TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hari raya Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan qurban.
Jadi tak asing jika sering mendengar hari raya Idul Adha dengan hari raya kurban.
Di hari raya Idul Adha, umat muslim di seluruh dunia memperingatinya dengan menyembelih hewan kurban.
Seperti di tanah air contohnya, yakni menyembelih sapi, domba, kambing maupun kerbau.
Daging kurban ini biasanya diolah beraneka ragam sesuai dengan keinginan masing-masing.
Dari yang dimasak jadi gulai, tongseng, dijadikan abon dan lainnya.
Baca: Masih dalam Suasana Pandemi Covid-19, Berikut Ini Panduan Salat Idul Adha Sesuai Protokol Kesehatan
Baca: Menjelang Idul Adha, Menhub Budi Karya Sumadi Pastikan Tidak Ada Larangan Mudik
Bahkan tak sedikit masyarakat yang mengolah daging kurban ini dengan cara menyate-nya.
Ya, sate menjadi makanan yang tidak asing saat hari raya Idul Adha.
Namun, perlu diketahui, cara pengolahan daging kurban dengan di sate ternyata tidak disarankan.
Mengapa ?
Dalam sesi kulwap media, beberapa waktu lalu, Executive Chef Aprez Catering by Amuz Group Chef Stefu Santoso menjelaskan mengenai keadaan daging kurban yang baru dipotong.
Daging kurban yang baru dipotong tergolong masih sangat segar.
Jadi daging ini tidak bisa langsung dikonsumsi sebab teksturnya masih keras.
Dibutuhkan waktu untuk proses aging atau pelayuan pada daging.
Baca: Sate Padang
Baca: Sate Bulayak
Sehingga tekstur daging menjadi lebih empuk.
"Untuk dijadikan sate saya tidak rekomen karena akan keras," ujar Chef Stefu.
Supaya tidak terlalu keras, daging bisa dibungkus terlebih dahulu dengan daun pepaya.
Tapi hal ini, tidak dianjurkan dilakukan terlalu lama karena dapat menimbulkan rasa pahit.
Alternatif lain selain sate
Chef Stefu, yang juga menjadi President of Association of Culinary Professionals, tak ketinggalan memberikan saran supaya daging kurban diolah dengan metode wet cooking atau metode makanan dimasak dengan menempatkannya pada air panas atau terekspos uap panas.