TRIBUNNEWSWIKI.COM, MAUMERE - Di tengah pandemi COVID-19, setiap orang baik itu laki-laki, perempuan, wanita pria atau waria, transpuan, transgender. queer dan lainnya terdampak virus yang kasusnya telah mencapai lebih dari 1,5 juta di seluruh dunia.
Sementara itu, jumlah korban meninggal dunia mencapai 102.753 orang.
Kabar terbaru ini sejalan dengan meningkatnya angka jumlah pasien sembuh yang mencapai 376.669 orang.
Saat ini semua orang pasti ingin terhindar dari virus corona atau COVID-19 seperti mengenakan makser, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, rutin mencuci tangan, menjaga jarak, tak keluar rumah jika tak penting hingga makan makanan bergizi dan minum vitamin.
Dampak pandemi corona memang sangat besar saat bisnis banyak ditutup, sekolah diliburkan, dan sebagainya.
Akibatnya ekonomi 'terganggu' terutama masyarakat yang selama ini bergantung pada pekerjaan harian atau bulanan yang tak pasti.
Pandemi corona berdampak bagi masyarakat, pemasukan minim bahkan ada yang tak lagi mendapatkan penghasilan karena tak bisa lagi bekerja.
Baca: Terungkap Pelaku Pembakar Transgender Mira Masih Berusia Remaja: Hobi Tawuran dan Mabuk Lem
Hal yang sama dialami oleh sejumlah wanita pria alias waria di Kabupaten Sikka. Apalagi waria yang sudah lanjut usia (lansia).
Mereka kebanyakan memiliki pekerjaan tak tetap seperti mencuci pakaian, setrika, memasak menjadi koki saat ada pesta. Ada lagi yang membuka salon, berjualan nasi kuning di sekolah atau salon keliling.
Namun sejak pandemi corona banyak waria yang tak lagi bisa bekerja dan mendapatkan penghasilan. Mereka hanya dirumah dan berharap agar pandemi corona bisa segera berakhir sehingga mereka bisa kembali beraktivtas dan bekerja.
Kondisi ini membuat Hendrika Mayora Victoria alias Buda Mayora, Ketua Komunitas Fajar Sikka yang juga adalah seorang waria, turun tangan menemui satu persatu temannya.
Tak hanya mengunjungi waria dan mendengar cerita mereka, tapi Bunda Moyora juga membawa bantuan sembako seadanya. Bantuan beras, mie instan, minyak goreng, vitamin C, gula, telur dibawa untuk para waria.
Apa yang membuat Bunda Mayora terpanggil untuk membantu temannya, para waria itu? Bunda Mayora mengungkapkan alasannya kepada POSKUPANGWIKI, Selasa (7/4/2020), dikutip TRIBUNNEWSWIKI.COM, Sabtu (11/4/2020).
Bunda Mayora mengatakan, dia adalah seorang waria pasti bisa merasakan kesulitan yang dialami teman-temannya sata pandemi corona ini. Karenanya dia lalu melakukan kunjungan ke sejumlah waria dan mendengar apa yang dirasakan mereka.
Baca: Kronologi Transgender Tewas Dibakar Sekelompok Preman: Dikeroyok dan Dituduh Lakukan Pencurian
"Umumnya teman-teman waria merasa takut, cemas, gelisah takut keluar rumah. Ada yang kemudian akhirnya sakit secara biologis bahkan sakit psikologis karena ketakutan pada covid-19," kata Bunda Mayora kepada POSKUPANGWIKI.COM.
Karena tak keluar rumah, akhirnya waria tak bisa lagi bekerja dan mendapatkan penghasilan.
"Pandemi Covid-19 bikin lumpuh total semua usaha dan karya mereka (waria) yang bisa mendapatkan duit. Padahal mereka adalah tulang pungung keluarga," kata Bunda Mayora.
Baca: Pengakuan Gebby Vesta, Transgender Sejak 6 Tahun Silam, Resah 2 Tahun, Siap Mundur dari Dunia Artis
Salon tak ada pelanggan, tak bisa lagi mencuci pakaian di rumah orang, tak bisa lagi salon keliling, pesta tak ada sehingga mereka tak bisa memasak.
Apalagi waria yang sudah lansia, yang hanya bisa memasak dan menjual makanan di rumah atau sekolah, kini mereka tak bisa apa-apa lagi.
Dengar cerita memilukan para waria itu, Bunda Mayora akhirnya berinisiatif untuk mengumpulkan donasi agar bisa meringankan beban para waria khususnya waria lansia di Kabupaten Sikka.