Sempat Dikurung 300 Hari, Korban Salah Tangkap Ini Dibebaskan Berkat Investigasi Mandiri Sang Ibu

Seorang pria menjadi korban salah tangkap dan dikurung 300 hari atas dugaan perampokan. Berkat investigasi mandiri sang ibu, pria tersebut dibebaskan.


zoom-inlihat foto
korban-salah-tangkap-penjara-borgol.jpg
pixabay.com
Ilustrasi salah tangkap. Seorang pria menjadi korban salah tangkap dan dikurung 300 hari atas dugaan perampokan. Berkat investigasi mandiri sang ibu, pria tersebut dibebaskan.


Seorang pria menjadi korban salah tangkap dan dikurung 300 hari atas dugaan perampokan. Berkat investigasi mandiri sang ibu, pria tersebut dibebaskan.

TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebuah kasus perampokan terjadi di Osaka pada Juni 2012 lalu.

Atas kejadian tersebut, seorang pemuda bernama Keisuke Doi ditahan untuk bertanggung jawab.

Doi ditahan lantaran diduga menjadi perampok yang berhasil membawa kabur uang tunai sebanyak 10.000 yen.

Uang tersebut jika di hitung menggunakan kurs rupiah pada 2019 mencapai Rp. 1.300.000 (belum termasuk inflasi).

Baca: Dituntut 10 Bulan Penjara, Kiss Hatta: Bandingkan dengan Jefri Nichol hingga Diberi Kejutan Ibunda

Baca: Pelakor dan Pebinor Ternyata Bisa Dipenjara, Kasus Selingkuh Marak di Indonesia, Ini Aturan Hukumnya

Modusnya adalah berpura-pura belanja di sebuah konbini (convenient store) di Kota Izumiotsu, Osaka.

Dikutip dari Tribunnews.com, sang perampok pria menggunakan jas hujan dan topeng.

Lalu ketika penjaga kasir membuka laci uang, pria tersebut langsung merampok uang.

Meskipun sempat ditahan oleh kasir, sang perampok berhasil membawa kabur uang dan melarikan diri.

Salah tangkap

Keisuke Doi, korban salah tangkap yang diduga sebagai perampok dan sudah ditahan selama 300 hari.
Keisuke Doi, korban salah tangkap yang diduga sebagai perampok di sebuah konbini (convenient store) di Kota Izumiotsu, Osaka. Doi sudah ditahan selama 300 hari. (Koresponden Tribunnews/Richard Susilo)

Rupanya Keisuke Doi adalah satu dari enam kasus korban salah tangkap kepolisian Jepang yang terjadi sejak 8 Juni 2002 lalu.

Pembuktian jika Doi tidak bersalah justru diungkap oleh sang ibu.

Ibunda Doi tak percaya jika sang anak mencuri uang 10.000 yen tersebut.

Lalu sang ibu mulai melakukan penyelidikan sendiri dibantu oleh pengacaranya, Masakazu Hirayama.

Satu bukti yang cukup kuat adalah ditemukannya foto saat Doi bersantai di rumah temannya, tepat saat perampokan terjadi.

Namun barang bukti tersebut dinilai kurang kuat oleh polisi.

Pihak kepolisian tetap bersikukuh Doi adalah pelaku perampokan berdasarkan sidik jari yang ditemukan di pintu kaca konbini.

Polisi mengatakan jika sidik jari Doi tertinggal di pintu, padahal konbini tersebut memiliki sistem pintu otomatis yang bisa membuka dan menutup sendiri.

Akhirnya sang ibu dan pengacaranya menemukan rekaman CCTV dari lokasi perampokan.

Dari penyelidikan yang cermat tersebut, sang ibu menemukan fakta jika putranya menyentuh pintu kaca konbini di hari yang berbeda dengan ketika perampokan tersebut terjadi.

Setelah itu tidak ada lagi sentuhan tangan Doi ke pintu kaca masuk konbini itu.

Rekaman CCTV tersebut sangat kuat sebagai bukti sehingga Juli 2014 Doi akhirnya dibebaskan dengan permintaan maaf dari polisi setempat.

Sempat dikurung 300 hari dan menjalani pemeriksaan 20 hari

Baca: Fakta Anak 12 Tahun Dikurung di Kandang Ayam: Orang Tua Sibuk Kerja hingga Dijanjikan Rumah Baru

Baca: Tidak Diberi Makan dan Dikurung di Rumah Kontrakan, 10 Kucing Lapar Lakukan Hal Ini

Doi akhirnya dibebaskan oleh putusan Pengadilan Distrik Osaka Cabang Kishiwada berkat keuletan sang ibu mencari kedilan untuk sang anak.

Doi mengaku takut menjadi 'mantan narapidana' yang ditangkap dengan tuduhan tindak pidana pencurian dan atau perampokan.

"Saya sudah takut. Saya akan selesai hidup ini sebagai penjahat," komentar Doi usai melaksanakan penyelidikan yang berlangsung 5 jam sehari selama 20 hari.

Doi ditahan 300 hari akibat perbuatan yang tidak dilakukannya.

"Begitu ada kecurigaan, setelah investigasi dilakukan dan ditangkap, ditahan, dan dituntut, ada bagian yang tidak dapat diperbaiki, kerusakan nama baik Doi," papar pengacara Masakazu Hirayama.

Doi yang marah tentang kurangnya permintaan maaf resmi, kemudian mengajukan gugatan perdata pada April 2015 dengan meminta ganti rugi 10 juta yen.

Namun, pengadilan distrik menolak permintaan penggugat dengan alasan tertulis dalam surat putusan yaitu:

"tidak diperlukan dalam penyelidikan biasa untuk kembali menyelidiki lima hari sebelumnya memeriksa video kamera keamanan."

Kemudian pada Juni 2017 Doi naik banding ke Pengadilan tinggi di Osaka dan akan berjuang sampai Mahkamah Agung mengabulkan tuntutannya tersebut.

Seorang pengacara, Atsuko Miwa yang mendukung perjuangan Doi menyatakan perbuatan pihak kepolisian menyebabkan hidup Doi menjadi hancur.

"Jika Anda (kepolisisan) menyangkal kecurigaan bahkan dalam kejahatan ringan, Anda sering ditahan untuk waktu yang lama. Teknik ini disebut 'sandera keadilan' dan ada ketakutan mengakibatkan munculnya pengakuan palsu," kata Atsuko Miwa.

"Polisi Jepang masih tidak memiliki kualitas yang baik seperti yang ditunjukkan pada contoh tersebut," tambah Atsuko Miwa.

"Jika konspirasi dilaksanakan, kejadian seperti itu lagi akan dapat meningkat lebih lanjut," lanjut Atsuko Miwa.

Kasus salah tangkap pada 2017

Kepala Polisi Miyoshi perfektur Tokushima Jepang, Toshinori Nishioka, sedang meminta maaf Senin ini (11/9/2017) karena salah tangkap
Kepala Polisi Miyoshi perfektur Tokushima Jepang, Toshinori Nishioka, sedang meminta maaf Senin ini (11/9/2017) karena salah tangkap (Koresponden Tribunnews/Richard Susilo)

Kasus salah tangkap lain juga pernah terjadi pada 2017 silam.

Kepala Polisi Miyoshi perfektur Tokushima Jepang, Toshinori Nishioka, (11/9/2017) meminta maaf kepada masyarakat.

Permintaan maaf tersebut terkait dengan adanya salah tangkap kepada seorang perempuan yang dituduh melakukan penipuan.

"Kami minta maaf sebesarnya atas kejadian salah tangkap ini dan akan menangani kasus lebih serius lagi guna mengantipasi jangan lagi terulang di masa depan. Penyelidikan menyeluruh akan kami lakukan dalam waktu dekat," papar Nishioka dalam jumpa persnya pada (11/9/2017).

Kasus berawal penjualan tiket konser musik terkenal di internet oleh seorang perempuan yang ternyata bodong.

Baca: Terungkap, Staf Khusus Wapres Lukmanul Hakim Pernah Dilaporkan Kasus Penipuan, Begini Statusnya

Baca: Seminggu Menjabat Menkopolhukam, Foto Anak Sulung Mahfud MD Dipakai untuk Modus Penipuan

Korban juga merupakan seorang perempuan yang rela merogoh kocek hingga  40.000 yen, merasa dirugikan karena tiket konser yang didapatnya ternyata palsu.

Polisi menduga kejahatan tersebut dilakukan oleh seorang perempuan berusia 21 tahun.

Sehingga pada 15 Mei 2017, seorang perempuan berusia 21 tahun ditangkap dan ditahan dari rumahnya di perfektur Aichi, kota Toyota.

Setelah diselidiki lebih lanjut ternyata kepolisian salah tangkap pelaku.

Karena seharusnya pelaku adalah siswi SMP Kyoto yang baru berusia 15 tahun.

Akhirnya, sang perempuan korban salah tangkap tersebut yang sempat ditahan 19 hari di penjara dibebaskan.

Salah tangkap tersebut terjadi karena pelaku asli menggunakan akun palsu dengan identitas sang perempuan berusia 21 tersebut.

"Saya sangat marah sekali dengan kejadian ini sehingga 19 harus harus mendekam di tahanan kepolisian. Berharap lain kali tak ada lagi kejadian merugikan seperti yang mengena kepada saya ini," kata perempuan korban salah tangkap.

Mendengar hal tersebut, Nishioka tampak sangat bersalah tadi dalam jumpa pers yang digelar.

Nishioka menunduk sangat dalam tanda penyesalannya akibat salah tangkap perempuan tersebut.

(TRIBUNNEWSWIKi/Magi, TRIBUNNEWS/Richard Susilo)









ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved