Alasan Kuliner Papua Tak Ada yang Digoreng dan Manfaatnya bagi Tubuh

Kuliner khas Papua tidak mengenal proses menggoreng dalam pengolahannya. Namun, justru hal itu yang membuat kandungan gizi makanan terjaga dengan baik


zoom-inlihat foto
warga-papua.jpg
Kompas.com
Warga bersama-sama mengangkat batu untuk mengambil makanan yang dimasak dengan bakar batu di Lapangan Trikora, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, Kamis (15/9/2016). Tradisi bakar batu merupakan salah satu tradisi terpenting di Papua yang berfungsi sebagai tanda rasa syukur, menyambut tamu, atau acara perdamaian setelah perang antar suku.


Wisatawan pun tak jarang penasaran untuk menjajal buah pengganti rokok ini.

Tradisi menginang, atau menikmati pinang di Papua sudah berjalan turun temurun sejak berabad-abad yang lalu.

Tidak hanya menjaga kesehatan gusi dan gigi, pinang dan sirih juga menjadi lambang keakraban dan persaudaraan bagi warga Papua.

Baca: Bahaya Mengintai Jika Langsung Sikat Gigi Setelah Makan

Baca: 6 Kiat Sederhana untuk Jaga Kesehatan, Sikat Gigi dengan Baik hingga Rutin Baca Buku

Baca: Pengakuan Perias TKW Taiwan yang Tipu Pacar TKI Korea: Bau Mulutnya Itu Lho Sampai Saya Minta Masker

Tidak heran jika ada perhelatan besar, seperti pernikahan atau kematian, pinang menjadi suguhan yang wajib disediakan oleh si empunya acara.

Selain berfungsi sebagai “pasta gigi”, pinang juga menjadi santapan pencuci mulut selepas makan makanan utama.

Ini bisa disejajarkan dengan makan buah pencuci mulut.

Orang malah bilang kalau pinang adalah permennya orang Papua.

Lebih dari itu, mengunyah pinang bagi masyarakat Papua adalah sebuah simbol dan bukti kecintaan terhadap tanah Papua.

Jadi, jika berlibur ke Papua, jangan lewatkan pengalaman mengunyah pinang.

Mengunyah Pinang, kegemaran orang Papua.
Mengunyah Pinang, kegemaran orang Papua. (Kompas.com)

Ada yang berbeda dari cara makan pinang masyarakat Papua dengan masyarakat lainnya di Indonesia.

Seperti diketahui, menginang juga menjadi tradisi di banyak daerah di Nusantara.

Di Jawa, Sumatera, atau daerah lain, masyarakat biasanya akan mengunyah pinang yang sudah dikeringkan atau biji pinangnya saja.

Di Papua, mereka justru makan pinang yang masih mentah.

Harap diingat, kulit yang dikupas itu bukan untuk dibuang.

Setelah mendapatkan daging buahnya, kulit harus tetap dikunyah.

Bagi warga Papua, kulit pinang berfungsi untuk membuat kesat daging saat dikunyah.

Selain itu, dengan mengunyah kulitnya, rasa pinang menjadi tidak pahit.

Mereka biasanya akan membuang ludah hasil kunyahan pertama hingga ketiga.

Secara ilmiah memang tidak jelas fungsinya.

Baca: Cakwe (Makanan Tradisional Tionghoa)

Baca: Lontong Balap

Baca: Soto Lamongan

Baca: Soto Gading

Namun menurut masyarakat Papua, jika air ludah dari kunyahan pertama ini ditelan akan mengakibatkan si pengunyah pusing dan muntah.

Setelah tiga kali mengunyah, barulah daging pinang berikutnya dicocol ke kapur sirih dan kemudian dikunyah kembali.

Cara makan pinang khas Papua ini dipercaya lebih bersahabat bagi kita yang kebanyakan belum pernah menginang.

Sensasi segar dan manis akan membuncah di mulut.

Bahkan, kadang juga membuat kita ingin menjajalnya lagi dan lagi.

Akan tetapi jika Anda ingin mencobanya harap diperhatikan, sangat tidak dianjutkan menginang di tempat-tempat umum, seperti restoran, toilet umum, atau bandara.

Sebab, aroma pinang yang kuat itu akan menyebar dan mulut akan berwarna merah.

(Tribunnewswiki.com/Kompas.com/Haris/Syifa Nuri)





Penulis: Haris Chaebar
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved