TRIBUNNEWSWIKI.COM - Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya agar tidak main-main dengan negara pemilik senjata nuklir.
Medvedev mengatakan upaya AS menghukum negara-negara dengan senjata nuklir, seperti Rusia, justru membahayakan umat manusia.
Kini hubungan Barat dengan Rusia kembali memanas akibat perang di Ukraina.
Hubungan kedua belah pihak saat ini merupakan yang terburuk sejak Krisis Rudal Kuba tahun 1962 yang membuat dunia di ambang perang nuklir.
Menurut Medvedev, upaya Barat untuk menyeret Rusia ke pengadilan dan menyelidiki tindakan Rusia di Ukraina akan sia-sia, bahkan berisiko buruk bagi dunia.
"Ide menghukum sebuah negara yang memiliki salah satu kekuatan nuklir terbesar di dunia adalah hal konyol. Dan berpotensi memberikan ancaman terhadap umat manusia," kata Medvedev yang kini menjabat sebagai Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia, dikutip dari Reuters.
Menurut Federasi Imuwan Amerika, Rusia dan AS diperkirakan memiliki 90 persen hulu ledak nuklir di seluruh dunia.
Masing-masing memiliki sekitar 4.000 hulu ledak nuklir.
Baca: Joe Biden Sebut Putin Penjahat Perang, Minta Presiden Rusia Diadili
Ketika menjabat pada tahun 2008-2012, Medvedev sempat mencitrakan diri sebagai pejabat yang menginginkan hubungan yang lebih erat antara Rusia dan Barat.
Namun, sejak Presiden Vladimir Putin meminta "operasi militer khusus" dilakukan di Ukraina, sikap Medvedev berubah.
Bahkan, Medvedev kini mengganggap dirinya sebagai pengikut Kremlin garis keras.
Medvedev turut mengkritik pedas AS. Kata dia, sejarah Amerika penuh dengan pertumpahan darah.
AS dianggapnya sebagai sebuah kekaisaran yang menumpahkan darah di seluruh dunia.
Dia juga menyinggung pembunuhan terhadap pribumi Amerika, bom nuklir yang dijatuhkan AS di Jepang, dan sejumlah perang yang melibatkan AS.
Baca: Pejabat Tinggi PBB Minta Rusia Hentikan Perang Tak Berguna di Ukraina
Di sisi lain, beberapa waktu lalu Presiden AS Joe Biden tegas menyebut Putin penjahat perang.
Kata Biden, Putin telah melancarkan invasi ilegal ke Ukraina.
AS kemudian memasok senjata ke Ukraina dengan alasan senjata itu untuk membantu Ukraina mempertahankan diri dari Rusia.
Hingga kini Putin menolak menyebut serbuan Rusia ke Ukraina sebagai invasi.
Menurut Putin, tindakan militer Rusia di Ukraina hanyalah "operasi militer khusus" yang bertujuan mengurangi militer Ukraina dan menyingkirkan para "nasionalis yang berbahaya".
AS, kata Putin, menggunakan Ukraina untuk mengancam Rusia.
Baca: Rusia Tuding Satelit di Negara Barat Bekerja untuk Musuh alias Ukraina
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Rusia di sini