Tak Mampu Belikan Susu, Orangtua Balita di Sulbar Beri 5 Gelas Kopi Per Hari Sejak Usia 6 Bulan

Balita yang diberikan minuman kopi sejak usia 6 bulan itu seperti memiliki ketergantungan pada kopi tubruk: Hadijah tak bisa tidur sebelum minum kopi


zoom-inlihat foto
hadijah3433.jpg
Kompas.com
Hadijah, balita berusia 14 bulan sedang minum kopi yang dimasukkan dalam dot. Tak Mampu Belikan Susu, Orangtua Balita di Sulbar Beri 5 Gelas Kopi Per Hari Sejak Usia 6 Bulan.


TRIBUNNEWSWIKI.COM  – Hadijah Haura, bayi di bawah lima tahun (balita) berusia 14 bulan, tiap harinya minum kopi lima gelas atau sekitar 1,5 liter.

Orangtuanya yang tak mampu membelikan susu formula buat Hadijah Haura mengaku terpaksa memberikan minuman kopi tubruk yang biasanya dikonsumsi oleh orang dewasa.

Balita yang diberikan minuman kopi sejak usia 6 bulan itu kini seperti memiliki ketergantungan pada kopi tubruk: Hadijah tak bisa tidur sebelum minum kopi tubruk.

Sarifuddin dan Anita, orangtua sang balita, tinggal di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Baca: Sering BAB di Celana, Balita 4 Tahun Tewas Dianiaya Kakak Iparnya

Baca: Kisah Haslinda, Orang Pertama yang Temukan Bayi Dikubur Hidup-hidup: Bayi Dikubur di Kolong Rumahnya

balita222
Hadijah Haura dan kedua orangtuanya. Tak Mampu Belikan Susu, Orangtua Balita di Sulbar Beri 5 Gelas Kopi Per Hari Sejak Usia 6 Bulan.

Dikutip TribunJakarta.com dari Kompas.com orangtua balita tersebut, Sarifuddin dan Anita memberikan kopi tubruk sejak sang buah hati berusia enam bulan.

Hal tersebut terpaksa dilakukan Sarifuddin dan Anita karena tak mampu membeli susu.

Rutin diberi kopi sejak bayi, Hadijah Haura kerap bertingkah tak biasa di malam hari.

Baca: Viral Video Polisi Nempel di Kap Mobil, Hotman Paris Berniat Biayai Sekolah Anak Bripka Eka

Baca: VIRAL Video Penampakan Pocong di Tangerang: Setelah Dicek ke Lokasi, Ini Fakta Sebenarnya

Mulanya Anita mengaku gaji Rp 20.000 sebagai buruh kupas kopra bersama suaminya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapur kecil keluarganya.

"Ya mau diapalagi, pendapatannya tidak cukup untuk membeli susu. Terpaksa setiap hari hanya diberi dot berisi kopi,” jelas Anita dikutip TribunJakarta.com dari Kompas.com

Menurut Anita, Ia dan suaminya Sarifuddin hanya menggantungkan hidup dari upah bekerja sebagai pengupas kopra.

Saat musim panen, Sarifuddin kerap beralih profesi menjadi buruh angkut padi di sawah karena upahnya lebih besar.

Namun usai panen, ia kembali menekuni profesi sebagai buruh kupas kopra.

Selama sehari bekerja, maksimal ia mendapatkan penghasilan bersama suaminya hingga Rp 40.000.

Itupun jika ada kelapa yang bisa diolah jadi kopra.

Baca: Terlalu Banyak Napi Kasus Narkoba, Malaysia Mulai Perlakukan Pengguna Bukan sebagai Kriminal

Baca: VIDEO VIRAL Hindari Tilang Pengemudi Mobil Nekat Tabrak Polisi: Warga Marah Lempari Mobil

Saat bahan bakunya habis ia kerap beristirahat sampai ada bahan baku terkumpul untuk diolah.

Meski khawatir dengan perkembangan kesehatan buah hatinya yang terus menerus disuguhi kopi, Anita mengaku tidak punya banyak pilihan karena alasan pendapatan rumah tangga.

Kalau ada upah setiap hari itu biasanya hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari, itu pun kadang tidak cukup.

Selama ini Anita mengaku tak pernah mendapatkan bantuan susu atau asupan gizi dari dinas kesehatan untuk anaknya.

Meski mengonsumsi kopi, pertumbuhan fisik bayi itu seperti anak normal lainnya.

Hadijah tergolong anak super aktif.

Meski usianya baru 14 bulan, Hadijah sudah mahir berjalan sendiri, hingga aktif bermain bersama teman-teman sebayanya.





Halaman
12
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved