AS Janjikan Lebih Banyak Bantuan untuk Ukraina yang Dilanda 'Badai Putin'

Senator Amerika Serikat mengatakan Ukraina saat ini menghadapi "Badai Putin".


zoom-inlihat foto
Tentara-Ukraina-Kharkiv.jpg
JUAN BARRETO / AFP
Tentara Ukraina duduk di atas sebuah tank di Kota Izium, Kharkiv, Ukraine timur, (14/9/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Anggota DPR Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat dan Republik mengaku ingin terus membantu Ukraina melawan Rusia.

Mereka berusaha mengirimkan lebih banyak bantuan keuangan dan senjata kepada negara bekas Uni Soviet itu.

"Kita belum memenangkan [perang] ini. Kita harus terus membantu rakyat Ukraina," kata Bob Menendez, politikus Partai Demokrat, (29/9/2022), dikutip dari Sky News.

Senat AS telah meloloskan RUU yang mendanai pemerintah Federal hingga 16 Desember serta pengiriman bantuan militer dan ekonomi senilai $12,3 miliar atau Rp186 triliun untuk Ukraina.

RUU ini diperkirakan disahkan oleh DPR pada hari Jumat ini. DPR juga akan mengizinkan Presiden AS Joe Biden untuk menarik dana $3,7 miliar atau Rp56,2 triliun demi pengiriman senjata ke Ukraina.

Baca: Hampir 100.000 Warga Rusia Kabur ke Kazakhstan untuk Hindari Mobilisasi

Lindsey Graham, senator dari Partai Republik, mengatakan dia ingin "mengirimkan sinyal yang sangat jelas" bahwa akan ada lebih banyak bantuan yang dikirim ke Ukraina.

"Ini adalah momen yang mementukan bagi dunia ini dalam hal integritas wilayah," kata Graham dalam konferensi pers. Dalam konferensi itu dia mengaku mengusulkan RUU yang akan mengurangi bantuan AS kepada negara-negara yang mengakui aneksasi terhadap wilayah Ukraina.

"Kita menghadapi 'Badai Putin'," kata Graham untuk menyinggung Presiden Rusia Vladimir Putin. AS sendiri kini sedang menghadapi Badai Ian yang melanda pantai timurnya.

Baca: Hasil Referendum di Ukraina: Mayoritas Warga Ingin Bergabung dengan Rusia

Aneksasi

Putin diperkirakan segera mengumumkan aneksasi empat wilayah Ukraina, yakni Donetsk, Luhansk, Zaporizhzhia, dan Kherson.

Sebelumnya, telah ada referendum di keempat wilayah itu. Moskwa mengklaim mayoritas warga di sana ingin bergabung dengan Rusia.

"Hasilnya sudah jelas. Selamat datang di rumah, di Rusia!" kata Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang saat ini menjabat sebagai Wakil Dinas Keamanan Rusia, dikutip dari Reuters.

Baca: Banyak Warganya Kabur dari Mobilisasi, Rusia Belum Menutup Perbatasan

Seorang wanita memasukkan surat suaranya ke dalam kotak, di Mariupol, Ukraina, (27/9/2022). Referendum digelar di sejumlah wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.
Seorang wanita memasukkan surat suaranya ke dalam kotak, di Mariupol, Ukraina, (27/9/2022). Referendum digelar di sejumlah wilayah Ukraina yang diduduki Rusia. (STRINGER / AFP)

Namun, referendum ini dikecam oleh Ukraina dan sekutunya karena hanya dianggap sebagai aksi "tipu-tipu".

Rusia membantah tudingan Ukraina, dan mengatakan bahwa referendum itu sudah sesuai dengan hukum internasional. Sebelumnya, Rusia pernah mengadakan referendum untuk menganeksasi wilayah Krimea tahun 2014 silam. Namun, referendum itu tidak diakui dunia.

Sementara itu, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy kini giat mencari dukungan internasional untuk melawan aneksasi yang dilakukan Rusia. Dia bahkan menelepon beberapa pemimpin negara/pemerintahan, termasuk pemimpin Inggris, Kanada, Jerman, dan Turki.

"Terima kasih atas dukungan Anda yang nyata dan tegas. Terima kasih karena telah memahami posisi kami," kata Zelenskiy melalui pesan video.

Baca: Sekutu Putin: NATO Bakal Ketakutan jika Rusia Lancarkan Serangan Nuklir

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Ukraina di sini.







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved