Banyak Warganya Kabur dari Mobilisasi, Rusia Belum Menutup Perbatasan

Rusia belum memutuskan apakah akan menutup perbatasan untuk menghentikan aksi kabur dari mobilisasi.


zoom-inlihat foto
kebijakan-mobilisasi.jpg
OLGA MALTSEVA / AFP
Polisi menahan para pengunjuk rasa yang memprotes kebijakan mobilisasi, Saint Petersburg, Rusia, (21/9/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Banyak warga Rusia melarikan diri ke luar negeri demi menghindari kebijakan mobilisasi.

Namun, hingga kini Rusia belum memutuskan apakah akan menutup perbatasan untuk menghentikan aksi kabur itu.

"Saya belum tahu apa pun tentang ini. Saat ini belum ada keputusan yang diambil," kata Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, ketika ditanya tentang rencana penutupan perbatasan, dikutip dari Reuters.

Pekan lalu Presiden Rusia Vlaidmir Putin sudah mengumumkan kebijakan "mobilisasi sebagian". Namun, kebijakan itu banyak ditentang oleh warga Rusia.

Tiket penerbangan untuk pergi dari Rusia dilaporkan ludes terjual. Sementara itu, terjadi kemacetan di dekat berada perbatasan antara Georgia dan Rusia. Georgia menjadi menjadi tujuan banyak warga Rusia karena mereka tidak perlu membawa visa.

Baca: Protes Antimobilisasi di Rusia Berlanjut, Ratusan Orang Ditangkap

Sergei Tsekov, seorang anggota dewan di Rusia yang mewakili daerah Krimea, buka suara mengenai hal ini.

"Setiap orang yang sudah memasuki usia wajib militer seharusnya dilarang pergi ke luar negeri pada kondisi saat ini," kata Tsekov kepada kantor berita RIA.

Baca: Di Bar Ini, Warga Rusia yang Lari dari Mobilisasi Harus Tanda Tangani Formulir Anti-Putin

Dua media berbahasa Rusia, Meduza dan Novaya Gazeta Europe, melaporkan bahwa Rusia sudah berencana melarang warganya pergi ke luar negeri. Laporan ini bersumber dari ucapan beberapa pejabat.

Kebijakan mobilisasi diprotes oleh warga Rusia. Diperkirakan sudah ada 2.000 orang yang ditahan karena berunjuk rasa menentang mobilisasi.

Rusia menganggap orang-orang yang telah menjalani wajib militer sebagai tentara cadangan. Menurut perkiraan, Rusia bisa mengerahkan 300.000 tentara dengan kebijakan mobilisasi.

Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, ketika akan menonton parade militer di Lapangan Merah, Moskwa, 9 Mei 2022.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, ketika akan menonton parade militer di Lapangan Merah, Moskwa, 9 Mei 2022. (KIRILL KUDRYAVTSEV / AFP)

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Inggris mengatakan puluhan ribu orang di Rusia telah menerima surat perintah untuk ikut bertempur. Mereka diperkirakan akan dikirim ke garis depan pertempuran di Ukraina.

Baca: Hindari Mobilisasi, Beberapa Warga Rusia Pilih Kabur ke Luar Negeri

"Kurangnya pelatih militer dan tergesa-gesanya Rusia dalam memulai mobilisasi menunjukkan bahwa orang-orang yang menjalani wajib militer akan dikerahkan ke garis depan dengan sedikit persiapan," kata Kemenhan Inggris.

Vladimir Solovyov, seorang pembawa acara di TV yang pro-Kremlin, mengkritik poses rekrutmen dalam mobilisasi.

Solovyov mengaku mendukung kebijakan mobilisasi. Namun, dia mengecam beberapa petugas rekrutmen karena merekrut orang yang terlalu tua.

"Bisakah kita menembak mereka [petugas rekrutmen]?" tanya dia. "Saya mendukung. Saya hanya ingin beberapa orang petugas rekrutmen di depan umum. Seret petugas itu dengan memegang telinga mereka, dan bawa mereka ke medan tempur di Donbas!"

Peskov mengakui bahwa ada beberapa kesalahan dalam pemanggilan atau rekrutmen. Namun, kesalahan itu telah diperbaiki oleh para gubernur regional dan Kementerian Pertahanan.

Baca: Lebih dari 1.200 Warga Rusia Ditangkap karena Memprotes Mobilisasi

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Rusia di sini







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved