TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sejumlah wilayah di Spanyol mendesak pemerintah pusat untuk menyetujui langkah hukum berupa pemberlakukan jam malam di tengah kebangkitan kembali Covid-19.
Tercatat 10 dari 17 wilayah di Spanyol meminta pemerintah menetapkan keadaan darurat lantaran melonjaknya angka kasus virus corona.
Langkah ini memungkinkan wilayah terdampak akan membatasi pergerakan aktivitas warga.
Hampir separuh wilayah di Spanyol mendukung kebijakan jam malam meskipun ada penolakan yang kuat dari ibukota Madrid.
Penolakan Madrid ini dinilai menjadi penghambat lahirnya keputusan pusat.
Baca: Barcelona Mandul di 2 Pertemuan Terakhir & Madrid Loyo: Akankah El Clasico Malam Ini Tetap Menarik?
Baca: VIRAL Wanita Tega Aniaya Nenek di Pinggir Jalan, Main Tangan hingga Pukuli Kepala Korban
Seperti diketahui, angka jumlah infeksi Covid-19 di Spanyol menjadi yang tertinggi di Eropa Barat.
Jumlah total meningkat sebesar 1,046,132 kasus dengan rata-rata kematian mencapai 38,000 pada Jumat (23/10/2020).
Sementara itu, wilayah Catalonia pada Jumat (23/10) menegaskan akan memberlakukan jam malam di seluruh wilayah, termasuk Barcelona segera setelah adanya tindakan dari pemerintah pusat.
"Kami butuh adanya desentralisasi kebijakan darurat di mana pemerintah Catalan bisa melakukan manajemen sendiri," kata Wakil Pemimpin Catalan, Pere Aragones dalam rilis media, dilansir Reuters, Sabtu (24/10/2020).
"Baik usaha kita maupun naiknya angka Covid-19, perubahannya begitu mengkhawatirkan", ujarnya.
Baca: 5 Sosok Anak Perempuan yang Sangat Inspiratif dalam Tayangan Netflix, Patut Ditiru!
Baca: Bertarung dengan Dollar AS, China Tingkatkan Fleksibilitas Mata Uang Yuan
Di lain hal, sejumlah daerah mempertimbangkan untuk memberlakukan jam malam dengan cara alternatif seperti meminta adanya putusan pengadilan, jika pemerintah pusat lamban bertindak.
"Kami tidak dapat menunggu lebih lama lagi dan kami harus mengambil langkah segera," kata Pemimpin Wilayah Murcia, Fernando Lopez Miras, kepada televisi lokal Spanyol, Sabtu (24/10/2020).
"Jika pemerintah pusat tidak melakukan apa-apa, maka kami akan tetap memberlakukan jam malam," tambahnya.
Di lain hal, meski mendukung jam malam, PM Spanyol menolak adanya lockdown kembali.
Namun demikian, dirinya meminta warganya untuk kurangi mobilitas.
Ia menyebut akan menerbitkan sejumlah aturan agar warganya bisa tertib dalam melakukan kegiatan sosial.
Langkah ini merupakan strategi Pedro agar tidak mengeluarkan kebijakan lockdown kembali, dilansir Reuters, Jumat (23/10/2020).
Baca: Jumlah Halaman UU Cipta Kerja Kembali Berubah, Presiden KSPI: Sangat Memalukan
Baca: Korea Utara: Badai Debu dari China Bisa Tularkan Covid-19
Seperti diketahui, Spanyol menjadi negara pertama di Eropa Barat yang mencatat lebih dari 1 juta infeksi Covid-19 yang dikonfirmasi minggu ini.
Saat ini, 'Negeri Matador' ini sedang berjuang untuk menahan naiknya angka tersebut.
Negara berpenduduk 47 juta jiwa itu termasuk yang paling terpukul oleh pandemi COVID-19, dengan lebih dari 34.000 kematian terkait Covid-19.