TRIBUNNEWSWIKI.COM - Belakangan ini, media milik Pemerintah China diberitakan mengecam pesepakbola Arsenal, Mesut Ozil yang berkomentar kritis tentang perlakuan terhadap minoritas Uighur di China.
Dalam postingannya di media sosial Instagram dan Twitter, Ozil menganggap Muslim tetap diam atas perlakuan buruk terhadap minoritas Muslim Uighur.
"Quran dibakar. Masjid ditutup. Sekolah mereka dilarang," tulis Ozil.
Gara-gara cuitannya di media sosial tersebut, stasiun televisi yang dikelola pemerintah China, CCTV memutuskan tidak menayangkan siaran langsung klub sepakbola Liga Inggris Arsenal berhadapan Manchester City pekan lalu.
Seperti diberitakan Bloomberg, CCTV lebih memilih menayangkan klub Tottenham Hotspur menghadapi Wolverhampton Wanderers.
Baca: Amerika Serikat Sahkan UU Penanganan Uighur, China: Kalian Akan Terima Akibatnya
Baca: Donald Trump Setujui Kesepakatan Tarif Baru, Cina Belum Merespon, Akankah Perang Dagang Berlanjut?
Kondisi Uighur dan Pendapat Akademisi
Sampai saat ini, diperkirakan satu juga warga etnis Uighur mendekam di kamp-kamp konsentrasi penampungan.
Kamp-kamp yang disebut sebagai kamp ‘re-edukasi’ ini diadakan untuk para warga etnis Uighur yang mayoritas Muslim.
Kamp yang disebut menjadi kamp konsentrasi pada abad modern ini memiliki ukuran yang kecil dan tidak layak.
Para tahanan ini dengan terpaksa tinggal di ruangan yang sempit yang berjejalan dengan tahanan lainnya.
Tak hanya itu saja, mereka juga sering mendapatkan siksaan secara rutin.
Sedangkan bagi warga etnis Uighur yang bebas dilaporkan menjalani hidup dengan kontrol dan pengawasan ketat.
Pengawasan dilakukan terhadap seluruh anggota keluarga mereka.
Direktur Institut Islam Global di Universitas Frankfurt, Jerman, Prof. Dr. Susanne Schroter menyebut bahwa cara-cara yang dilakukan Pemerintah Cina merupakan aksi barbarian.
Menurutnya, hal tersebut secara lazim dilakukan oleh Partai Komunis Cina untuk memaksa minoritas tunduk terhadap ideologi negara, seperti dilaporkan Deutsche Welle, (4/12/2019).
Tribunnewswiki.com melansir hasil wawancara portal berita Deutsche Welle dengan Prof. Dr. Susanne Schroter perihal kondisi yang terjadi.
Kamp “Re-Edukasi”: Pemaksaan Ideologi
Schroter menyebut bahwa Pemerintah CIna merupakan pemerintahan otoriter yang berupaya menundukkan oposisi - kaum minor - dengan menggunakan berbagai cara.
Cara-cara yang dilakukan ini tak hanya dilakukan terhadap etnis Uighur, melainkan terhadap semua kalangan yang menuntut liberalisasi ataupun demokratisasi.
“Dulu terdapat gerakan Falun-Gong yang ditumpas dengan cara-cara ekstrim, contoh lain adalah pendukung Dalai Lama di TIbet. Jadi tidak mengejutkan jika kita melihat bagaimana pemerintah CIna memperlakukan oposisi Uighur”, ungkap Schroter.