnya untuk para tentara.

Dirinya juga turut mempromosikan dinas militer kepada murid-muridnya.

Selain itu, ia pun ikut serta berpartisipasi dalam diskusi mengenai perang bersama Jenderal Soedirman dan Presiden Soekarno. (2)

Baca: Rasuna Said

Baca: Dewi Sartika

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)
Lahir Kauman, Yogyakarta, 3 Januari 1872
Wafat Kauman, Yogyakarta, 31 Mei 1946
Organisasi Muhammadiyah, Aisyiyah
Penghargaan Pahlawan Nasional
Suami Ahmad Dahlan


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved