RUSUH WAMENA, 14 Warga Diselamatkan Warga Asli Papua: Selamat karena Disembunyikan di Rumah

Dia dan 13 kawannya yang lain diajak bersembunyi di rumah warga asli Wamena tersebut sampai akhirnya Sunam diamankan aparat.


zoom-inlihat foto
rusuh-wamena00999.jpg
TRIBUNNEWS BOGOR/NAUFAL FAUZY
Sunam (33), korban selamat rusuh Wamena yang selamat karena disembunyikan warga asli Papua.


Dia mengaku bahwa kepolisian juga sudah mendatangi tempat kejadian pembakaran dan yang lainnya di kawasan Wamena.

Selain itu, kata Paulus, pihaknya kini sedang menempatkan pasukan di beberapa titik untuk membatasi masuknya pihak-pihak yang akan melakukan kekerasan.

"Tapi prinsipnya itu situasinal, emergency yang semua tidak bisa kita hindari. Kita sedang berupaya untuk menempatkan pasukan TNI -Polri di beberapa titik agar membatasi masuknya pihak-pihak yang akan melakukan kekerasan di sekitar Wamena. Memang sudah diindikasikan (pelaku) tidak oleh warga Wamena, mereka yang berasal dari luar," ungkapnya.

Sembunyi di Kandang Babi

rusuhwamena001
Rahmatia sedang mendampingi putrinya yang sedang terlelap tidur di Posko Pengungsian Yonif 751/Raider, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, Selasa (1/10/2019).

Seorang korban selamat dari kerusuhan Wamena juga mengisahkan bagaimana ia dan anaknya bisa selamat.

Rahmatia, seorang ibu sembunyi di kandang babi selama 6 jam agar selamat saat terjadi kerusuhan di Wamena, Papua.

Rahmatia masih tertahan mendampingi putrinya di Posko Pengungsian Yonif 751/Raider, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, Selasa (1/10/2019).

Ia pun menangis kala mengingat detik-detik dirinya dan putrinya selamat dari amukan massa di Wamena pada 23 September 2019 lalu.

Sebelum peristiwa terjadi, dirinya sudah mendengar isu bahwa di wilayah tempatnya tinggal akan terjadi kerusuhan.

Namun, ia mengaku tidak begitu percaya begitu saja dengan kabar yang beredar tersebut.

Orang Papua, Diungsikan ke Gereja

Rahmatia di Posko Pengungsian Yonif 751/Raider, Distrik Sentani, Jayapura, Papua
Rahmatia di Posko Pengungsian Yonif 751/Raider, Distrik Sentani, Jayapura, Papua, Selasa (1/10/2019).

"Kemarinnya ada isu-isu tanggal 23 mau kacau. Antara percaya dan tidak kan biasa. Biasanya bilang kacau, tapi tak terjadi. Kalau ada aksi sedikit, (biasanya) langsung bisa dibubarkan," kata Rahmatia saat ditemui TribunnewsBogor.com di lokasi, Selasa (1/10/2019).

Pada 23 September 2019, sekitar pukul 08.00 WIT, Rahmatia mengaku dihubungi pihak sekolah untuk segera menjemput anaknya.

Padahal anaknya belum lama berangkat ke sekolahnya.

Setelah pulang kembali ke rumah, barulah aksi massa yang masif tersebut disadari Rahmatia.

Batu dan panah tiba-tiba berseliweran di area dekat rumahnya yang berlokasi di dekat Simpang Bike, Wamena.

"Pas pulang sekolah, di rumah kita tutup pintu, batu dan panah sudah berjatuhan, kita bisa lari karena belum membakar," kata Rahmatia.

Baca: Pasca Kerusuhan, 1470 Warga asal Sumbar yang Tinggal di Wamena, Ingin Pulang Kampung

Baca: Suara Ustadz Abdul Somad UAS Bergetar Tanggapi Rusuh Wamena: Kita Disatukan oleh Pancasila

Setelah terdengar teriakan massa 'bakar semuanya' sambil mengamuk, Rahmatia dan anaknya berlari ke belakang rumah kemudian bersembunyi di kandang babi.

Rahmatia mengaku dirinya bersembunyi hampir 6 jam.

Sampai akhirnya aparat menyelamatkannya dan mengevakuasinya ke Kantor Polisi.

"Tidak lama kemudian ada yang teriak 'bakar semua,' kita lari ke belakang dengan terdesak sembunyi dalam kandang babi.





Halaman
1234
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved