Sementara salah satu sumber Reuters yang mengetahui masalah itu mengatakan bahwa data pengguna TikTok disimpan di Google Cloud pusat data yang berbasis di Virginia. Google tidak menjawab saat dikonfirmasi.
Namun, itu tidak akan menghentikan Pompeo dari kemungkinan pelarangan TikTok di AS.
Pada hari Jumat, Komite Nasional Partai Republik AS meminta anggotanya melalui email untuk tidak mengunduh TikTok.
Demikian pula dengan Komite Nasional Demokratik (DNC).
DNC telah memberi saran kepada staf kampanye selama berbulan-bulan untuk tidak menggunakan TikTok pada perangkat pribadi mereka dan untuk menggunakan telepon dan akun yang terpisah jika mereka menggunakan platform untuk pekerjaan kampanye karena jumlah data yang dilacak.
November lalu, pemerintah AS meluncurkan tinjauan keamanan nasional terhadap pemilik TikTok yakni ByteDance Technology saat mengakuisisi aplikasi media sosial AS, Musical.ly senilai US$ 1 miliar.
Selain persoalan politik, TikTok juga disebut tidak aman dari segi sekuritas data karena diduga mampu menyalin hampir seluruh data dari ponsel atau gadget pengguna.
TikTok buka suara terkait pelarangan aplikasinya oleh pemerintah India.
India menuding TikTok telah menebarkan data pengguna ke pemerintah China.
Namun pihak TikTok segera membantahnya.
Pihak TikTok memberi jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu.
Baca: Gara-gara Pengguna TikTok, Kampanye Donald Trump Jadi Sepi: Borong Tiket Tapi Tak Datang Ke Acara
Baca: Perangi Pandemi Global Covid-19, TikTok Sumbang 375 Juta Dollar AS, Indonesia Kecipratan 100 M
"(Kami) tidak membagikan informasi pengguna di India dengan pemerintah asing, termasuk China," kata Pemimpin TikTok India Nikhil Gandhi, Selasa (30/6/2020).
"Bahkan jika kami dimintanya di masa depan, kami tidak akan melakukannya," ucapnya dikutip Kompas.com dari AFP.
Diberitakan sebelumnya, India secara resmi membatasi kehadiran aplikasi asal China di negaranya.
Total, Kementerian Teknologi Informasi India melarang 59 aplikasi China.
Pemerintah mengatakan aplikasi itu bisa merugikan kedaulatan India.
“Aplikasi tersebut merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara dan ketertiban umum”, kata Kementerian Teknologi Informasi dikutip Kontan dari Reuters, Senin (29/6/2020).
Sebelumnya intelijen India sudah mendorong pemerintah untuk memblokir aplikasi asal China.
Diberitakan Hindustan Times, hal itu bisa mengganggu keamanan nasional.
Kebijakan ini diambil India sebagai buntut panjang konflik di perbatasan Himalaya beberapa waktu silam.
(Tribunnewswiki.com/Ris)
Sebagian artikel tayang di Kontan.co.id berjudul Larangan terhadap penggunaan TikTok semakin meluas.