"Karena di sini ada Pak Drajad sebagai kepala dinasnya (Disperindag Jatim)."
"Nanti bisa kita bicarakan bersama."
"Pasti kita bantu," imbuh Saiful.
Pengusaha mengeluh
Pernyataan Bupati Sidoarjo tentang limbah plastik tersebut disayangkan oleh pengusaha tahu, karena hampir 20 tahun mereka menggunakan limbah plastik sebagai bahan bakar.
"(Penggunaan plastik impor) sudah sejak zaman dulu digunakan (sebagai bahan bakar pembuatan tahu)."
"Siapa bisa melarang? Ya tidak bisa," ujar Gufron.
"Kenapa tidak dari dulu, kenapa baru sekarang dilarang?" katanya.
Baca: Rusuh Wamena, Buruh Pabrik Tahu Lolos dari Amuk Massa, Sempat Terkepung, Disembunyikan Warga Lokal
Baca: Daftar Lengkap UMK 2020 di 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, Kota Surabaya Masih yang Tertinggi
Baca: Kebakaran Hutan Lawu, Beberapa Titik Sulit Terpantau, 2000 Personel Masih Berupaya Padamkan Api
Menurutnya solusi bahan bakar menggunakan wood pellet atau pelet kayu tidak tepat karena diinilai terlalu mahal dan proses perapian tidak stabil.
Selain itu mereka juga harus mengganti mesin ketel senilai puluhan juta rupiah.
"Sebenarnya memang lebih enak pakai kayu bakar."
"Tapi mesin ketel harus diganti."
"Harga ketel ada yang Rp 65 juta, Rp 80 juta, tergantung kualitas."
"Bahkan ada yang sampai Rp 200 juta," ujar dia.
Namun jika memang harus berganti bahan bakar maka dia meminta bantuan berupa mesin ketel sebagai alat produksi berbahan bakar kayu.
Hal senada juga dikatakan Agus Suyanto, pengusaha tahu yang lain.
Menurutnya, bahan bakar pengganti tidak sesuai dengan alat produksi.
"Kurang enak ya kalau pakai itu (pelet kayu). Cost-nya juga mahal," tutur dia.
Menarik atensi dunia internasional
Dilansir dari pemberitaan Kompas.com, 17 November 2019, sebuah artikel dari New York Times mengabarkan ada bahaya pada produk tahu dan telur ayam yang diproduksi di Desa Tropodo dan Desa Bangun, Jawa Timur.