Jika AS & Rusia Gelar Perang Nuklir, Argentina & Australia Jadi yang Paling Kuat Bertahan

Argentina dan Australia dipercaya menjadi negara yang paling bisa bertahan dari dampak perang nuklir.


zoom-inlihat foto
radiasi-nuklir-radioaktif.jpg
pixabay.com
Ilustrasi radiasi akibat perang nuklir


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jika terjadi perang nuklir antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia, Argentina dan Australia dipercaya menjadi negara yang paling bisa bertahan dari dampaknya.

Hal ini didasarkan pada analisis yang dilakukan oleh para ilmuwan mengenai dampak musim dingin akibat perang nuklir (nuclear winter).

Musim dingin itu terjadi karena langit dipenuhi oleh jelaga yang muncul setelah perang nuklir. Jelaga tersebut menghalangi cahaya matahari.

Meski ada banyak orang yang masih bisa selamat dari ledakan nuklir, mereka belum tentu selamat dari dampak tidak langsung yang timbul.

Miliaran orang diperkirakan bisa mati kelaparan dalam beberapa tahun setelah perang nuklir.

Baca: Kim Jong Un Siap Gunakan Senjata Nuklir untuk Hadapi Musuh Korut

Setiap orang paham bahwa dampak tidak langsung dari perang nuklir akan mengerikan, seperti yang kita lihat di Hiroshima dan Nagasaki," kata Profesor Alan Robock dari Universitas Rutgers, New Jersey, dikutip dari The Times.

"Penelitian kita menunjukkan bahwa ada lebih dari sepuluh kali lipat orang yang bisa meninggal di seluruh dunia karena dampaknya terhadap iklim dan pertanian."

Bahkan, perang yang lebih kecil, misalnya konflik antara Pakistan dan India bisa membuat lebih dari semiliar orang kelaparan karena kegagalan panen.

Baca: Mantan Presiden Rusia Minta AS Tak Main-Main dengan Negara Bersenjata Nuklir

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Food, para peneliti mengesampingkan dulu kematian awal yang terjadi akibat penggunaan nuklir.

Peneliti kemudian membuat model tentang dampak berkurangnya cahaya matahari dan suhu udara terhadap pertanian.

Dampak ini terjadi setelah senjata nuklir digunakan.

"Untuk pertama kalinya, kami bisa menggunakan pemodelan iklim modern dan model pertanian untuk mengukur dampak terhadap tiap negara berdasarkan makanan pokoknya, berapa jumlah impor dan ekspor mereka, dan bagaiman iklim yang mengubah dan berdampak terhadap setiap tanaman secara terpisah," kata Robovk.

"Ada berapa banyak makanan yang tersedia di sana?"

Baca: Viral Video Simulasi Serangan Nuklir Rusia Hancurkan Inggris & Irlandia Hilang dari Peta Dunia

Kapal perang Rusia, Moskva, mengikuti parade militer di dekat pangkalan Angkatan Laut Rusia di Sevastopol, 31 Juli 2011
Kapal perang Rusia, Moskva, mengikuti parade militer di dekat pangkalan Angkatan Laut Rusia di Sevastopol, 31 Juli 2011 (AFP)

Di banyak negara, jawabanya ialah jauh dari kata mencukupi. Setidaknya akan ada pengurangan kalori hingga 90 persen.

Beberapa negara seperti Australia dan Argentina, dan sebagain besar Afrika Tengah bisa mempertahankan produksi kalori.

Ini karena negara-negara itu menanam lebih banyak tanaman yang lebih resistan, misalnya gandum, dalam jumlah tinggi.

Selain itu, negara-negara itu juga memiliki jumlah penduduk yang lebih sedikit.

"Masih ada banyak hasil produksi dalam negeri untuk mereka, tetapi Anda bisa membayangkan bakal ada banyak pengungsi kelaparan dari Asia yang dalam perjalanan ke sana," kata Robock.

Baca: Media Rusia: Putin Lebih Suka Perang Nuklir daripada Terima Kekalahan di Ukraina

Dalam penelitian itu, masih diasumsikan bahwa orang-orang akan tetap mempraktikkan jenis pertanian sebelumnya.

Lalu bagaimana jika orang-orang segera mengganti jenis tanaman pertanian mereka?





Halaman
12






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved