TRIBUNNEWSWIKI.COM - Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuding Amerika Serikat (AS) dan sekutunya membuat situasi politik makin panas.
AS dan sekutunya dianggap meningkatkan ketegangan dengan Rusia karena mengirimkan bantuan senjata ke Ukraina.
Padahal, Rusia berulang kali membantah adanya rencana menyerbu negara bekas Uni Soviet itu.
Kendati demikian, AS dan sekutunya tetap khawatir karena menganggap Rusia melakukan invasi kapan saja.
Melansir pemberitaan Channel News Asia, (10/2/2022), AS dan Inggris telah mengirimkan bantuan militer ke Ukraina.
Bantuan militer tersebut di antaranya rudal antitank dan peluncur, yang digunakan untuk membantu mempertahankan Ukraina apabila invasi lain.
Sementara itu, negara lainnya, misalnya Jerman, memilih mengirimkan helm tentara.
Baca: PM Inggris Boris Johnson: Sanksi Siap Dijatuhkan jika Rusia Menyerbu Ukraina
Ryabkov mengatakan bantuan militer tersebut adalah "pemerasan dan tekanan" dari negara-negara Barat.
"Segala yang terjadi yang berkaitan dengan [pengiriman] bantuan peralatan, amunisi, perangkat militer termasuk senjata mematikan, ke Ukraina adalah upaya memberikan tekanan politik kepada kita, dan mungkin tekanan militer," kata Ryabkov dikutip dari Channel News Asia.
Selain itu, dia mengatakan Ukraina telah meminta bantuan sistem pertahanan rudal dari AS.
Bantuan itu dianggapnya sebagai "provokasi".
Baca: PM Inggris Boris Johnson: Invasi ke Ukraina Akan Jadi Bencana Militer bagi Rusia & Dunia
Baca: Vladimir Putin Tuding AS & Sekutunya Jadikan Ukraina sebagai Alat untuk Ganggu Rusia
Putin: Ukraina adalah alat untuk ganggu Rusia
Sementara itu, beberapa waktu lalu Presiden Rusia Vladimir Putin buka suara tentang ketegangan antara AS & sekutunya dan Rusia.
Putin menuding AS dan sekutunya menggunakan Ukraina sebagai "alat untuk mengganggu Rusia".
Selain itu, Putin menuduh AS telah mengabaikan permintaan Rusia untuk menarik mundur pasukan NATO di Eropa Timur.
Mengutip pemberitaan The Guardian, (2/2/2022), mantan agen intelijen itu sebelumnya juga pernah meminta AS untuk tidak menerima Ukraina ke dalam aliansi sekutunya.
Dia memperkirakan masuknya Ukraina menjadi anggota NATO bisa menyebabkan konflik di wilayah Krimea yang dianekasasi Rusia tahun 2014.
"Sudah jelas bahwa permintaan utama Rusia diabaikan," kata Putin setelah berbincang dengan Perdana Menteri Hungaria Victor Orban, dikutip dari The Guardian.
Baca: Bahas Ukraina, AS dan Rusia Terlibat Adu Mulut dalam Sidang Dewan Keamanan PBB
Kendati demikian, Putin mengatakan siap melanjutkan pembicaraan dengan Barat.
Namun, Rusia juga dilaporkan terus mengerahkan ribuan pasukan ke perbatasan Ukraina.
Putin sebelumnya diam saja hampir sebulan dan tidak berminat mengomentari tudingan adanya rencana invasi ke Ukraina.
Pada hari Selasa, (1/2/2022), Putin mengecam pengiriman senjata ke Ukraina dan mengatakan negara itu kini dipenuhi dengan senjata.
(Tribunnewswiki)
Baca berita lainnya tentang Ukraina di sini