Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Diprediksi Minus 2 Persen, Berikut Ini Penyebab Resesi di Indonesia

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami minus 2 persen pada kuartal-III 2020 dan mengakibatkan resesi.


zoom-inlihat foto
pasar-jakarta.jpg
KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG
Warga berbelanja kebutuhan lebaran di Pasar Klender, Jakarta Timur, Jumat (22/5/2020). Daya beli/konsumsi masyarakat yang turun disebut membuat ancaman resesi di Indonesia menguat pada kuartal-III 2020.


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Situasi perekonomian global saat ini terbentur akibat dampak adanya pandemi Covid-19.

Ekonomi dunia terguncang dan lesu akibat dampak lockdown dan pembatasan-pembatasan pergerakan sosial demi mengurangi efek penularan Covid-19.

Satu per satu negara di dunia akhirnya mengumumkan status ekonomi telah memasuki masa resesi.

Bagaimana dengan Indonesia? Ternyata, resesi juga diprediksi akan menerpa negara ini

Resesi ekonomi disebut akan terjadi sebentar lagi di Indonesia pada kuartal III.

Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani Indrawati mengonfirmasi kalau perekonomian Indonesia akan bersiap masuk jurang resesi pada kuartal III-2020.

Senada dengan pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga turut memprediksi Indonesia akan mengalami resesi.

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang edukasi dan Perlindungan Konsumen, Tirta Segara memperkirakan ekonomi kuartal III minus 2 persen.

Baca: Indonesia Terancam Resesi, Berikut Tips Keuangan Hadapi Era Krisis, Berlaku juga untuk Generasi Muda

Baca: Menkeu Isyaratkan Indonesia Bakal Masuk Jurang Resesi Ekonomi 2020, Apa Itu Resesi?

Dia memperkirakan, minusnya pertumbuhan kuartal III 2020 disebabkan karena lesunya konsumsi/daya beli masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

"Pertumbuhan kita sebelumnya (kuartal II) -5,32 persen."

"Kita siap-siap (di kuartal III 2020) bisa minus 2 persen," kata Tirta, Senin (7/9/2020), dikutip Tribunnewswiki.com dari laman Kompas.com berjudul OJK Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Minus 2 Persen.

Tirta mengungkap, anjloknya daya beli akibat pandemi Covid-19 tak lepas dari semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Ilustrasi pabrik dan pekerja. Selama pandemi Covid-19, banyak pekerja terkena PHK dan perusahaan/bisnis kolaps.
Ilustrasi pabrik dan pekerja. Selama pandemi Covid-19, banyak pekerja terkena PHK dan perusahaan/bisnis kolaps. (Kontan.co.id)

Tercatat sejak pandemi Covid-19 melanda, ada penambahan 4,86 juta penduduk miskin baru.

Belum lagi banyak karyawan atau pekerja yang terkena PHK besar-besaran.

Setidaknya, sebanyak 22 persen kepala keuangan kehilangan mata pencaharian dalam waktu rentang yang beriringan dengan pandemi ini.

Berdasarkan asumsi makro, pengangguran meningkat antara 3-5 juta orang dan kemiskinan meningkat hampir 2-5 juta orang.

Mereka yang tidak lagi memiliki pekerjaan, harus merelakan tabungannya untuk mempertahankan daya beli.

Tak hanya orang yang bekerja, mereka yang memiliki bisnis atau usaha juga sedang dalam kondisi tak menyenangkan.

Baca: Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Masih Negatif, Indonesia di Ambang Resesi

Baca: Indonesia di Ambang Resesi, Wamenkeu Suahasil Nazara: Jangan Khawatir soal Label Resesi

Tercatat, 48 persen pengusaha sudah menggunakan uang tabungannya untuk dapat bertahan hidup, terutama sejak pandemi Covid-19 muncul.

"Banyak rumah tangga yang mengalami kesulitan keuangan, tidak ada mata pencaharian dan mereka mulai memakan tabungan untuk mempertahankan hidup."





Halaman
123
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Gending Sriwijaya (2013)

    Gending Sriwijaya adalah sebuah film drama laga kolosal
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved