Serangan Umum Surakarta

Serangan Umum Surakarta atau bisa juga disebut Serangan Umum Empat Hari adalah serangan gerilya yang dilakukan oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa yang kemudian dikenal dengan tentara pelajar.


zoom-inlihat foto
Taman-Banjarsari-Monumen-Banjarsari-Surakarta.jpg
TribunVideo
Taman Banjarsari yang bisa disebut juga Monumen Banjarsari merupakan sebuah taman yang dibangun untuk memperingati peristiwa bersejarah di kota Surakarta, yakni serangan umum Surakarta.

Serangan Umum Surakarta atau bisa juga disebut Serangan Umum Empat Hari adalah serangan gerilya yang dilakukan oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa yang kemudian dikenal dengan tentara pelajar.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Serangan Umum Surakarta atau bisa juga disebut Serangan Umum Empat Hari adalah serangan gerilya yang dilakukan oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa yang kemudian dikenal dengan tentara pelajar.

Berlangsung pada tanggal 7 -10 Agustus 1949, para tentara pelajar ini berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Surakarta dan sekitarnya.

Dalam catatan sejarah, serangan tersebut digagas di kawasan Monumen Banjarsari, Surakarta.

Penyusunan strategi penyerangan dilakukan di Desa Wonosido, Kabupaten Sragen, dimana para pejuang berkumpul.

Mereka yang melakukan serangan bergabung dalam Detasemen II Brigade 17 Surakarta yang dipimpin oleh Mayor Achmadi.

Untuk menggempur markas penjajah, serangan dilakukan dari empat penjuru kota Surakarta, yakni Rayon I dari Polokarto dipimpin Suhendro, Rayon II dipimpin Sumarto, Rayon III dengan komandan Prakosa, Rayon IV dikomandani A Latif (almarhum), serta Rayon Kota dipimpin oleh Hartono.

Di tengah-tengah pertempuran, Slamet Riyadi dengan pasukan Brigade V/Panembahan Senopati ikut serta dan menjadi tokoh kunci dalam menentukan jalannya pertempuran.

Tugu 45 Banjarsari, Surakarta, untuk mengenang Serangan Umum Surakarta
Tugu 45 Banjarsari, Surakarta, untuk mengenang Serangan Umum Surakarta (TRIBUNSOLO.COM/LABIB ZAMANI)

Gagalnya Tentara Kerajaan Belanda dalam mempertanhan Kota Surakarta menyurutkan keyakinan Parlemen Belanda atas kinerja tentaranya.

Perdana menteri Drees akhirnya terpaksa mengakomodasi tuntutan delegasi Indonesia sebagai syarat sebelum mereka bersedia menghadiri Konferensi Meja Bundar. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Tentara Pelajar

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : Konferensi Meja Bundar

  • Latar Belakang #


Pada awal Agustus 1949, Panglima Divisi II Surakarta, Kolonel Gatot Subroto jatuh sakit.

Kondisi di Surakarta semakin menegangkan usai mengetahui pihak Belanda di bawah pimpinan Letnan van Heek menyerang markas Kolonel Gatot Subroto hingga hancur.

Letnan van Heek menggelar operasi militer dengan kode "steenwijk" dengan fokus utamanya ialah pusat gerilya di Desa Balong, tempat persembunyian pemancar radio republik.

Namun, Gatot Subroto bersama pasukannya telah lebih dulu berhasil meninggalkan markas sebelum serangan terjadi.

Insiden tersebut akhirnya menyulut kemarahan anak buahnya, sehingga membuat Mayor Achmadi, komandan Detasemen Tentara Pelajar Brigade XVII dan Sub Wehrkreise (SWK) 106 Ardjuna, ingin balas dendam.

Serangan balas dendam tersebut rencananya dilakukan pada 7 Agustus 1949, dengan fokus utama merebut posisi strategis, sebelum Jenderal Soedirman memerintah untuk memberhentikan baku tembak.

Selain sebagai serangan balas dendam, Serangan Umum ini juga didasari atas keinginan para pejuang kemerdekaan untuk menunjukkan bahwa Indonesia masih ada dan kuat. (2)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Gatot Subroto

Baca: Monumen Mayor Achmadi

  • Peristiwa Serangan Umum #


Pada tanggal 7 Agustus 1949 pukul 06.00, Serangan Umum Surakarta dimulai.

Pasukan SWK 106 Ardjuna mulai menyusup dan menguasai perkampungan di Surakarta, disusul dengan terhadap Belanda oleh pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari semua penjuru.

Pada 8 Agustus 1949, pertempuran terjadi hingga tengah malam dengan dibantu TNI yang menyerang dengan memasang berbagai rintangan di jalan sekitas Pasar Kembang.

Namun, rencana ini telah diketahui oleh Belanda, sehingga sebanyak 26 orang ditangkap Belanda, termasuk wanita dan anak-anak, lalu membunuh 24 dari mereka.

Semakin hari kondisi Belanda semakin terdesak. Pesawat Dakota milik Belanda juga ditembaki ketika hendak mendarat di Landasan Udara Panasan (Bandara Adi Soemarmo).

Pada 10 Agustus 1949, Slamet Riyadi bersama pasukannya, Brigade V, melancarkan aksinya yang disebut sebagai Afscheidsaanval atau serangan perpisahan.

Serangan tersebut benar-benar menjadi serangan perpisahan, terbukti pada 11 Agustus 1949, keduanya memutuskan untuk melakukan gencatan senjata. (2)

Baca: Gencatan Senjata

  • Penyelesaian #


Namun, rupanya genjatan senjata tersebut teidak ditepati oleh Belanda.

Belanda tetap melakukan penyerangan pada 11 Agustus 1949, dengan menyerang warga di beberapa lokasi yang mengakibatkan beberapa penduduk sipil tewas, yakni di Sambeng 32 orang tewas, Pasar Nongko 67 tewas, Serengan 47 tewas, Padmonegaran Gading 21 tewas, dan Pasar Kembang 24 tewas.

Pada siang harinya, Kolonel van Ohl mewakili Belanda melakukan perundingan bersama Slamet Riyadi, dimana Belanda meminta Indonesia untuk menarik mundur pasukannya sampai batas kota serta barikade juga harus dibersihkan.

Usai mendapatkan keputusan, urusan keamanan kota kemudian diserahkan kepada Mayor Achmadi selaku Komando Militer Kota Solo, tanggal 24 Agustus 1949. (2)

Baca: Taman Banjarsari (Monumen Banjarsari)

  • Pengaruh #


Serangan Umum Tentara Pelajar Surakarta (DETASEMEN-II / BRIGADE-17 TNI), pada 8 Februari 1949, 2 Mei 1949 dan 7 – 10 Agustus 1949 terbukti berhasil memperkuat posisi tawar politik perjuangan diplomasi delegasi Republik Indonesia di Konferensi Meja Bundar (KMB), Den Haag.

Hal itu berdampak dicapainya Kedaulatan Republik Indonesia 27 Desember 1949 yang dapat berdampingan dengan Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945.

Hal tersebut dikarenakan kesadaran Belanda bahwa mereka tidak mungkin menang secara militer, mengingat Surakarta merupakan kota yang pertahanannya terkuat kala itu.

Serta berhasil dikuasai oleh TNI yang padahal secara peralatan lebih tertinggal, namun karena dukungan penuh oleh rakyat serta dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Brigadir Jenderal Slamet Riyadi

Baca: Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

(TribunnewsWiki.com/Septiarani)



Nama Serangan Umum Surakarta
Tanggal 7 -10 Agustus 1949
Lokasi Surakarta, Jawa Tengah
Tokoh Pakubuwana XII, Kolonel Gatot Subroto, Letkol Slamet Riyadi, Mayor Achmadi
   


Sumber :


1. id.wikipedia.org
2. www.kompas.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved