TRIBUNNEWSWIKI.COM - Konflik antara Ukraina dan Rusia memunculkan kekhawatiran terjadinya perang nuklir.
Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu mengancam akan menggunakan semua senjata yang dimiliki oleh negaranya.
Salah satu sekutu dekat Putin, yakni Ramzan Kadyrov, bahkan sempat menyarankan Rusia untuk menggunakan senjata nuklir berukuran kecil
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS) mengatakan dunia kini menghadapi ancaman "Armageddon" atau bencana yang amat besar.
Melansir pemberitaan Newsweek, (15/10/2022), ancaman perang nuklir saat ini merupakan yang terbesar atau bahkan pertama kalinya sejak Krisis Rudal Kuba tahun 1962.
Krisis tersebut berawal dari penemuan fasilitas peluncuran rudal Uni Soviet di Kuba oleh CIA. Presiden AS saat itu, John F. Kennedy, meresponsnya dengan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk memblokade Kuba.
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Soviet, Nikita Khruschev, mencela tindakan AS itu. Adapun Perdana Menteri Kuba, Fidel Castro, meminta Rusia untuk berjanji membantu Kuba apabila negara itu diinvasi.
Baca: Apa yang Akan Dilakukan Barat jika Rusia Kerahkan Senjata Nuklir?
Saat krisis itu terjadi, torpedo nuklir juga hampir dilepaskan oleh sebuah kapal selam Soviet di Atlantik. Beruntungnya, seorang perwira Soviet menolak melepaskannya.
Perang nuklir akhirnya bisa dihindari. Kedua negara adidaya itu sepakat untuk menyelesaikan perselisihan secara damai dan menarik senjata pemusnah massal.
Baca: Intelijen Inggris: Belum Ada Tanda Rusia Bakal Gunakan Senjata Nuklir
Sepanjang Perang Dingin, AS dan Soviet tidak pernah terlibat dalam konflik langsung. Kendati demikian, kedua negara itu terlibat dalam perang proksi, misalnya dalam konflik di Afganistan tahun 1980-an.
Kini AS dan Rusia terlibat konflik tidak langsung karena persoalan Ukraina. Rusia menganggap Ukraina sebagai ancaman karena ingin menjadi anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara.
Pada bulan Februari lalu Putin memerintahkan kampanye militer terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II. Putin menegaskan apa yang dilakukannya bukan invasi. Menurutnya, Rusia hanya melakukan "operasi militer khusus".
Putin berulang kali menegaskan bahwa dia punya hak untuk menggunakan senjata nuklir demi melindungi integritas wilayah negaranya. Biden menganggap apa yang disampaikan Putin bukan sekadar gertakan.
Baca: Jika Gunakan Senjata Nuklir, Rusia Disebut Bakal Ditinggalkan Sekutunya
"Pikirkan tentang itu: Kita belum pernah menghadapi ancaman Armageddon sejak Kennedy dan Krisis Rudal Kuba," kata Biden kepada Komite Penyambutan Senator Demokrat pekan lalu, dikutip dari Newsweek.
Seorang juru bicara Gedung Putih buka suara mengenai pernyataan Biden.
"Komentar Biden menegaskan betapa seriusnya kami dalam menghadapi ancaman senjata nuklir ini, seperti yang pernah kita lakukan ketika Rusia mengeluarkan ancaman ini selama konflik itu," kata juru bicara Gedung Putih.
NATO telah memperingatkan dampak besar yang bakal terjadi apabila Rusia nekat menggunakan senjata nuklir. Sementara itu, beberapa waktu lalu intelijen Inggris mengatakan belum ada tanda-tanda Rusia akan mengerahkan senjata nuklir.
Baca: TV Rusia Sebut Pemakaman Ratu Jadi Waktu yang Tepat untuk Menuklir Inggris
(Tribunnewswiki)
Baca berita lain tentang nuklir di sini