17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional : Puputan Jagaraga (1846-1849)

Puputan Jagaraga atau Perang Bali III adalah perlawanan Kerajaan Buleleng terhadap pasukan Belanda pada tahun 1846 hingga 1849.


zoom-inlihat foto
puputan-jagaraga.jpg
coremc.ud
Puputan Jagaraga

Puputan Jagaraga atau Perang Bali III adalah perlawanan Kerajaan Buleleng terhadap pasukan Belanda pada tahun 1846 hingga 1849.




  • Latar Belakang


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Puputan Jagaraga atau Perang Bali III adalah perlawanan Kerajaan Buleleng terhadap pasukan Belanda pada tahun 1846 hingga 1849.

Belanda memasuki pulau Bali pada abad ke-19 dengan niat untuk melakukan penjajahan.

Salah satu hal yang melatarbelakangi Puputan Jagaraga adalah adanya adat Tawan Karang.

Tawan Karang adalah hak istimewa yang dimiliki raja-raja Bali untuk menyita kapal-kapal yang terdampar di wilayah perairan kerajaan mereka lengkap beserta seluruh muatannya.

Hukum tersebut sudah ada sejak zaman Bali Kuno hingga zaman Puputan Badung pada 1906.

Adanya Tawan Karang ini menyebabkan keselamatan harta benda dan awak kapal Belanda menjadi terancam.

Pada 1843, Belanda mengadakan perjanjian dengan beberapa Kerajaan di Bali untuk menghapus adat Tawan Karang.

Sebab, dengan adanya Tawan Karang dapat mengancam keselamatan harta benda dan awak kapal Belanda.

Setahun setelah itu, terjadi peristiwa perampasan terhadap kapal-kapal Belanda di pantai Prancah (Bali Barat) dan Sangsit (Buleleng bagian Timur).

Belanda mengutus Asisten Residen Banyuwangi bernama Ravia de Lignij ke Bali untuk bernegosiasi.

Belanda menuntut dilepaskannya kapal-kapal tersebut, yang kemudian ditolak oleh Kerajaan Buleleng.

Penolakan itu kemudian dijadikan alasan Belanda untuk menyerang Buleleng. (1)

Baca: Perang Puputan Margarana

Baca: 17 Agustus – Seri Sejarah Nasional: Perang Puputan Badung

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Puputan Bayu (1771)

 

Perlawanan Bali
Perlawanan Bali (wikimedia.org)

  • Kronologi Peristiwa


Pada 1846, perang meletus dengan kedatangan pasukan perang Belanda ke Buleleng.

Pasukan perang ini terdiri atas pasukan gabungan Batavia dan Surabaya yang berjumlah 1.700 orang dan 400 orang tentara Eropa.

Penyerangan itu dipimpin oleh Komandan Angkatan Laut Kerajaan Belanda, Laksamana E.B. van den Bosch.

Sementara pasukan angkatan darat dikomando Letnan Kolonel J Bakker.

Belanda menawarkan diplomasi terakhir sebelum melakukan penyerangan.

Patih Kerajaan Buleleng, I Gusti Ketut Jelantik dituntut untuk meminta maaf dan mengganti rugi kapal-kapal Belanda yang dirampas.

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ketut Jelantik

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ketut Pudja

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ngurah Made Agung

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ngurah Rai

 

Kerajaan Buleleng
Kerajaan Buleleng (slideshare.net)

Diplomasi itu ditolak oleh I Gusti Ketut Jelantik yang kemudian memimpin perlawanan rakyat Buleleng.

Benteng pertahanan pun dibangun, salah satunya Benteng Jagaraga yang berbentuk 'Supit Urang'.

Pada hari penyerangan, kapal-kapal Belanda menyerbu dengan tembakan meriam.

Pasukan Buleleng bertahan di dalam benteng hingga membuat Belanda kewalahan.

Pasukan dari Batavia dan Madura kembali didatangkan pada 26 Mei 1846.

I Gusti Ketut Jelantik bertahan dan terus memimpin pasukannya untuk menjaga Raja Buleleng, I Gusti Ngurah Made.

Pasukan Belanda berhasil menyentuh istana, membuat Raja Buleleng mundur dan mengamankan diri ke Jagaraga.

Setelah ibukota Buleleng jatuh ke tangan Belanda, I Gusti Ketut Jelantik memulai taktik gerilya dengan memanfaatkan kondisi Jagaraga yang masih dipenuhi hutan, sungai, sawah serta perbukitan.

I Gusti Ketut Jelantik menghimpun kekuatan dari kerajaan-kerajaan Bali yang kemudian bergabung di Jagaraga.

Karena sadar pasukannya kalah dalam persenjataan dan logistik, I Gusti Ketut Jelantik menyusun strategi bertahan dengan model makara wyuha atau supit udang.

Menggunakan taktik gerilya, Buleleng terus maju sepanjang tahun 1848.

Karena merasa terancam, Belanda menggunakan taktik adu domba.

Utusan-utusan dikirim untuk memecah-belah persatuan kerajaan-kerajaan Bali.

Selain itu Belanda juga menyiarkan rumor tentang sebagian kerajaan di Bali berhasil direbut.

Rumor tidak benar itu membuat pasukan Buleleng menjadi khawatir dan bahkan meninggalkan benteng pertahanan Jagaraga.

Pada 15 April 1849, Jagaraga dikepung secara mendadak.

I Gusti Ketut Jelantik harus mundur ke Gunung Batur.

Dalam perjalanannya, I Gusti Ketut Jelantik akhirnya meninggal dunia.

Sepeninggal I Gusti Ketut Jelantik, Buleleng berhasil direbut Belanda 

Pulau Bali juga berhasil jatuh ke tangan Belanda. (2)

Lukisan I Gusti Ketut Jelantik
Lukisan I Gusti Ketut Jelantik (Kolase foto (https://bulelengkab.go.id))

  • Dampak Peristiwa


Sepeninggal I Gusti Ketut Jelantik, Buleleng berhasil direbut Belanda 

Pulau Bali juga berhasil jatuh ke tangan Belanda dan Kerajaan-kerajaan Bali menjadi tunduk dengan Belanda.

Dari segi ekonomi, Belanda juga menguasai monopoli perdagangan di Bali.

Selain itu adat sute dalam tradisi ngaben juga dihapus. (3)

(TribunnewsWiki/Indah)

Jangan lupa subscribe channel YoutubeTribunnewsWiki



Nama Puputan Jagaraga
Kategori Sejarah Nusantara
Waktu 1846-1849
Lokasi Buleleng, Bali
Tokoh I Gusti Ketut Jelantik


Sumber :


1. sejarahbudayanusantara.weebly.com
2. tirto.id
3. vanilayuki.blogspot.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved