Kaleidoskop 2020: Jejak Pandemi Covid-19, Kemunculan di Wuhan, Penyebaran hingga Program Vaksin

Sebagai pengingat, penyakit baru yang disebabkan oleh infeksi virus corona SARS-CoV-2 ini, mulanya teridentifikasi di Wuhan, China.


zoom-inlihat foto
mutasi-v-corona.jpg
CDC
Ilustrasi Virus Corona (CDC). Berikut jejak pandemi Covid-19, kemunculan di Wuhan, penyebarannya, hingga program vaksinasi covid-19.


Untuk diketahui, mutasi virus adalah filtur replika virus yang pasti terjadi dan tidak dapat dihindari.

Mutasi juga merupakan kondisi di mana virus tersebut mengalami perubahan pada materi genetik virus.

Mutasi menjadi hal yang wajar dan bisa terjadi karena banyak sekali faktor pendukungnya. Bisa jadi berupa genetik ras, keturunan, patogen atau mikroorganisme penyebab penyakit lain di dalam tubuh, dan lain sebagainya.

Mutasi yang terjadi pada virus merupakan upaya penyesuaian atau adaptasi yang dilakukan virus untuk dapat bertahan hidup di sekitar inangnya (reseptor) dalam tubuh manusia.

6. Gejala Covid-19 beragam

Ilustrasi demam
Ilustrasi demam (kompas.com/)

Sebagian orang yang terinfeksi virus corona bisa jadi tak menunjukkan gejala apapun, sebagian lain memilki beberapa gejala, seperti batuk, demam, hingga hilang penciuman dan rasa, bahkan tak sedikit yang mengembangkan gejala hingga sakit parah.

Belakangan muncul gejala baru Covid-19, seperti sakit mata dan delirium.

Melansir Stat News, sebuah studi menemukan bahwa delirium kemungkinan menjadi gejala peringatan dini infeksi virus SARS-CoV-2 pada orang lanjut usia.

Lebih dari seperempat pasien yang lebih tua dalam penelitian itu tiba di IGD rumah sakit dengan mengigau dan 37 persen dari pasien ini tidak memiliki tanda Covid-19 yang khas, seperti demam atau sesak napas.

Umumnya, gejala delirium yakni kebingungan, kurang fokus, disorientasi, dan perubahan kognitif lainnya.

7. Obat untuk Covid-19

Ilustrasi obat
Ilustrasi obat (Tribun Palu)

Ketua Perhimpuan Dokter Paru Indonesia, DR Dr Agus Dwi Santoso SpP(K) FAPSR FISR menjelaskan, pengobatan corona di Indonesia sudah diatur dalam protokol pelaksanaan penanganan Covid-19.

"Kita menangani pasien itu berdasarkan severity (tingkat keparahan atau beratnya kasus) yang dialami oleh pasien," kata Agus dalam diskusi daring bertajuk Obat dan Terapi Terkini untuk Pasien Covid-19 melalui media resmi BNPB TV, Selasa (18/8/2020).

Kemudian, tingkat keparahan atau beratnya kasus pasien dikategorikan menjadi tanpa gejala, ringan, sedang, berat sampai kondisi kritis Covid-19.

Oleh karena itu, kata Agus, mengobati pasien itu harus berdasarkan severity atau tingkat keparahan kasus pasien itu sendiri.
"Karena masing-masing severity itu, (pasien) bisa diberikan pilihan obat berdasarkan severity yang dialami," ujarnya.

Terkait obat apa saja yang diberikan untuk pasien Covid-19, baca selengkapnya di sini.

8. Vaksin yang sudah teruji keamanan dan keefektifan

Tidak Semua Klompok Orang Bisa di Suntik Vaksin Covid-19.
Tidak Semua Klompok Orang Bisa di Suntik Vaksin Covid-19. (Shutterstock via Kompas.com)

Ketika pandemi Covid-19 terus melanda bersamaan dengan musim dingin di belahan utara dunia, semakin banyak negara memberikan lampu hijau vaksin Covid-19 untuk vaksinasi massal di negara masing-masing.

Dari sejumlah vaksin yang dikembangkan di seluruh dunia, vaksin kolaborasi antara perusahaan Amerika Serikat, Pfizer dan perusahaan Jerman, BioNTech mencatat sejarah pada tanggal 18 Desember sebagai vaksin pertama yang merilis data hasil uji coba tahap akhir skala penuh.

Vaksin tersebut diklaim dapat menawarkan kemanjuran hingga 95 persen terhadap Covid-19.





Halaman
1234
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Pokun Roxy (2013)

    Pokun Roxy adalah sebuah film horor komedi Indonesia
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved