20 Tahun Berbahan Bakar Sampah Beracun, Pengusaha Tahu di Tropodo Deklarasi Stop Sampah Plastik

Dilema dialami oleh pengusaha tahu di Tropodo, Sidoarjo, Jawa Timur karena harga bahan bakar kayu yang mahal untuk gantikan sampah plastik beracun.


zoom-inlihat foto
sampah-tropoppdo.jpg
Kompas.com
Pekerja mengambil sampah plastik impor untuk bahan bakar tungku pemasak kedelai pada industri tahu di Desa Tropodo, Sidoarjo, Selasa (18/6/2019).


TRIBUNNEWSIKI.COM - Sudah tiga tahun penguasaha bernama Gufron memproduksi tahu di pabriknya yang ada di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur.

Selama itu Gufron memanfaatkan sampah plastik untuk bahan bakar memasak kedelai menjadi tahu.

Sampah plastik dipilih Gufron karena harganya yang murah, lebih cepat panas, dan nyala api yang lebih lama.

Ternyata, Gufron tidak sendiri sebagai pengusaha tahu.

Ada puluhan pengusaha tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo.

Baca: Daftar Gaji Menteri, Staf Khusus, dan Bos BUMN 2020, Ahok Bakal Terima Uang Milyaran Per Bulan?

Baca: BNN Grebek Pabrik Narkoba di Tasikmalaya dan Gudangnya di Jawa Tengah, Modus Pabrik Produksi Sumpit

Baca: Hakim Internasional PBB Setujui Penyelidikan Kejahatan Genosida terhadap Etnis Rohingya di Myanmar

Pekerja pabrik tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, memasukkan limbah plastik impor sebagai bahan bakar pengganti kayu, Selasa (26/11/2019).
Pekerja pabrik tahu di Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, memasukkan limbah plastik impor sebagai bahan bakar pengganti kayu, Selasa (26/11/2019). (Kompas.com)

Sama seperti seperti Gufron, sebagian besar pengusaha menggunakan limbah plastik impor untuk bahan bakar.

Dikutip Tribunnewswiki.com dari Kompas.com, Kamis (28/11/2019), biasanya mereka (para pengusaha tahu di Desa Tropodo-red) membeli limbah plastik dari perusahaan kertas dengan harga Rp 200.000 per truk.

Limbah tersebut bisa digunakan untuk memproduksi tahu selama 4 hari.

"Saya punya pabrik tahu sudah berjalan tiga tahun dan sejak awal menggunakan sampah plastik."

"Kenapa menggunakan sampah plastik, ya karena lebih murah, lebih cepat panas, lebih kuat dan lebih lama habis," kata Gufron, Selasa (26/11/2019).

Kayu bahan bakar mahal

Selasa (26/11/2019), Bupati Sidoarjo Saiful llah meminta pengusaha tahu di sentra industri Desa Tropodo untuk tidak lagi menggunakan limbah plastik impor untuk bahan bakar.

"Limbah sampah plastik yang dibakar itu polusinya bukan main, polusi di udara tidak bisa hilang, dan mencemari udara kita," kata Saiful Ilah.

Ia mengatakan pengusaha tahu harus beralih menggunakan bahan bakar ramah lingkungan seperti pelet kayu, walaupun biaya produksi lebih mahal.

"Penjualan tahu dinaikkan sedikit-sedikit tidak masalah."

"Masyarakat pasti tidak mempermasalahkan adanya kenaikan, karena mereka tau bahan bakar yang ramah lingkungan itu sedikit lebih mahal," ujar dia.

Petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat datang memantau kondisi industri tahu Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Rabu (3/7/2019).
Petugas dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan saat datang memantau kondisi industri tahu Desa Tropodo, Krian, Sidoarjo, Rabu (3/7/2019). (Tribun)

Ia mengklaim pelet kayu adalah bahan bakar yang ramah lingkungan dengan kadar co2 yang rendah sehingga menghasilkan pembakaran yang sempurna.

Rencananya, para pengusaha tahu akan mendapatkan subsido pelet kayu sebagai bahan bakar.

"Ya, awalnya nanti kita subsidi."

"Kita akan bicarakan dengan ibu Gubernur."





Halaman
1234
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Red CobeX (2010)

    Red CobeX adalah sebuah film komedi Indonesia yang
  • Film - Utusan Iblis (2025)

    Utusan Iblis adalah sebuah film horor Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved