TRIBUNNEWSWIKI.COM - Sebuah kasus perampokan terjadi di Osaka pada Juni 2012 lalu.
Atas kejadian tersebut, seorang pemuda bernama Keisuke Doi ditahan untuk bertanggung jawab.
Doi ditahan lantaran diduga menjadi perampok yang berhasil membawa kabur uang tunai sebanyak 10.000 yen.
Uang tersebut jika di hitung menggunakan kurs rupiah pada 2019 mencapai Rp. 1.300.000 (belum termasuk inflasi).
Baca: Dituntut 10 Bulan Penjara, Kiss Hatta: Bandingkan dengan Jefri Nichol hingga Diberi Kejutan Ibunda
Baca: Pelakor dan Pebinor Ternyata Bisa Dipenjara, Kasus Selingkuh Marak di Indonesia, Ini Aturan Hukumnya
Modusnya adalah berpura-pura belanja di sebuah konbini (convenient store) di Kota Izumiotsu, Osaka.
Dikutip dari Tribunnews.com, sang perampok pria menggunakan jas hujan dan topeng.
Lalu ketika penjaga kasir membuka laci uang, pria tersebut langsung merampok uang.
Meskipun sempat ditahan oleh kasir, sang perampok berhasil membawa kabur uang dan melarikan diri.
Salah tangkap
Rupanya Keisuke Doi adalah satu dari enam kasus korban salah tangkap kepolisian Jepang yang terjadi sejak 8 Juni 2002 lalu.
Pembuktian jika Doi tidak bersalah justru diungkap oleh sang ibu.
Ibunda Doi tak percaya jika sang anak mencuri uang 10.000 yen tersebut.
Lalu sang ibu mulai melakukan penyelidikan sendiri dibantu oleh pengacaranya, Masakazu Hirayama.
Satu bukti yang cukup kuat adalah ditemukannya foto saat Doi bersantai di rumah temannya, tepat saat perampokan terjadi.
Namun barang bukti tersebut dinilai kurang kuat oleh polisi.
Pihak kepolisian tetap bersikukuh Doi adalah pelaku perampokan berdasarkan sidik jari yang ditemukan di pintu kaca konbini.
Polisi mengatakan jika sidik jari Doi tertinggal di pintu, padahal konbini tersebut memiliki sistem pintu otomatis yang bisa membuka dan menutup sendiri.
Akhirnya sang ibu dan pengacaranya menemukan rekaman CCTV dari lokasi perampokan.
Dari penyelidikan yang cermat tersebut, sang ibu menemukan fakta jika putranya menyentuh pintu kaca konbini di hari yang berbeda dengan ketika perampokan tersebut terjadi.
Setelah itu tidak ada lagi sentuhan tangan Doi ke pintu kaca masuk konbini itu.