Bahas Ukraina, AS dan Rusia Terlibat Adu Mulut dalam Sidang Dewan Keamanan PBB

Sidang digelar atas permintaan AS yang menganggap pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina adalah ancaman bagi perdamaian dunia.


zoom-inlihat foto
Duta-besar-Amerika-Serikat-untuk-PBB-Thomas-Greenfield.jpg
SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / GETTY IMAGES VIA AFP
Duta besar Amerika Serikat untuk PBB, Thomas-Greenfield, pada siang Dewan Keamanan PBB untuk membahas krisis Ukraina, 31 Januari 2022.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Amerika Serikat (AS) dan Rusia, melalui duta besar masing-masing, beradu mulut dalam sidang Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Senin (31/1/2022).

Dalam sidang yang digelar untuk membahas masalah Ukraina itu, kedua duta besar sama-sama menuduh lawannya melakukan tindakan provokatif.

Sidang itu digelar atas permintaan AS yang menganggap pengerahan pasukan Rusia di perbatasan Ukraina adalah ancaman bagi perdamaian dunia.

Sayangnya, sidang tidak menghasilkan keputusan apa pun karena Rusia menjadi salah satu negara pemilik hak veto.

"Ancaman agresi di perbatasan Ukraina adalah tindakan provokatif," kata Dubes AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield dikutip dari Reuters, (1/2/2022).

"Tindakan provokasi asalnya dari Rusia, bukan dari kami ataupun anggota lainnya dalam dewan ini," katanya.

Baca: Anggap AS Buat Kepanikan, Presiden Ukraina Marah: Kami Bukan Titanic yang Akan Tenggelam

Thomas-Greenfield menuduh Rusia telah mengerahkan lebih dari 100.000 tentara di perbatasan Ukraina dengan Rusia dan Belarusia.

Tindakan itu, kata dia, menujukkan bahwa Rusia sedang mempersiapkan serbuan ke Ukraina.

Lebih lanjut, dia menyebut AS telah mendapatkan bukti bahwa Moskow berencana mengerahkan lebih banyak pasukan, yakni 30.000, pada awal bulan Februari.

Seorang tentara Ukraina sedang mengecek senjata di dekat Desa Zolote, Lugansk, 21 Januari 2022.
Seorang tentara Ukraina sedang mengecek senjata di dekat Desa Zolote, Lugansk, 21 Januari 2022. (ANATOLII STEPANOV / AFP)

Sementara itu, Dubes Rusia Vassily Nebenzia membantah tudingan Thomas-Greenfield.

Nebenzia mengatakan tidak ada bukti Rusia berencana melakukan tindakan militer ke wilayah Ukraina.

Rusia, kata Nebenzia, juga berulang kali membantah tudingan adanya rencana invansi.

Baca: Apakah Eropa Bakal Alami Bencana Krisis Energi jika Rusia Menyerbu Ukraina?

"Rekan-rekan kita di Barat sedang berbicara perlunya pengurangan ketegangan," kata Nebenzia.

"Namun, yang pertama dan paling penting, mereka sendiri yang menaikkan ketegangan dan beretorika serta memicu ketegangan," kata dia

"Diskusi tentang ancaman perang pada dasarnya provokatif. Kalian hampir menyerukan hal ini. Kalian ingin ini terjadi. Kalian menunggu ini terjadi, seolah kalian ingin membuat ucapan kalian menjadi nyata," kata dia menambahkan.

Nebenzia mengatakan Rusia sebenarnya tidak takut untuk mendiskusikan masalah Rusia.

Hanya saja, menurut dia, Rusia tidak memahami alasan digelarnya sidang itu.

Baca: Joe Biden: Jika Rusia Menyerbu Ukraina, Itu Akan Jadi Invasi Terbesar sejak Perang Dunia II

Baca: Krisis Ukraina, NATO Kirim Kapal dan Jet Tempur ke Eropa Timur

Selain itu, dia menyebut Moskow tidak pernah mengonfirmasi jumlah pasukan yang dikerahkannya.

Senada dengan ucapan Thomas-Greenfield, Dubes Prancis Nicolas de Riviere turut menganggap pengerahan militer Rusia di perbatasan Ukraina sebagai ancaman.

Sementara itu, Dubes Tiongkok Zhang Jun menyebut saat ini yang amat diperlukan adalah diplomasi yang tenang.

(Tribunnewswiki)

Baca berita lainnya tentang krisis Ukraina di sini





BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved