TRIBUNNEWSWIKI.COM - Jerman melakukan penyergapan terhadap kelompok Jihadis Salafi yang dikenal sebagai Jama'atu Berlin pada akhir Februari 2021 lalu.
Penyergapan itu langsung diumumkan Senat Berlin di akun Twitter resmi mereka.
Dalam tweet tersebut dijelaskan polisi Berlin dan Brandenburg mulai menyasar properti kelompok tersebut pada pagi hari.
Seorang juru bicara mengatakan mereka sampai harus mengerahkan sekitar 8.000 pasukan polisi, sebagaimana diberitakan DW dari kantor berita Jerman, DPA.
Dalam pasukan itu ada pula unit khusus.
Mereka menargetkan distrik Reinickendorf, Moabit, Wedding, dan Neukölln.
Baca: Mereka Bukan Tentara atau Polisi, Mereka Teroris: Seorang Wanita Pendemo Myanmar Ditembak Mati
Baca: FPI Bingung Disebut Terlibat Terorisme di Makassar, Pengacara : Sudah Bubar Masih Dibawa Repot
Kendati demikian, setelah operasi tersebut tak ada laporan mengenai penangkapan.
Sebuah pernyataan dari Senat mengatakan Jama'atu Berlin telah menyebarkan kultus mendukung "Negara Islam."
Mereka juga menolak konstitusi Jerman dan menyerukan syariah sebagai satu-satunya hukum yang sah.
Konsep tersebut mirip dengan ide khilafah yang sempat didengung-dengungkan juga di tanah air.
"(Dalam kelompok itu), ada yang menyerukan kematian orang Yahudi," kata Sekretaris Dalam Negeri Berlin Torsten Akmann.
Kelompok tersebut diyakini memiliki sekitar 20 anggota, beberapa di antaranya telah menarik perhatian sebelumnya, dengan membagikan selebaran di beberapa wilayah Berlin.
Dikaitkan dengan penyerangan pasar Natal Berlin
Baca: Mampu Beli Gedung Bekas Istana Raja di Jerman, Siapa Sosok Sukanto Tanoto? Raja Sawit Asal Indonesia
Baca: Video Viral Kanselir Jerman Angela Merkel Panik karena Tak Pakai Masker, Banjir Pujian
Senator Dalam Negeri Berlin Andreas Geisel mengatakan pada konferensi pers bahwa asosiasi yang tidak terdaftar itu telah diawasi selama dua tahun.
"Bahaya terorisme Islam tetap tinggi," kata Geisel.
"Larangan hari ini menjadi bagian dalam perjuangan tegas melawan ekstremisme kekerasan."
Surat kabar Tagesspiegel melaporkan bahwa beberapa pengikut kelompok tersebut sebelumnya menghadiri Masjid Fussilet, yang ditutup pada tahun 2017.
Anis Amri, warga negara Tunisia yang melakukan serangan di pasar Natal Berlin pada tahun 2016 menewaskan 12 orang, juga sering mengunjungi masjid tersebut, menurut otoritas.
Jumlah Salafi di Jerman naik ke rekor tertinggi sebanyak 12.150 pada 2019, menurut badan intelijen domestik.
Adakan pelatihan imam untuk tekan radikalisme
Baca: Menteri Agama Sebut Radikalisme Datang Lewat Anak Good Looking, Begini Klarifikasi Kemenag