TRIBUNNEWSWIKI.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menangguhkan pendanaan terhadap Oganisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Terkait hal tersebut, para pengamat mengatakan, keputusan Trump tersebut tidak mungkin datang pada waktu yang lebih buruk bagi negara-negara termiskin di dunia, yang bergantung pada dukungan keuangan dari badan PBB untuk memerangi penyakit seperti Covid-19.
Di antaranya adalah Republik Democartik Kongo (DRC) yang saat ini tidak hanya berjuang melawan pandemi Covid-19, tetapi juga Ebola yang telah merenggut lebih dari 2.200 jiwa.
Baca: Tuding WHO Menutupi Ancaman Virus Corona di China, Trump Akan Hentikan Pendanaan untuk WHO
Lawrence Gostin, direktur Institut O'Neill untuk Hukum Kesehatan Nasional dan Global di Universitas Georgetown di Amerika Serikat, mengatakan, virus corona siap untuk ‘berbaris’ melalui negara-negara berpenghasilan rendah dengan sistem kesehatan yang lemah, seperti di Afrika Sub-Sahara, anak benua India dan Amerika Latin.
Dan keputusan Trump tersebut akan melemahkan kemampuan WHO untuk membantu mereka.
"Ini bukan hanya pendanaan tetapi kurangnya dukungan politik dan harus mempertahankan diri, terjebak di tengah bentrokan kekuatan geopolitik antara kedua negara terkaya," katanya seperti dikutip dari South China Morning Post (SCMP).
AS secara tradisional menjadi donor keuangan terbesar untuk WHO, dimana AS menyumbang 893 juta USD tahun lalu, menurut angka badan kesehatan itu sendiri.
Sebagian besar uang itu mengalir ke negara-negara miskin di Afrika, Amerika Latin dan sebagian Asia di mana jutaan orang menderita berbagai penyakit.
Baca: China Merevisi Jumlah Kematian Akibat Covid-19, WHO: Akan Ada Banyak Negara Melakukan Hal Serupa
Baca: Presiden Donald Trump Klaim AS Telah Lewati Puncak Pandemi Covid-19 dan Siap Cabut Lockdown
WHO sendiri menerima dana dari dua aliran.
Sekitar 20 persen berasal dari “kontribusi yang dinilai” dari masing-masing negara berdasarkan pada produk domestik bruto dan populasi mereka, dan sisanya dari kontribusi sukarela.
AS adalah kontributor terbesar, menyumbang sekitar 15 persen dari total gabungan, diikuti oleh Inggris dan the Bill and Melinda Gates Foundation.
Pada periode keuangan 2018-2019, target WHO adalah untuk mengumpulkan dana 44,4 miliar USD.
Dari jumlah itu, China menyumbang sekitar 76 juta USD dalam kontribusi yang dinilai dan lebih dari 10 juta USD dalam kontribusi sukarela.
Lara Gautier, seorang postdoctoral fellow di departemen sosiologi di McGill University dan dosen di University of Montreal, mengatakan bahwa WHO diizinkan untuk menggunakan dana dari kontribusi yang dinilai bagaimanapun yang diinginkan.
Tetapi sebagian besar uang dari kontribusi sukarela diperuntukkan bagi negara tertentu.
Tahun lalu, AS menyumbang 237 juta USD dalam kontribusi yang dinilai dan 656 juta USD dalam pendanaan sukarela untuk program WHO tertentu.
Lebih dari sepertiga uang itu pergi ke Afrika Utara dan wilayah Mediterania timur, dan lebih dari seperempatnya pergi ke Afrika Sub-Sahara.
“Kedua wilayah ini kemungkinan menjadi yang paling parah terkena penangguhan [pendanaan AS],” kata Gautier.
Baca: 2 Dokter Prancis Dikritik Setelah Menyarankan Uji Coba Vaksin Covid-19 pada Masyarakat Afrika
Baca: Otoritas Korea Utara Ungkap Sesungguhnya Ada Kasus Virus Corona di Negaranya: Terjadi Awal Maret
Ia juga menambahkan bahwa penundaan yang lama dapat berdampak besar pada program pemberantasan polio di Afrika Sub-Sahara, dan skema imunisasi yang lebih luas.