Kemenkes Sebut WHO Belum Rekomendasikan Vaksin Dosis Ketiga

Belum ada data ilmiah yang lengkap untuk melihat efek antibodi yang ditimbulkan dari pemberian vaksin dosis ketiga itu.


zoom-inlihat foto
seorang-pekerja-medis-menunjukkan-jarum-suntik-dengan-vaksin-biotek-sinovac.jpg
STR / AFP
Seorang pekerja medis menunjukkan jarum suntik dengan vaksin Biotek Sinovac melawan virus korona COVID-19 di pusat perawatan kesehatan di Yantai, di provinsi Shandong, China timur pada 5 Januari 2021.


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memberikan pernyataan soal pemberian vaksin dosis ketiga bagi pada dokter dan tenaga kesehatan.

Juru Bicara vaksinasi Covid-19 dari Kemenkers, Siti Nadia Tarmisi menyebut saat ini Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum merekomendasikan vaksin dosis ketiga.

Akan tetapi pemerintah tengah berupaya untuk mempercepat vaksinasi covid-19 dengan target 2 juta dosis penyuntikan.

"Yang kedua, ini tentu perlunya suatu kajian ilmiah yang sudah memang sudah publikasi, seperti apa vaksin diberikan? Jangka waktunya berapa lama?" kata Nadia dalam diskusi secara virtual, Kamis (1/7/2021).

Nadia mengatakan, produsen vaksin Sinovac sempat melakukan penelitian terkait pemberian vaksin dosis ketiga.

Baca: Hendak Pergi ke Luar Kota Selama PPKM Darurat? Wajib Tunjukkan Kartu Vaksin Covid-19

Baca: Pendaftaran Vaksinasi Covid-19 Massal Bisa lewat Laman Vaksin.loket.com Mulai Hari Ini

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020).
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi dalam konferensi pers di Kantor Kemenkes, Kuningan, Jakarta Pusat, Rabu (11/3/2020). (KOMPAS.com/Dian Erika)

Namun belum ada data ilmiah yang lengkap untuk melihat efek antibodi yang ditimbulkan dari pemberian vaksin dosis ketiga itu.

"Jadi sampai sekarang kita belum ada kebijakan terkait penambahan dosis ketiga ini, dikarenakan juga memang secara rekomendasi dari ITAGI kita juga belum mendapatkan," ujar dia.

Namun, Nadia mengatakan, tak menutup kemungkinan dalam perkembangan bukti-bukti ilmiah pemberian vaksin dosis ketiga bisa dilakukan.

"Kalau memang sudah ada tentunya akan terbuka ya untuk memasukkan seperti ini," kata dia.

Sebelumnya diberitakan Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Slamet Budiarto mengungkapkan beberapa dokter yang meninggal dunia itu setelah mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Baca: Alasan Belasan TKA China Tak Dapat Vaksin Covid-19 di Rangkasbitung, Jubir Covid: Tak Punya KTP

Baca: Jokowi Umumkan Vaksinasi Covid-19 bagi Anak Usia 12-17 Tahun Segera Dimulai

Petugas medis melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warga Rusun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Senin (14/6/2021). Pemerintah menargetkan ada 7,5 juta vaksinasi warga di Jakarta pada akhir Agustus mendatang. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai?herd immunity (kekebalan komunal) sehingga penyebaran Covid-19 dapat ditekan. Tribunnews/Herudin
Petugas medis melakukan vaksinasi Covid-19 kepada warga Rusun Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, Senin (14/6/2021). Pemerintah menargetkan ada 7,5 juta vaksinasi warga di Jakarta pada akhir Agustus mendatang. Hal tersebut dilakukan untuk mencapai?herd immunity (kekebalan komunal) sehingga penyebaran Covid-19 dapat ditekan. Tribunnews/Herudin (Tribunnews/Herudin)

Namun, Slamet tak menyebutkan secara detail berapa jumlah dokter yang meninggal akibat Covid-19 meski sudah divaksinasi.

"Ini sebagian besar dokter yang meninggal sudah divaksin dua kali, artinya ini terkait efikasi vaksin," kata Slamet dalam diskusi secara virtual, Selasa (29/6/2021).

Dikutip dari Kompas.com, Slamet berharap pemerintah mengambil kebijakan agar para dokter dan tenaga kesehatan mendapatkan vaksin Covid-19 dosis ketiga atau booster.

Sehingga, jika dokter dan nakes terpapar Covid-19 akan mengalami gejala ringan.

"Jadi ini diupayakan melindungi dokter dan tenaga kesehatan agar tidak terinfeksi," ujarnya.

Lebih lanjut, Slamet meminta, jaminan ruang isolasi dan ruang ICU apabila dokter dan tenaga kesehatan terpapar Covid-19.

Baca: Covid-19 Varian Delta Merebak, 8 Negara Ini Malah Sudah Terapkan Aturan Bebas Masker

Baca: Kenali Gejala Virus Covid-19 Varian Lambda, Waspadai Suhu Tinggi dan Batuk Berulang

Tenaga kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech saat pelaksanaan vaksin untuk tenaga medis di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (14/1/20210). Vaksinasi tahap awal akan menargetkan 1,48 juta tenaga kesehatan yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Februari 2021.
Tenaga kesehatan menunjukkan vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech saat pelaksanaan vaksin untuk tenaga medis di RS Siloam Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (14/1/20210). Vaksinasi tahap awal akan menargetkan 1,48 juta tenaga kesehatan yang dijadwalkan berlangsung dari Januari hingga Februari 2021. (KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMO)

Sebab, kata dia, selama ini banyak dokter yang kesulitan mendapatkan tempat tidur di rumah sakit sehingga penanganannya terlambat.

"Bahkan ketua IDI kami di cabang meninggal karena kesulitan mencari RS dan kemudian akhirnya dapat RS tapi terlambat akhirnya meninggal dunia.

Jadi kami mohon pemerintah lebih melindungi dokter dan nakes," pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, LaporCovid-19 mendata ada 1.026 tenaga kesehatan yang gugur akibat Covid-19.

Adapun data tersebut dihimpun sejak awal pandemi hingga 28 Juni 2021 pukul 13.00 WIB.

"Iya (angka 1.026) akumulasi," kata Inisiator LaporCovid-19 Irma Hidayana, Selasa (29/6/2021).

Simak ertikel lainnya mengenai vaksinasi covid-19 di sini

(Tribunnewswiki.com/Saradita, Kompas.com)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved