Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Prof. Dr. Ir. Herman Johannes merupakan seorang cendekiawan, politikus, ilmuwan Indonesia, guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), serta pahlawan nasional Indonesia.
Herman dilahirkan di Keka, Rote, Nusa Tenggara Timur, pada 28 Mei 1912.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum (1950-1951), Rektor Universitas Gadjah Mada (1961-1966), Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) tahun 1966-1979, hingga sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI (1968-1978).
Pada tahun 1961-1966, Herman pernah menjabat sebagai Rektor Universitas Gadjah Mada.
Kemudian, ia menjabat sebagai koordinator Perguruan Tinggi (Koperti) pada 1966 sampai 1979.
Selain itu, Herman juga aktif dalam bidang politik dengan kiprahnya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) RI tahun 1968 sampai 1978.
Tak berhenti di situ, Herman juga penah menjadi peracik bom pada masa Agresi Militer Belanda I dan II.
Prof. Dr. Ir. Herman Johannes meninggal dunia di Yogyakarta pada 17 Oktober 1992 ketika usianya 80 tahun. (1) (2)
Baca: Agresi Militer Belanda I
Kehidupan Pribadi #
Herman Johannes menimba studinya di sekolah dasar dan menengah di Kupang, Makassar, dan Jakarta.
Berkat prestasinya selama di AMS (setingkat SMA), ia pun mendapat beasiswa untuk berkuliah di Technische Hogeschool (THS) atau Sekolah Tinggi Teknik di Bandung.
Namun, THS dan beberapa perguruan tinggi lainnya harus ditutup akibat masa pendudukan Jepang di tanah air.
Oleh karena itu, pada tahun 1946 Herman baru berhasil mendapat gelar insinyur.
Selama menempuh perkuliahan, Herman ikut terlibat dalam beberapa kegiatan organisasi.
Ia bersama teman-temannya mendirikan Timorsche Jongeren yang ia ketuai sendiri, yang kemudian berganti nama menjadi Perserikatan Kebangsaan Timor (PKT).
Tujuan organisasi PKT tersebut adalah memajukan masyarakat Timor.
Tak hanya pandai berorganisasi, sosok Herman sebagai ilmuwan juga mulai terlihat ketika kuliah.
Ia sering menulis karangan ilmiah yang dimuat dalam majalah De Ingeniur in Nederlandsche Indie dan mendapat perhatian serta pujian dari berbagai kalangan akademisi. (2)
Baca: Jong Sumatranen Bond
Kiprah #
Pada 4 November 1946, Herman mendapatkan surat perintah yang ditandatangani Kapten Kavaleri Soerjosoemarno.
Isinya meminta Herman melapor kepada Markas Tertinggi Tentara di Yogyakarta.
Herman rupanya diminta untuk membangun sebuah laboratorium persenjataan bagi TNI, berhubung kala itu pemerintah Indonesia sedang mengalami krisis persenjataan.
Herman pun menerima permintaan tersebut, tetapi dengan satu syarat, yakni apabila laboratorium sudah berdiri dan berproduksi, penanganannya harus dilanjutkan oleh orang lain karena dirinya ingin melanjutkan kariernya di bidang pendidikan.
Selama perang kemerdekaan, di bawah komando Herman, laboratorium persenjataan yang terletak di Sekolah Menengah Tinggi Kotabaru ini berhasil memproduksi berbagai bahan peledak.
Kemampuan yang dimiliki Herman sebagai seorang fisikawan dan kimiawan dapat berguna untuk memblokade gerak pasukan Belanda selama Agresi Militer Belanda I dan II.
Pada Desember 1948, Letnan Kolonel Soeharto sebagai Komandan Resimen XXII TNI meminta Herman memasang bom di jembatan kereta api Sungai Progo.
Herman diketahui memahami teori jembatan ketika bersekolah di THS Bandung sehingga dinilai mampu membantu pasukan Resimen XXII mengebom jembatan tersebut.
Herman juga pernah meledakkan Jembatan Bogem di atas Sungai Opak.
Satu per satu jembatan antara Yogya-Solo dan Yogya-Kaliurang pun bisa ia hancurkan bersama para taruna Akademi Militer.
Pengalamannya dalam bergerilya tersebut menjadikannya turut serta dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menyerbu Yogyakarta. (2)
Baca: Serangan Umum 1 Maret 1949
Baca: Serangan Umum Surakarta
Karier #
Kepiawainnya dalam berbagai bidang mengantarkannya sebagai seorang pemimpin sekaligus pendidik dalam beraneka jenis pekerjaan.
Berikut adalah riwayat karier Herman Johannes yang perah ia tekuni.
Pekerjaan
• Guru, Cursus tot Opleiding van Middelbare Bouwkundingen (COMB), Bandung, 1940
• Guru, Sekolah Menengah Tinggi (SMT), Jakarta, 1942
• Dosen Fisika, Sekolah Tinggi Kedokteran, Salemba, Jakarta, 1943
• Lektor, Sekolah Tinggi Teknik (STT) Bandung di Yogyakarta, 1946–1948
• Mahaguru, STT Bandung di Yogyakarta, Juni 1948
• Dekan Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta, 1951–1956
• Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Alam (FIPA) UGM, Yogyakarta, 1955–1962
• Rektor, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, 1961–1966[5]
• Koordinator Perguruan Tinggi (Koperti), DIJ-Jateng, 1966–1979
• Ketua, Regional Science and Development Center (RSDC), Yogyakarta, 1969
Karier Militer
• Kepala Laboratorium Persenjataan, Markas Tertinggi Tentara, Yogyakarta, 1946
• Anggota Pasukan Akademi Militer Yogyakarta, Sektor Sub-Wehrkreise 104, Desember 1948–Juni 1949
• Dosen, Akademi Militer Yogyakarta, 1946–1948
• Pangkat terakhir: Mayor TNI, 1949
• Komandan Resimen Mahakarta, 1962–1965
Karier Lainnya
• Anggota, Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), 1945–1946
• Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga RI, 1950–1951
• Anggota Executive Board UNESCO, Paris, 1954-1957
• Anggota Dewan Nasional, 1957–1958
• Anggota Dewan Perancang Nasional (Deppernas), 1958–1962
• Anggota, Dewan Pertimbangan Agung RI (DPA RI), 1968–1978
• Anggota Komisi Empat (Tim Pemberantasan Korupsi), 1970
• Anggota, Panitia Istilah Teknik, Departemen Pekerjaan Umum RI, 1969–1975
• Anggota, Majelis Bahasa Indonesia-Malaysia (MABIM), 1972–1976
• Anggota Pepunas Ristek, Jakarta, 1980–1985
• Anggota Dewan Riset Nasional, 1985–1992
Organisasi
• Christen Studenten Vereniging (CSV), Bandung, 1934
• Indonesische Studenten Vereniging (ISV), Bandung, 1934
• Timorese Jongeren/Ketua Perkumpulan Kebangsaan Timor (PKT), Bandung, 1934
• Anggota, Angkatan Muda Pegawai Republik Indonesia (AMPRI), Jakarta, 1945
• Ketua, Gerakan Rakyat Indonesia Sunda Kecil (GRISK), 1947
• Partai Indonesia Raya 1948
• Ketua, Yayasan Hatta, 1950–1992
• Pernah menjadi Ketua Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA), 1958-1961, 1973-1981[6]
• Pernah menjadi Ketua Legiun Veteran Yogyakarta
• Pernah menjadi pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Pusat
• Anggota Persatuan Insinyur Indonesia (PII) (1)
Penghargaan #
Herman Johannes menutup usia pada tanggal 17 Oktober 1992 akibat kanker prostat ia dideritanya.
Jenazahnya kemudian dikebumikan di Pemakaman Keluarga UGM di Sawitsari, Yogyakarta.
Sebagai bentuk mengenang jasa-jasanya, ia pun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2009.
Sebelumnya, ia juga mendapat penghargaan berupa Bintang Gerilya dari pemerintah RI pada tahun 1958 silam.
Kemudian, pada 19 Desember 2016, Pemerintah RI mengabadikan gambarnya pada pecahan uang logam rupiah baru, yakni pecahan Rp100.
Selain beberapa penghargaan tersebut, sejumlah penghargaan lainnya yang ia terima.
• Bintang Gerilya, 1958
• Satya Lencana Perjuangan Kemerdekaan, 1961
• Satya Lencana Wirakarya, 1971
• Bintang Mahaputra, 1973
• Doktor Honoris Causa, UGM, 1975
• Bintang Legiun Veteran RI, 1981
• Anugerah Sri Sultan Hamengkubuwono IX, 1991
• Pahlawan Nasional, 2009. (1) (2)
Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Baca: APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)
(TribunnewsWiki.com/Septiarani)
| Nama | Herman Johannes |
|---|
| Lahir | Rote, NTT, 28 Mei 1912 |
|---|
| Wafat | Yogyakarta, 17 Oktober 1992 |
|---|
| Profesi | Politikus, ilmuwan |
|---|
| Jabatan | Menteri Pekerjaan Umum dan Rekonstruksi Indonesia ke-7, Rektor Universitas Gadjah Mada Ke-2 |
|---|