TRIBUNNEWSWIKI.COM - Aplikasi berbagi video asal China, TikTok kini menjadi salah satu platform sosial media paling digandrungi.
TikTok sangat digemari anak-anak dan remaja masa kini.
Bahkan, popularitas TikTok membuat banyak orang dewasa ikut menggunakan platform besutan ByteDance ini.
Namun, TikTok kini ikut dalam pusaran perpolitikan dunia yang melibatkan China.
Beberapa negara yang berkonflik dengan China mulai melarang penggunaan aplikasi tersebut.
Negara yang mengawali pelarangan TikTok adalah Amerika Serikat (AS) dan India.
Baca: China Terbitkan UU Keamanan Nasional Baru, TikTok Memilih Hengkang dari Hong Kong: Hanya Pasar Kecil
Baca: TikTok Beri Jaminan Setelah Aplikasinya Dilarang India: Kami Tak Bagikan Informasi Ke China
Alasan di balik penolakan itu karena menyangkut masalah privasi dan keamanan nasional.
Di AS misalnya, seruan untuk menghapus aplikasi TikTok tidak hanya datang dari pejabat pemerintah, tetapi perusahaan besar juga sudah mulai resah dengan kehadiran aplikasi itu.
Raksasa e-commerce AS Amazon.com pada Jumat lalu (10/7/2020) sempat menginstruksikan karyawannya untuk menghapus aplikasi TikTok dari perangkat seluler mereka.
Instruksi itu dikirimkan lewat lewat surat elektronik atau e-mail. Walaupun selang beberapa jam, Amazon memberikan klarifikasi bahwa surat elektronik tersebut dikirim karena kesalahan.
Larangan Amazon tersebut menyebar secara luas dalam sekejap, apalagi itu muncul dalam pekan yang sama ketika Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan sedang mempertimbangkan untuk memblokir TikTok dan aplikasi asal China lainnya.
Tidak jelas apa penyebab larangan awal Amazon tersebut.
Sumber berita Reuters mengatakan, pejabat eksekutif senior Amazon tidak mengetahui permintaan untuk menghapus TikTok dari perangkat karyawan. Larangan disebut dibatalkan setelah perwakilan TikTok dan Amazon berbicara.
Pada awal pekan lalu, Wells Fargo juga telah melayangkan surat kepada kepada karyawan yang telah menginstall TikTok pada perangkat seluler milik perusahaan untuk segera dihapus.
"Karena khawatir akan kontrol dan praktik privasi dan keamanan TikTok, dan karena perangkat milik perusahaan hanya boleh digunakan untuk bisnis perusahaan, kami telah meminta karyawan menghapus aplikasi dari perangkat mereka," kata Wells Fargo keterangan resminya.
Juru bicara TikTok mengaku belum dihubungi Wells Fargo terkait kekhawatirannya tersebut.
Namun, ia mengatakan pihaknya terbuka jika ada pihaknya yang ingin mengetahui bagaimana kebijakan perusahaan untuk melindungi keamanan data para penggunanya.
Kepemilikan China atas TikTok membuat aplikasi ini menghadapi banyak sorotan terkait penanganan data penggunanya.
Baca: Buntut Panjang Konflik di Himalaya, India Larang TikTok dan 58 Aplikasi China Lain Masuk Negaranya
Baca: Main TikTok di Pinggir Pantai, Remaja di AS Tak Sengaja Temukan Koper Berisi Potongan Tubuh Manusia
India telah melarang TikTok dan aplikasi Cina lainnya pada bulan Juni.
TikTok telah menjelaskan bahwa data penggunanya disimpan di AS dengan salinan cadangan di Singapura.
Sementara salah satu sumber Reuters yang mengetahui masalah itu mengatakan bahwa data pengguna TikTok disimpan di Google Cloud pusat data yang berbasis di Virginia. Google tidak menjawab saat dikonfirmasi.
Namun, itu tidak akan menghentikan Pompeo dari kemungkinan pelarangan TikTok di AS.
Pada hari Jumat, Komite Nasional Partai Republik AS meminta anggotanya melalui email untuk tidak mengunduh TikTok.
Demikian pula dengan Komite Nasional Demokratik (DNC).
DNC telah memberi saran kepada staf kampanye selama berbulan-bulan untuk tidak menggunakan TikTok pada perangkat pribadi mereka dan untuk menggunakan telepon dan akun yang terpisah jika mereka menggunakan platform untuk pekerjaan kampanye karena jumlah data yang dilacak.
November lalu, pemerintah AS meluncurkan tinjauan keamanan nasional terhadap pemilik TikTok yakni ByteDance Technology saat mengakuisisi aplikasi media sosial AS, Musical.ly senilai US$ 1 miliar.
Selain persoalan politik, TikTok juga disebut tidak aman dari segi sekuritas data karena diduga mampu menyalin hampir seluruh data dari ponsel atau gadget pengguna.
TikTok buka suara terkait pelarangan aplikasinya oleh pemerintah India.
India menuding TikTok telah menebarkan data pengguna ke pemerintah China.
Namun pihak TikTok segera membantahnya.
Pihak TikTok memberi jaminan bahwa mereka tidak akan melakukan hal itu.
Baca: Gara-gara Pengguna TikTok, Kampanye Donald Trump Jadi Sepi: Borong Tiket Tapi Tak Datang Ke Acara
Baca: Perangi Pandemi Global Covid-19, TikTok Sumbang 375 Juta Dollar AS, Indonesia Kecipratan 100 M
"(Kami) tidak membagikan informasi pengguna di India dengan pemerintah asing, termasuk China," kata Pemimpin TikTok India Nikhil Gandhi, Selasa (30/6/2020).
"Bahkan jika kami dimintanya di masa depan, kami tidak akan melakukannya," ucapnya dikutip Kompas.com dari AFP.
Diberitakan sebelumnya, India secara resmi membatasi kehadiran aplikasi asal China di negaranya.
Total, Kementerian Teknologi Informasi India melarang 59 aplikasi China.
Pemerintah mengatakan aplikasi itu bisa merugikan kedaulatan India.
“Aplikasi tersebut merugikan kedaulatan dan integritas India, pertahanan India, keamanan negara dan ketertiban umum”, kata Kementerian Teknologi Informasi dikutip Kontan dari Reuters, Senin (29/6/2020).
Sebelumnya intelijen India sudah mendorong pemerintah untuk memblokir aplikasi asal China.
Diberitakan Hindustan Times, hal itu bisa mengganggu keamanan nasional.
Kebijakan ini diambil India sebagai buntut panjang konflik di perbatasan Himalaya beberapa waktu silam.
(Tribunnewswiki.com/Ris)
Sebagian artikel tayang di Kontan.co.id berjudul Larangan terhadap penggunaan TikTok semakin meluas.