Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM- Reksadana adalah investasi yang dikelola oleh manajer investasi atau salah satu wadah yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana. (1)
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pasal 1, ayat (27) yaitu reksa dana adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan dalam portofolio efek oleh manajer investasi.
Dana ini dikelola oleh manajer investasi untuk diinvestasikan ke dalam portofolio investasi, seperti saham, obligasi, pasar uang ataupun efek/sekuriti lainnya. (2)
Baca: Saham
Manfaat #
Memiliki instrumen investasi yang terdiversifikasi otomatis,
Modal awal investasi yang kecil, bisa ditop-up dan dicairkan kapan saja, dan bebas pajak. (1)
- Dikelola oleh manajemen profesional
- Diversifikasi investasi
- Transparansi informasi
- Likuiditas yang tinggi
- Biaya Rendah, Untung maksimal.(2)
Baca: Nafkah
Jenis #
Reksadana konvensional
- Reksadana pasar uang,
- Reksadana pendapatan tetap,
- Reksadana campuran,
Reksadana terstruktur
- Reksadana terproteksi,
- Reksadana indeks,
- Reksadana dengan penjaminan,
Reksadana exchanged traded fund (ETF).
- Reksadana real estate
- Reksadana Syariah. (1)
Baca: Poligami
Tips memilih reksadana #
1. Kenali manajer investasi pengelola reksadana dengan baik
Prospektus dalam sebuah produk reksadana adalah berisikan banyak hal terkait strategi pengelolaan reksadana, pembatasan investasi, hingga orang-orang di balik perusahaan manajer investasi tersebut.
Mencari tahu soal rekam jejak manajer investasi (MI) adalah hal wajib yang harus dilakukan investor.
Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, sangat mudah untuk mengetahui apakah MI yang kita tuju pernah terlibat kasus, atau pelanggaran hukum lainnya.
Ketahui pula, jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) perusahaan manajer investasi tersebut.
Besarnya AUM menandakan tingginya kepercayaan investor terhadap MI.
Sebab, tidak mungkin investor mempercayakan dana mereka dikelola oleh MI yang kinerjanya buruk.
2. Cari benchmark untuk mengukur performa reksa dana
Data historis seputar imbal hasil sebuah reksadana artinya secara bulanan hingga tahunan tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk memilih produk reksadana. Anda bisa melakukan perbandingan dengan menggunakan beberapa acuan atau benchmark.
Kinerja reksa dana yang disertai benchmark bisa Anda temukan di fund fact sheet produk reksa dana.
Namun Anda pun bisa melakukan perbandingan secara mandiri dengan menggunakan benchmark sebagai berikut:
- Reksadana pasar uang vs bunga deposito
Reksadana pasar uang merupakan reksadana yang memiliki underlying asset atau aset dasar berupa instrumen pasar uang. Beberapa di antaranya adalah deposito dan surat utang jangka pendek yang jatuh temponya di bawah satu tahun.
Kinerja reksadana pasar uang memang tergolong lebih stabil ketimbang reksadana lainnya. Satu-satunya cara untuk mengukur performa reksadana adalah dengan membandingkannya dengan deposito bank umum.
- Reksadana campuran vs reksa dana saham dengan IHSG
Jika reksadana yang Anda beli adalah reksa dana saham, maka Anda bisa menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk mengukur performanya.
Ketika kinerjanya bisa mengalahkan IHSG secara konsisten, maka hal itu bisa Anda pertimbangkan. IHSG pun bisa dijadikan benchmark untuk mengukur performa reksa dana campuran, asalkan komposisi portofolio efek di reksa dana campuran tersebut, sebagian besarnya adalah saham.
- Reksadana pendapatan tetap vs indeks obligasi
Sementara itu, untuk reksadana pendapatan tetap, benchmark berupa Indonesian Indeks Obligasi Pemerintah, Indeks Obligasi Korporat, atau ICBI (Indonesia Composite Bond Index). Semuanya tergantung isi dari underlying asset dari reksadana pendapatan tetap yang dipilih.
Ketika sebagian besar underlying asset adalah obligasi pemerintah, maka Indeks obligasi pemerintah bisa menjadi benchmark. Namun ketika obligasi swasta yang lebih banyak, indeks obligasi korporat boleh dijadikan acuan.
3. Perhatikan Sharpe Ratio
Ketika seseorang memilih instrumen investasi yang memiliki volatilitas tinggi maka mereka juga mengharapkan imbal hasil yang tinggi.
Sharpe ratio bisa digunakan untuk tingkat risiko dari reksa dana. Tidak ada patokan berapa sharpe ratio yang terbaik.
Sharpe ratio merupakan rasio yang mengukur kinerja reksa dana dengan perbandingan imbal hasil dan risiko (standar deviasi).
Makin tinggi sharpe ratio maka makin baik kinerja reksa dana tersebut.
Jika anda menemukan nilai sharpe ratio negatif di produk reksadana, maka akan lebih baik bagi kita untuk memilih reksadana yang sharpe ratio negatifnya paling kecil.
Sharpe ratio yang negatif menandakan tingkat risiko lebih besar dibanding dengan tingkat pengembalian (apa itu reksa dana).
Ketika Anda membeli reksadana di platform milik agen penjual efek reksa dana atau perusahaan sekuritas, maka nilai rasio ini akan tertera di daftar reksadana.
Nilai sharpe ratio juga bisa berubah, bisa saja satu reksa dana saham memiliki nilai sharpe ratio yang tinggi dalam 3 bulan namun minus di periode 1 tahun.
4. Perhatikan nilai draw down
Draw down bisa dimaknai sebagai tingkat kerugian maksimal yang ada di produk reksadana, atau bisa juga didefinisikan sebagai tingkat penurunan kinerja dari titik puncaknya ke titik terendah.
Apabila sebuah reksa dana artinya memiliki nilai draw down sebesar 30 persen setahun, berarti kinerja reksa dana tersebut pernah mengalami penurunan sebesar 30 persen. Sama seperti sharpe ratio, nilai draw down juga bisa dipengaruhi oleh time frame.
Draw down yang tinggi umumnya ditemukan di reksadana campuran maupun saham. Untuk sebagian besar reksa dana pasar uang, nilai draw down ada di angka 0 koma sekian. Bahkan tidak sedikit pula yang nilainya 0,00 persen.
5. Waspadai expense ratio reksadana
Expense ratio bisa juga disebut sebagai perbandingan beban operasional reksa dana adalah dengan rata-rata NAB dalam setahun.
Pengelolaan sebuah reksadana adalah tentu akan memunculkan biaya. Biaya-biaya tersebut sebut saja, biaya kustodian, trading, marketing, dan lainnya.
Semakin kecil expense ratio mencerminkan kehandalan Manajer Investasi dalam mengelola produknya.
6. Pilih reksadana sesuai dengan jangka waktu investasi
Semakin pendek jangka waktu investasi, maka pilihan reksadana yang disarankan adalah reksa dana yang volatilitas nilai aktiva bersih (NAB)-nya rendah.
Namun untuk jangka panjang, maka pilihan reksadananya akan semakin fleksibel, boleh yang rendah volatilitasnya atau yang tinggi karena mengharap imbal hasil yang besar.
Untuk jangka waktu pendek (1-3 tahun), sangat disarankan untuk memilih reksadana yang rendah fluktuasi seperti reksa dana pasar uang, atau pendapatan tetap.
Untuk jangka menengah (3-5 tahun), disarankan untuk memilih reksa dana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran.
Sementara itu untuk kebutuhan dana pendidikan di atas 5 tahun, maka reksa dana saham boleh dicoba. (3)
Baca: BLT UMKM
(Tribunnewswiki.com/ Husna)
| Nama | Reksadana |
|---|
| Jenis | Reksadana konvensional, Terstruktur, Exchanged traded fund (ETF). |
|---|
Sumber :
1. batam.tribunnews.com
2. id.wikipedia.org
3. money.kompas.com