Cerita Hazem Mohammed Selamat dari Insiden di Christchurch, Berpura-pura Mati Agar Tak Ditembak

"Saya tidak bergerak atau bersuara sedikit pun. Benar-benar diam. Saya merasakan dia (Brenton) melewati saya, terasa udara saat dia melewati kepala"


zoom-inlihat foto
hazem-mohammed-acungkan-tangan-ke-brenton-tarrant.jpg
JOHN KIRK-ANDERSON / POOL / AFP
FOTO: Diambil pada 25 Agustus 2020, menunjukkan Hazem Mohammed mengacungkan tangan ke arah terdakwa Brenton Tarrant saat memberikan pernyataan dampak korban atas peristiwa penembakan pada 15 Maret 2019. Adapun sidang vonis dilakukan di Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru.


Laporan petugas berwajib menyebut Brenton Tarrant tidak pernah masuk ke dalam masjid sebelum terjadinya serangan.

Sementara fakta persidangan menyebut Tarrant hanya menerbangkan drone untuk mengintai lokasi masjid.

Drone diterbangkan dari atas Gedung Deans Ave, sebelum terjadinya penembakan.

Pengalaman Alta Sacra Ditelepon Suaminya yang Terluka

Alta Sacra, seorang mualaf asal Amerika menceritakan pengalaman ditelepon suaminya yang terkena tembakan di mimbar Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, Selasa (25/8/2020).

Perempuan ini adalah satu di antara penyintas dan keluarga korban yang selamat dari penembakan di dalam dua masjid di Selandia Baru oleh terdakwa Brenton Tarrant.

Di hadapan Brenton yang ikut dihadirkan persidangan, Alta menceritakan momentum saat ia tahu suaminya terkena tembakan.

Saat insiden terjadi, Jumat (15/3/2020), ia bangun mendengar dering telepon berbunyi.

Baca: Korban Penembakan di Christchurch, Farisha Razak Sebut Brenton Tarrant Pantas Menderita di Penjara

FOTO: Polisi bersenjata bersiaga di depan pintu masuk Pengadilan Tinggi Christchurch.
FOTO: Polisi bersenjata bersiaga di depan pintu masuk Pengadilan Tinggi Christchurch. (Sanka VIDANAGAMA / AFP)

Pukul 01.59 dini hari, ia angkat telepon sang suami.

Perempuan berusia 35 tahun itu tak jelas mendengar suaminya bicara.

Namun, ia mengaku jelas menangkap suara tangisan, jeritan, rintihan, lafal doa dalam aneka bahasa.

"Ada kekacauan," rintih sang suami di telepon.

"Kacau. Aku kena tembak. Aku jatuh," kata terakhir sang suami.

Baca: Selamat dari Serangan di Masjid Selandia Baru, Khaled Alnobani: Saya Depresi, Saya Frustasi

FOTO: Terlihat petugas kepolisian bersiaga di depan Gedung Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, saat sidang vonis terdakwa Brenton Tarrant, pelaku penembakan di masjid Selandia Baru.
FOTO: Terlihat petugas kepolisian bersiaga di depan Gedung Pengadilan Tinggi Christchurch, Selandia Baru, saat sidang vonis terdakwa Brenton Tarrant, pelaku penembakan di masjid Selandia Baru. (Sanka VIDANAGAMA / AFP)

Seketika teleponnya tertutup.

Alta mengaku tak tahu harus melakukan apa.

Beberapa hari setelahnya, ia mendapat kabar suaminya selamat.

Meski terluka akibat peluru, nyawa sang suami masih tertolong.

Beberapa hari kemudian, Alta mendapat informasi bahwa saat insiden terjadi, sang suami meneleponnya di dalam Masjid Linwood, dilansir New Zealand Herald, Selasa (25/8/2020).

Baca: Sekelompok Massa Berunjuk Rasa di Pengadilan saat Berlangsung Sidang Brenton Tarrant, Ada Apa?

Seorang penembak jitu memantau keadaan sekitar dari atap gedung Pengadilan Tinggi Christchurch mengawal jalannya sidang vonis warga Australia Brenton Tarrant di Christchurch pada 24 Agustus 2020.
Seorang penembak jitu memantau keadaan sekitar dari atap gedung Pengadilan Tinggi Christchurch mengawal jalannya sidang vonis warga Australia Brenton Tarrant di Christchurch pada 24 Agustus 2020. (Sanka VIDANAGAMA / AFP)

Sang suami diketahui menelpon dirinya dengan luka tembakan setelah pelaku memborbardir jamaah masjid Linwood, Selandia Baru.

Di depan pengadilan, Alta mengaku masih trauma atas peristiwa itu.





Halaman
1234
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved