TRIBUNNEWSWIKI.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti daerah dengan kasus infeksi virus corona menurun masih bisa menghadapi puncak kedua pandemi Covid-19 jika abai pada tindakan pencegahan yang konkret.
WHO juga memberikan sebuah gambaran tentang pandemi corona selama beberapa bulan ke depan.
Sementara kita masih hidup melalui gelombang pertama pandemi, dan kasus-kasus masih meningkat, infeksi bisa melonjak tiba-tiba dan secara signifikan "kapan saja."
"Kita mungkin mendapatkan puncak kedua (pandemi) dengan cara ini," kata Dr. Mike Ryan, direktur eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO pada Senin (25/5/2020) seperti dikutip dari CNN.
Baca: Jumlah Kematian Terus Bertambah, WHO: Benua Amerika Adalah Episentrum Baru Covid-19
Baca: Setelah Eropa dan AS, Pakar Ingatkan Asia Tenggara Berpotensi Jadi Episentrum Baru Pandemi Covid-19
Puncak kedua pandemi Covid-19 tidak akan terungkap dengan rapi atau bertahap seperti gelombang.
Puncak baru akan berarti lonjakan mendadak dalam kasus-kasus, yang dapat membebani sistem perawatan kesehatan lagi dan mungkin menyebabkan lebih banyak kematian.
Puncak kedua bisa lebih buruk dari yang pertama.
Berikut penjelasan lebih lanjut mengenai apa itu puncak kedua pandemi virus corona (Covid-19).
Seperti apa puncak kedua pandemi Covid-19 itu?
Dilansir oleh CNN, dalam skenario puncak kedua, kasus-kasus virus corona akan meningkat tajam dan cepat hingga mencapai puncak baru, kemungkinan setelah periode ketika tingkat infeksi tetap cukup stabil.
Pada gelombang kedua, infeksi dapat terungkap lebih lambat dan berdampak pada berbagai wilayah dunia pada waktu yang berbeda.
Tetapi dalam kedua skenario puncak kedua dan di mana kita "meratakan kurva," jumlah orang yang sama dapat terinfeksi. Ini waktu yang diperhitungkan.
Puncak kedua akan berarti bahwa lebih banyak orang terinfeksi virus corona pada saat yang sama, dan selama musim flu, yang akan membebani sistem perawatan kesehatan.
Puncak baru ini lah yang dikhawatirkan membebani sistem perawatan kesehatan dan berpotensi menyebabkan lebih banyak kematian.
"Saat lebih banyak rumah sakit dan petugas medis yang kewalahan menghadapi wabah ini, peluang kematian yang sebenarnya bisa diantisipasi jadi melonjak," jelas Dr. Gabe Kelen, ahli infeksi emerging dari Johns Hopkins University.
Ia menyampaikan, langkah konkret untuk mengantisipasi puncak kedua pandemi corona adalah meratakan kurva Covid-19 agar orang yang sakit bisa dikelola dengan baik.
Baca: Total Pasien Sembuh Capai 2,4 Juta, Inilah Update Covid-19 di Seluruh Dunia 29 Mei 2020
Kenapa puncak kedua pandemi Covid-19 berbahaya?
Seperti yang dikatakan Kelen, pada puncak kedua tersebut akan terjadi lompatan besar dalam jumlah kematian yang sebenarnya dapat dicegah, dan itu bukan hanya pada pasien Covid-19.
Orang dengan penyakit seperti kanker dan diabetes yang secara teratur bergantung pada rumah sakit untuk perawatan mungkin menemukan perawatan kesehatan mereka tertunda, yang dapat mengancam kesehatan mereka.
Dan jika rumah sakit kewalahan oleh pasien virus corona, fasilitas mungkin memiliki lebih sedikit ruang untuk pasien darurat yang tiba-tiba terluka atau sakit.
Dan lebih banyak orang mungkin mati sia-sia.
Para ahli sendiri memprediksikan bahwa puncak kedua Covid-19 di Amerika akan terjadi pada musim gugur atau akhir musim dingin, bertepatan dengan musim flu.
Menurut Kelen, dengan adanya virus pernapasan yang beredar pada saat yang sama, kemungkinan seseorang untuk pada akhirnya terinfeksi salah satunya semakin besar.
Di AS, ada 410.000 hingga 740.000 rawat inap flu selama musim flu tahun 2019-2020, yang berlangsung dari Oktober hingga April, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS.
Itu adalah periode yang cukup lama dari aktivitas penyakit yang meningkat, dan dengan ratusan ribu pasien telah mengisi kamar rumah sakit, akan hanya ada sedikit ruang untuk pasien Covid-19.
"Dari sudut pandang perawatan kesehatan, musim flu biasanya merupakan masa yang sangat sulit karena ada begitu banyak orang sakit," kata Kelen.
"Musim flu dalam menghadapi Covid-19 - itu akan menjadi tantangan nyata."
Selain itu, virus corona juga memiliki gejala awal yang menyerupai flu dan virus pernapasan musiman lainnya.
“Dengan gejala yang sama tersebut dapat menunda diagnosis atau pengobatan yang akurat,” kata Dr William Schaffner, profesor di divisi penyakit menular di Vanderbilt University dan penasehat lama ke CDC.
"Covid-19 terlalu menular," kata Schaffner.
"Kami mengantisipasi bahwa musim gugur ini akan menjadi perjuangan hebat dengan influenza dan, di samping itu, Covid."
Baca: Jika Ada Covid-19 Gelombang Dua, New Normal Akan Dihentikan
Kapan puncak kedua pandemi covid-19 akan terjadi, dan sebara parahkah itu?
Keduanya bergantung pada seberapa cepat kita mengurangi pembatasan coronavirus.
Puncak kedua kemungkinan akan terjadi selama musim gugur atau akhir musim dingin bertepatan dengan musim flu.
Tetapi jika negara-negara keluar dari mode pandemi sekarang, membuka kembali dalam skala besar dan sebagian besar kembali ke kehidupan pra-coronavirus, lonjakan kasus dapat terjadi pada awal Juni.
“AS tidak siap untuk kebangkitan secepat itu,” kata Kelen.
"Itu tidak bisa dikelola," katanya.
Pembukaan kembali secara massal juga dapat mempengaruhi waktu dan tingkat keparahannya.
Banyak universitas besar dan distrik sekolah berencana untuk kembali dibuka pada musim gugur dan menyelenggarakan kelas di kampus, yang dapat membangkitkan transmisi lagi.
Bisnis mungkin tidak akan tutup lagi seperti yang mereka lakukan pada bulan Maret dan April, kata Kelen, sehingga dengan semakin banyak orang keluar, tingkat infeksi dapat melonjak.
Adakah cara untuk meredamnya?
Dr. Kelen menjelaskan, infeksi virus corona bakal terus terjadi selama vaksin belum ditemukan.
Ia mengatakan, selama vaksin belum ditemukan dan orang-orang memutuskan untuk lebih sering keluar rumah, maka kasus virus corona akan kembali tumbuh.
“Itu hanya masalah membiarkan penyakit "membakar masyarakat dengan sangat cepat" selama beberapa bulan atau memperpanjang waktu yang dibutuhkan virus corona untuk menyebar,” katanya.
Skenario terakhir ini akan memberikan beberapa waktu untuk pengembangan vaksin dan menghalangi peningktan jumlah pasien di rumah sakit sehingga mereka tidak akan terbebani.
"Kedengarannya kita berada di ruang terkunci, ingin keluar," kata Schaffner.
"Kami berharap, pintu keluar dari kamar yang terkunci itu adalah vaksin. Tetapi sementara itu, kita tidak bisa hanya berpuas diri."
Kita dapat mengandalkan satu vaksin yang siap pada musim gugur - vaksin flu untuk musim flu 2020-2021 .
Lebih penting dari biasanya untuk mendapatkan vaksinasi tahun ini, Kelen dan Schaffner berkata.
Baca: Meski Uji Coba Belum Selesai, China Berencana Gunakan Vaksin Virus Corona Akhir Tahun Ini
Baca: Rutin Dikonsumsi Donald Trump, Hidroksiklorokuin Disebut Tingkatkan Risiko Kematian Pasien Covid-19
Jika lebih banyak orang terlindungi dari flu, mereka akan terlindungi dari setidaknya satu virus pernapasan parah, yang dapat menyelamatkan mereka dari perjalanan ke rumah sakit.
"Vaksin ini tidak sempurna, tetapi masih dapat mencegah banyak infeksi dan membuat infeksi lain tidak terlalu parah," kata Schaffner.
Kelen dan Schaffner mengatakan bahwa tidak mungkin bisnis akan tutup secara massal lagi seperti yang terjadi pada musim semi, dan lebih banyak tempat umum seperti sekolah dan tempat ibadah akan dibuka kembali.
Itu, ditambah dengan musim flu, dapat membuat virus corona mudah beredar di masyarakat.
Mereka pun menyararankan berbagai pihak untuk memperketat upaya mitigasi pencegahan penularan virus corona.
Di antaranya, sebisa mungkin tinggal di rumah kecuali untuk sangat mendesak, mengenakan masker saat berada di luar rumah, dan menjaga jarak setidaknya dua meter dengan orang lain.
(Tribunnewswiki.com/Ami Heppy)