Selain mengungkap pabrik produk ganja, Yosia juga mengaku terlibat dalam penangkapan pasutri pengedar sabu asal Nigeria.
Pasutri tersebut diinformasikan hendak menyelundupkan sabu seberat 2,6 kilogram.
Saat itu Yosia mengikuti pasutri target sasaran tersebut mulai dari Bandara Soekarno Hatta hingga penginapannya di sebuah apartemen di daerah Kelapa Gading.
Awalnya istri sang pengedar sabu sudah ditangkap terlebih dahulu.
Sehingga tim buru sergap pun segera mencari sang suami yang bersangkutan di kawasan Johar Baru, Jakarta Pusat.
Untuk mengikuti gerak-gerik pelaku, Yosia menginap di hotel tempat di mana sasarannya hendak diciduk.
Bahkan, Yosia menyelinap ke toilet di kamar pelaku selama satu hari karena pelaku urung keluar dari kamarnya.
Sebagai perempuan biasa, Yosia sempat mengkhawatirkan keselamatannya.
“Saya kekurung. Takut sebenarnya, takut ketahuan. Pokoknya saya takut mati di situ karena yang saya tangkap bukan orang biasa,” kata Yosia.
Benar saja, Yosia nyaris terpergok di tempat persembunyiannya.
Namun, pelaku mencoba kabur dari hotel hingga akhirnya ditembak mati petugas kepolisian.
Risiko profesi, wajib tak kenal lelah
Menurut Yosia, menjadi seorang anggota polisi itu harus sigap ketika ditugaskan mengungkap suatu masalah dan wajib tak mengenal rasa lelah.
Oleh karena itu Yosia tak pernah mengeluh meski dirinya harus begadang demi mengungkap suatu kasus narkoba.
“Saya punya tanggung jawab untuk mengungkap kasus narkoba ya misalnya, ya itu harus saya jalani dengan senang. Toh juga ini passion saya,” kata Yosia.
Dengan kerap terlibat dlam penangkapan dan pengungkapan kasus narkoba, Yosia berharap pendistribusian narkoba ke masyarakat semakin berkurang.
“Saya selalu bayangin jika itu menyasar (kasus narkoba) itu ke keluarga atau ke teman saya. Saya tidak akan sanggup lihatnya, maka saya akan terus tangkap para pengedar itu,” tuturnya.
Baca: BNN Beri Isyarat Adanya Peningkatan Penyelundupan Narkoba ke Wilayah Calon Ibu Kota Negara Baru
Baca: Sabu-sabu
Baca: Ganja
(TRIBUNNEWSWIKI/Magi, KOMPAS/Cynthia Lova)