TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan sanksi siap dijatuhkan kepada Rusia jika negara pimpinan Vladimir Putin itu menginvasi Ukraina.
Dia meminta parlemen Inggris menjatuhkan sanksi kepada individu dan perusahaan Rusia yang terlibat.
"Sanksi dari Inggris dan tindakan lainnya siap [dijatuhkan] untuk setiap serangan baru dari Rusia," kata Johnson dikuti dari Reuters, (8/2/2022).
Ucapan ini keluar setelah Amerika Serikat menyebut Rusia bisa menyerbu Ukraina kapan saja.
Kini Rusia telah mengerahkan sekitar 100.000 tentara di dekat perbatasan Ukraina.
Kendati demikian, Rusia membantah berencana melakukan invasi ke negara bekas Uni Soviet itu.
Pada hari Kamis pekan lalu Johnson mengatakan Inggris mempertimbangkan penerahan jet tempur dan kapal perang Inggris untuk melindungi Eropa Timur.
Baca: PM Inggris Boris Johnson: Invasi ke Ukraina Akan Jadi Bencana Militer bagi Rusia & Dunia
Johnson juga menyebut Menteri Pertahanan Ben Wallace dan Menteri Luar Negeri Liz Truss akan terbang ke Moskow dalam waktu dekat.
Inggris, kata dia, saat ini bersiap menguatkan satuan tempur NATO, yang dipimpin Inggris, di Estonia.
Johnson: Akan jadi bencana besar
Johnson sebelumnya juga mewanti-wanti Rusia agar tidak menyerbu Ukraina.
Dia mengatakan bakal ada konsekuensi besar yang muncul jika Rusia menyerbu negara Eropa Timur itu.
Invasi ke Ukraina, kata dia, justru akan menjadi bencana kemanusiaan, politik, dan militer bagi Rusia dan dunia.
Hal ini dia ucapkan ketika bertemu dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenzkiy, di Kyiv, Ukraina.
Johnson juga membantah bahwa Amerika Serikat (AS) dan UK membesar-besarkan ancaman yang dimunculkan oleh Rusia.
Baca: Vladimir Putin Tuding AS & Sekutunya Jadikan Ukraina sebagai Alat untuk Ganggu Rusia
Baca: Bahas Ukraina, AS dan Rusia Terlibat Adu Mulut dalam Sidang Dewan Keamanan PBB
Sebaliknya, kata dia, kenyataan yang terjadi adalah Rusia mengerahkan banyak pasukan di perbatasan Ukraina.
Tak hanya itu, Johnson mengatakan pengerahan itu menunjukkan adanya permusuhan terhadap Ukraina.
"Dia [Putin] berusaha menggambar kembali peta keamanan Eropa dan memberlakukan zona pengaruh yang baru, Yalta yang baru," kata Johnson dikutip dari The Guardian, (2/2/2022).
Konferensi pers di Kyiv ini terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menuduh AS mengabaikan permintaan Rusia perihal keamanan di Eropa Timur.
Dalam konferensi pers itu, Presiden Ukraina berulang kali membela Johnson dengan menolak tudingan bahwa Barat sedang menciptakan kepanikan.