TRIBUNNEWSWIKI.COM - Hingga Rabu (1/4/2020) virus corona atau Covid-19 telah menyebar hingga ke 201 negara di dunia dengan jumlah infeksi mencapai 854.608 kasus.
Dari jumlah tersebut, pasien sebanyak 176.908 orang tercatat sembuh, sementara 42.043 orang lainnya meninggal dunia.
Jumlah kasus yang semakin meningkat setiap hari mengakibatkan rumah sakit membutuhkan semakin banyak peralatan medis.
Baca: Cerita Dokter Wuhan Atasi Covid-19: Terpaksa Abaikan Pasien Kritis, hingga Belajar di Tempat Kerja
Baca: Status ODP dan PDP di Solo Naik Per 1 April, Sebaran Terbanyak Berada di Kelurahan Mojosongo
Pada kenyataannya, jumlah pasien melebihi jumlah peralatan medis yang tersedia sehingga kekurangan peralatan medis terjadi di banyak tempat, bahkan di negara maju sekalipun.
Namun, di tengah kekurangan itu, ternyata masih ada pasien berhati mulia yang merelakan fasilitas media yang didapatnya untuk diberikan kepada pasien lain yang menurutnya lebih membutuhkan.
Meskipun, pada akhirnya nyawanya tidak bisa diselamatkan.
Baca: Umumkan 130 Kasus Positif Covid-19 Tanpa Gejala, Silent Carrier di China Bisa Sepertiga Kasus Total
Baca: Lewat Revisi PP, Menkumham Yasonna Laoly Usul 300 Napi Korupsi di Atas 60 Tahun Dibebaskan
Melansir Mirror, orang berhati mulia tersebut adalah seorang wanita berusia 90 tahun bernama Suzanne Hoylaerts.
Suzanne meninggal setelah menolak ventilator yang seharusnya dipasangkan pada pernapasannya.
Lebih lanjut, Suzanne mengatakan bahwa ventilator tersebut baiknya digunakan oleh seseorang yang lebih muda saja.
Suzanne Hoylaerts sendiri dirawat di rumah sakit setelah dua minggu ia mulai mengalami sesak napas dan kehilangan nafsu makan.
Baca: April Mop, Kim Jaejoong JYJ Akui Kabar Positif Covid-19 Hanya Prank, Alasannya Menyentuh Hati
Wanita Belgia, dari Binkom, dekat Lubbeek, kemudian dites Covid-19 dan hasilnya postifi, sehingga ia harus ditempatkan dalam isolasi.
Pada fase inilah kondisinya kemudian berangsur memburuk.
Ketika dokter menyarankan untuk memasangkan ventilator pada Suzanne untuk membantunya bernapas, Suzanne menolaknya.
"Saya tidak ingin menggunakan alat bantu napas buatan. Simpan itu untuk pasien yang lebih muda.
Saya sudah memiliki kehidupan yang baik," kata Suzanne.
Suzanne lalu meninggal dunia dua hari setelah dirawat di rumah sakit dan menolak ventilator yang akan dipasang untuk membantunya bernapas.
Baca: Lulus Ujian Skripsi Online Saat Pandemi Covid-19, Mahasiswa Unpad Raih Predikat Sangat Memuaskan
Baca: Bantu Korban Meninggal Covid-19, Lembaga Sosial Umat Budha di Bekasi Siapkan Peti Jenazah Gratis
Putri Suzanne, Judith, mengatakan kepada surat kabar Belanda Het Laatste Nieuws bahwa ia bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal dan tidak menghadiri pemakaman ibunya.
"Saya tidak bisa mengucapkan selamat tinggal padanya, dan saya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menghadiri pemakamannya," ungkap Judith.
Judith mempertanyakan bagaimana ibunya terkena virus corona, padahal ia telah melakukan karantina mandiri dan mengisolasi dirinya di rumah.
Baca: Dokter Spesialis Paru Ungkap Efektivitas Masker Bedah dan Masker Kain di Tengah Pandemi Covid-19
Baca: Nivea Indonesia Kembangkan Produk Hand Sanitizer Baru Untuk Bantu Atasi Penyebaran Virus Corona
Di Belgia sendiri, teradapat 705 orang telah meninggal setelah dites positif Covid-19.