Pasalnya, institusi pendidikan di Jerman masih ditutup sampai 4 Mei 2020.
Adapun larangan mengadakan kegiatan publik berskala besar masih tetap berlaku sampai 31 Agustus 2020.
Sekolah-sekolah di Jerman akan dibuka secara bertahap dengan memprioritaskan bagi siswa yang sudah meninggalkan ujian.
Pemerintah Jerman dengan tegas mendesak warganya untuk selalu memakai masker saat berbelanja ataupun saat menggunakan transportasi umum.
Namun, ketegasan itu nampaknya berbeda dari apa yang dilakukan negara tetangganya, Austria, yang masih berupa imbauan.
Negara Jerman menjadi negara terbesar dari sejumlah negara di Eropa yang mengumumkan kebijakan untuk membuka kembali ekonomi dan aktivitas masyarakatnya.
Baca: Kanselir Jerman Angela Merkel Resmi Umumkan Rencana Cabut Sejumlah Pembatasan COVID-19
Ancaman Kelaparan dan Kerusuhan Sosial
Pembatasan bisnis di sejumlah negara mengakibatkan prospek ekonomi global merosot.
Menurut IMF, kondisi ini merupakan penurunan ekonomi global terburuk selama seabad penuh yang mengacu pada kerugian dunia yang mencapai 9 Triliun USD.
Saat Jerman sudah masuk dalam masa resesi, output industri Amerika Serikat juga menurun sebesar 6.3 persen, yang merupakan penurunan terbesar selama tujuh dekade.
Di Prancis, lebih dari sepertiga buruh menganggur dalam sementara waktu, ketika jumlah kematian akibat virus di negara Menara Eifel tersebut mencapai 17.000 kasus.
Namun, ada harapan yang muncul saat angka rawat inap turun untuk pertama kalinya.
Adapun jumlah kasus COVID-19 di seluruh dunia tembus angka dua juta infeksi, dengan kematian mencapai ratusan ribu.
Saat semua negara di dunia mencoba memetakan jalan keluar atas krisis wabah, kecaman muncul terhadap Presiden AS, Donald Trump yang membekukan dana untuk WHO, organisasi kesehatan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baca: Donald Trump Putuskan AS Stop Danai WHO, Negara Miskin Paling Kena Imbas, Tak Hanya Perangi Covid-19
Trump menuduh WHO salah mengelola dan menutupi penyebaran virus corona.
Dalam pernyataannya, Trump mengatakan bahwa masalah itu dapat diatasi jika WHO akurat menilai situasi di China akhir tahun lalu.
Komisioner Tertinggi sekaligus Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengutuk langkah pembekuan dana yang dilakukan Trump.
Sementara, miliarder Bill Gates -penyumbang utama- WHO menyebut dalam Twitter bahwa pemotongan dana itu berbahaya.
"Tak diragukan lagi, sejumlah perbaikan wilayah akan (segera) diidentifikasi dan akan ada pelajaran bagi kita semua untuk terus belajar," kata pimpinan WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Di lain hal, sekutu AS yaitu negara-negara di Erropa sepakat menolak langkah Trump.