17 Agustus – Seri Sejarah Nasional: Perang Puputan Badung

Perang Puputan Badung merupakan peristiwa bersejarah yang tidak terlupakan. Puncak Perang Puputan Badung terjadi pada 20 September 1906 di Badung, Bali.


zoom-inlihat foto
perang-puputan-badung1.jpg
Arsip Nasional RI, Jakarta
Saling tembak antara pasukan ekspedisi Belanda dengan pasukan Badung ketika menyerang desa Kesiman, 19 September 1906.

Perang Puputan Badung merupakan peristiwa bersejarah yang tidak terlupakan. Puncak Perang Puputan Badung terjadi pada 20 September 1906 di Badung, Bali.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Perang Puputan Badung merupakan peristiwa bersejarah yang tidak terlupakan, terjadi pada 20 September 1906 di Badung, Bali.

Perang Puputan Badung melibatkan rakyat Bali dan rajanya dengan pihak Belanda.

Puputan merupakan tradisi masyarakat Bali yaitu perlawanan bersenjata habis-habisan sampai mati demi kehormatan tanah air.

Istilah puputan berasal dari kata 'puput' yang dalam Bahasa Bali berarti tanggal, putus, habis, atau mati.

Perang Puputan berarti perang sampai mati dan berlaku untuk seluruh warga yang ada dari semua kasta sebagai bentuk perlawanan, termasuk mengorbankan jiwa dan raga sampai titik darah penghabisan.

Perang Puputan Badung menjadi bentuk perang perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung, Bali.

Selain itu, Perang Puputan Badung juga berarti sebagai bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung. (1)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perang Batak (1878-1907)

Baca: 17 AGUSTUS - Seri Sejarah Nasional: Perang Banjar (1859-1905)

Perang Puputan Badung
Penurunan pasukan ekspedisi Belanda dari kapal-kapal angkutan di Pantai Sanur, 14 September 1906. (Arsip Nasional RI, Jakarta)

  • Latar Belakang


Perang Puputan Badung bermula pada 27 Mei 1904.

Saat itu, pukul 06.00 pagi, sebuah kapal dagang terdampar di pantai timur Kerajaan Badung.

Kapal dagang itu bernama Sri Komala yang berbendera Belanda.

Kapal itu berlayar dari Banjarmasin mengangkut barang dagangan milik pedagang Cina bernama Kwee Tek Tjiang.

Karena kandas dan pecah, maka para penumpang Sri Komala menurunkan barang yang masih bisa diselamatkan seperti peti kayu, petu sing dan koper kulit.

Sementara itu, nakhoda kapal meminta bantuan kepada syahbandar di Sanur untuk menjaga keamanan barang-barang yang diturunkan.

Peristiwa kandasnya kapal itu kemudian dilaporkan kepada Ida Bagus Ngurah, penguasa daerah Sanur dengan tujuan untuk ikut mengamankan barang-barang yang telah diturunkan tadi atas saran Sik Bo, seorang warga Tiongkok di Sanur.

Ida Bagus Ngurah kemudian berangkat ke tepi pantai untuk memeriksa peristiwa tersebut.

Berkat bantuan 11 orang tenaga kerja, barang-barang yang masih tersisa di kapal kemudian diturunkan dan diangkut.

Tenaga kerja itu bekerja dengan jujur dan tidak ada yang mencuri.

Utusan Raja Badung kemudian datang ke pantai untuk memeriksa pada 29 mei 1904, dua hari setelah kapal itu terdampar.

Saat itu, Kwee Tek Tjiang membuat laporan palsu kepada utusan raja dan menyatakan bahwa rakyat telah mencuri 3.700 ringgit uang perak dan 2.300 uang kepeng.

Karena tidak disertai bukti, laporan itu pun tidak diterima oleh utusan Kerajaan Badung.

Tidak puas, Kwee Tek Tjiang kemudian menghadap langsung ke Raja Badung yang menolak pengaduan itu.

Selain dipandang tidak sesuai, Kwee Tek Tjiang juga menuduh rakyat Badung telah merampas kapal pada 27 Mei 1904.

Tuduhan itu pun diulangi oleh residen, bahkan langsung menuntut agar Raja Badung memberikan ganti rugi sebesar 3.000 ringgit.

Karena rakyat telah menyatakan kejujurannya melalui sumpah, maka Raja Badung tetap pada keyakinannya bahwa apa yang dituduhkan itu hanya tipu muslihat.

Hal itu dipandang membahayakan kedudukan pemerintah kolonial di Bali.

Residen J. Escbach mengusulkan agar Raja Badung tetap dikenakan denda 3000 ringgit (7500 gulden).

Meskipun telah diultimatum, Raja Badung saat itu I Gusti Ngurah Denpasar, tetap menolak tuduhan dan tuntutan sampai batas waktu pada tanggal 9 Januari 1905.

Hal itu membuat Belanda kemudian mengirimkan kapal perang ke perairan Badung dan melakukan blokade ekonomi.

Tindakan kejam pemerintah kolonial melalui patroli angkatan lautnya semakin sering dilakukan, lebih-lebih sikap Raja Badung yang tidak menunjukkan tanda-tanda menyerah terhadap tuntutan ganti rugi.

Meskipun pihak Kerajaan Badung mengalami kerugian setiap hari sebesar 1500 ringgit dari pemasukan pelabuhan akibat blokade ekonomi itu, Raja Badung tetap teguh pada keyakinannya menolak tuduhan gubernurmen.

Sementara itu, blokade ekonomi di darat juga dilakukan dengan cara bekerja sama dengan raja-raja tetangga seperti Gianyar, Bangli, Klungkung, Tabanan, dan Karangasem.

Namun kerajaan-kerajaan tetangga itu sulit memutuskan hubungan dengan Raja Badung karena kepentingannya masing-masing.

Blokade ekonomi yang dilancarkan di laut atau di darat ternyata gagal dan tidak mampu membuat Raja Badung menyerah.

Kondisi ini mengakibatkan hubungan politik antara Kerajaan Badung dan Pemerintah Gubernurmen semakin tegang.

Gubernur Jenderal Van Hentzs kemudian mengirim surat secara langsung kepada Raja Badung pada tanggal 17 Juli 1906.

Selain kepada I Gusti Ngurah Pemecutan dan I Gusti Ngurah Denpasar, Van Hentzs juga mengirim surat kepada Raja Tabanan, I Gusti Ngurah Agung, raja yang dengan tegas memihak Raja Badung.

Surat Gubernur Jenderal itu pada pokoknya mengulangi tuntutan pemerintah yang diajukan sebelumnya, bahkan jumlah ganti rugi yang dituntut lebih besar yaitu 5173 ringgit (12.932,50 gulden).

Jumlah ini termasuk biaya blokade yang sudah dikeluarkan pemerintah Gubernurmen dan harus dibayar oleh Raja Badung.

Substansi penting dari isi surat itu adalah batas waktu yang diberikan.

Gubernur Jenderal mengancam akan mengambil tindakan militer apabila Raja Badung dan Tabanan tidak memberikan jawaban yang memuaskan sampai tanggal 1 September 1906.

Namun ancaman itu tidak sedikitpun mengubah pendirian Raja Badung.

Raja dan rakyat Badung kemudian melakukan sumpah menurut Agama Hindu untuk tetap pada pendirian mereka.

Keteguhan raja dan rakyat Badung itulah yang kemudian memicu Perang Puputan Badung. (2)

Sumber lain mengatakan bahwa rakyat Sanur yang tinggal di pesisir pantai memang merampas barang-barang milik saudagar Cina tadi.

Meski demikian, rakyat Sanur sebenarnya tidak salah, mereka hanya menjalankan adat tawan karang yang sudah berlaku sejak dahulu kala.

Hanya saja saat itu Kerajaan badung telanjur menyepakati perjanjian dengan Belanda untuk menghapus penerapan hukum adat tersebut pada 28 November 1842.

Laporan saudagar Cina itu kemudian dimanfaatkan oleh Belanda untuk menyerang karena beranggapan Badung telah melanggar perjanjian.

Adat tawan karang sendiri berisi bahwa raja-raja di Bali berhak menyita kapal atau perahu yang terdampar di wilayah kekuasaan mereka sekaligus merampas seluruh isi muatannya.

Namun jika kapal atau perahu itu sengaja berlabuh, maka tidak disita hanya harus memberi persembahan.

Hukum tawan karang sudah sangat lama diterapkan, yakni sejak masa Bali Kuno.

Prasasti Bebetin yang berangka tahun 896 Masehi dan Prasasti Sembiran tahun 923 Masehi telah menyebutkan aturan terkait hukum tawan karang itu.

Namun, kedatangan Belanda ke Pulau Dewata membuat kerukunan raja-raja di Bali terganggu, bahkan sempat terlibat konflik satu sama lain.

Salah satu penyebabnya adalah keinginan Belanda yang memaksakan agar hukum tawan karang dihapuskan.

Kehendak bangsa penjajah ini tidak serta-merta disepakati oleh seluruh pemimpin wilayah atau raja-raja di Bali.

Ada yang pasrah karena menyadari kurang kekuatan, tapi ada pula yang sempat melawan kendati kemudian akhirnya menyerah juga.

Parahnya lagi, selain menginginkan tawan karang dihapus, Belanda juga mendesak raja-raja Bali untuk takluk dan mengakui kekuasaannya. (3)

Perang Puputan Badung2
Panglima Pasukan ekspedisi Belanda, Mayor Jenderal MB Rost Van Tonningen memimpin pasukannya menduduki Desa Panjer. (KITLV, Leiden)

  • Kronologi


Keteguhan raja dan rakyat Badung ternyata membuat Belanda benar-benar melancarkan operasi militer.

Ekspedisi militer V sudah sampai di Selat Badung pada 12 September 1906 dengan kekuatan armada berjumlah 16 buah kapal yang terdiri atas sembilan kapal perang dan tujuh kapal pengangkut.

Kapal-kapal perang tersebut di antaranya De Hortog Hendrik, Koningin Wilhelmena dan Der Nederlander dilengkapi dengan meriam berbagai kaliber.

Seluruh personel yang ikut dalam ekspedisi itu berjumlah 3053 orang yang terdiri atas 2312 orang personel militer dan 741 orang sipil termasuk wartawan perang.

Utusan dikirim pada sore harinya untuk menyampaikan ultimatum kepada Raja Badung dan Tabanan agar menyerah dalam tempo 2 x 24 jam.

Ultimatum ditolak tegas, sehingga pasukan Belanda mendarat di Pantai Sanur pada 14 September 1906.

Pabean Sanur kemudian diduduki dan dijadikan benteng pertahanan untuk melakukan serangan ke arah Kesiman sebagai benteng terdepan Raja Badung.

Laskar Badung yang sudah siap perang memperkuat bentengnya masing-masing di depan Puri Kesiman, Denpasar, dan Pemecutan.

Keesokan harinya Laskar Badung menduduki beberapa desa yaitu Taman Intaran, Buruan, dan Sindu.

Di Sindu terjadi kontak senjata antara Laskar Badung dan Batalyon 11 Pasukan Belanda.

Laskar Badung yang datang dari Kelandis dan Bengkel kemudian bergerak menuju Kepisah dan mencapai Tanjung Bungkak, menyusul 500 laskar dari Kasiman di bawah pimpinan I Gusti Gde Ngurah Kesiman bergerak ke selatan.

Mengetahui kedatangan Laskar Badung, pasukan Belanda kemudian melepaskan tembakan salvo dari benteng pertahanan mereka yang hanya berjarak 100 meter.

Pertempuran hebat pun meletus di seluruh Desa Sanur pada 15 September 1906.

Pasukan Belanda banyak yang mengalami luka-luka, sedangkan dari Laskar Badung tercatat 33 orang tewas dan 12 orang luka akibat tembakan meriam.

Laskar Badung di Renon memasang ranjau dari bambu untuk membendung dan menghambat serangan pasukan kavaleri Belanda yang menggunakan kuda.

Pertahanan di desa-desa yang mengelilingi tiga puri, yaitu Puri Kesiman, Puri Denpasar, dan Puri Pemecutan diperkuat termasuk desa-desa di Renon, Lantang Bejuh, Sesetan, Panjer, Kelandis, Bengkel, dan Tanjung Bungkak.

Pada 16 September 1906, pukul 07.00 pasukan Belanda di bawah Rost Van Toningen bergerak meninggalkan benteng di Pabena Sanur.

Pasukan itu bergerak mengikuti jalan besar ke sebelah barat menuju Tanjung Bungkak, yang terdiri atas batalion 18 dan 20, sedangkan batalyon 11 bergerak di sebelah kiri.

Kedatangan batalyon 18 dan 20 di Desa Panjer disambut oleh serangan gencar dari sekitar 2000 orang anggota Laskar Badung.

Karena matahari hampir terbenam, dengan cepat pasukan Belanda meninggalkan medan pertempuran untuk kembali ke bentengnya di Sanur.

Pada waktu mereka tiba di benteng, sekitar 30 orang anggota laskar Kerajaan Badung dari Kesiman menyerang Pabean Sanur namun tembakan yang dilepaskan angkatan laut Belanda berhasil memukul mundur laskar kerajaan.

Perang sehari pada tanggal 16 September di sekitar Panjer dan Sesetan sangat melelahkan pasukan Belanda, sehingga keesokan harinya pada 17 September 1906 pasukan Belanda lebih banyak tinggal di benteng untuk membahas taktik penyerangan terhadap kota dan ketiga puri Kerajaan Badung.

Meskipun demikian, meriam artileri yang ditempatkan dekat benteng mulai ditembakkan bersama-sama dengan tembakan meriam dari kapal perang.

Tembakan-tembakan meriam itu diarahkan ke uri sekitar kota dan Puri kesiman.

Taktik untuk menyerang dan mengepung ibu kota dari sebelah utara atau dari belakang Puri Denpasar yang didahului dengan penyerangan ke Puri Kesiman, baru diputuskan pada tanggal 18 September 1906.

Keputusan itu baru diambil dengan pasti setelah ada laporan dari mata-mata Belanda bahwa I Gusti Gde Ngurah Kesiman yang ikut menyerang benteng Belanda di Sanur telah terbunuh.

Pagi harinya, sejak pukul 08.00 sampai 18.00 meriam penembak yang terletak di sebelah kanan benteng ditembakkan ke arah kota.

Ratusan meriam ditembakkan ke Puri Pemecutan dan Denpasar, beberapa mengenai puri dan lebih banyak jatuh di luar.

Sebanyak 1.500 orang turut menghadapi serangan Belanda dan memperkuat benteng pertahanan di tepi timur Kesiman.

Peperangan terus berlanjut sampai 20 September 1906.

Sekitar pukul 09.00, Raja I Gusti Ngurah Denpasar mendengar bahwa pasukan Belanda telah masuk ke Kota Denpasar.

Di Puri Denpasar telah berkumpul keluarga dan pengikut setia raja, kira-kira 250 orang.

Raja kemudian memerintahkan untuk membakar Puri Denpasar.

Pada pukul 10.30, batalion 11 pasukan Belanda telah menduduki perempatan Jalan Denpasar menuju Tangguntiti.

Pada pukul 11.00, raja dan rombongannya keluar puri.

Laki-laki dan wanita semuanya membawa senjata yang terdiri atas keris dan tombak.

Anak-anak juga demikian dan bayi digendong.

Rombongan ini bergerak ke sebelah utara melalui pintu gerbang puri dan keluar jalan besar, sampai di persimpangan Jalan Jero Belaluan.

Rombongan meneruskan perjalanan sampai jarak sekitar 300 meter dari batalion 11.

Mereka terus maju ke arah musuh hingga jarak sekitar tinggal 70 langkah saja dari pasukan Belanda.

Saat itu, tembakan salvo dilepaskan yang membuat beberapa orang jatuh tersungkur, termasuk Gusti Nurah Gde Denpasar, Raja Badung gugur.

Pengikut yang masih hidup melanjutkan penyerbuannya dan tembakan gencar pasukan Belanda diteruskan.

Pada waktu itulah terjadi peristiwa yang mengerikan bagi orang Belanda.

Cara melawan pantang menyerah, berperang sampai titik darah penghabiskan, raja dan rakyat Badung rela dan iklas membela kebenaran yang luhur.

Tewas membela kebenaran adalah surga bagi mereka dan keyakinan ini tetap teguh mereka pegang sampai saat terakhir, sesuai dengan ajaran agama mereka, Hindu.

Sementara itu, di dekat perempatan jalan dari Denpasar menuju Tangguntiti dan Kesiman masih terjadi serangan laskar Kerajaan Badung.

Laskar Badung yang masih menduduki Jero Taensiat melakukan serangan sporadis terhadap kedudukan pasukan Belanda.

Oleh karena peperangan yang tidak seimbang antara pasukan militer propesional lengkap dengan persenjatan modern pada waktu itu terhadap laskar konvensional dengan senjata seadanya.

Pasukan Belanda bergerak ke selatan menuju dan menduduki Puri Denpasar pada jam 13.00 dari depan Puri Denpasar, pasukan Belanda melanjutkan penyerangannya ke Puri Pemecutan pada jam 15.00.

Raja Badung dari Puri Pemecutan, I Gusti Gde Ngurah Pemecutan, memerintahkan untuk membakar Puri sebelum melakukan perlawanan terhadap pasukan Belanda.

Pada pukul 15.00 batalion sudah meninggalkan halaman depan Puri Denpasar dan sampai di Puri Suci tidak terjadi perlawanan Laskar Kerajaan Badung, sebab konsentrasi pertahanan Kerajaan Badung berada di sebelah kiri depan Puri Pemecutan.

Tembakan gencar yang dilepaskan pasukan Belanda bertujuan membebaskan jalan di depannya dari serangan mendadak Laskar Badung karena sejumlah laskar semakin mendekati kedudukan pasukan Belanda. (4)

Perang Puputan Badung3
Pasukan ekspedisi militer belanda menyeberang sungai di sebelah timur Desa Kesiman ketika menyerang Kesiman pada 19 September 1906. (Arsip Nasional RI, Jakarta)

Sang raja beserta keluarga, termasuk permaisuri, para pangeran dan putri-putri, bahkan para pelayan, para pendeta, dan seluruh warga kerajaan memakai pakaian serba putih yang dilengkapi keris sebagai senjata.

Usai memerintahkan istana dibakar dan merusak semua barang berharga, I Gusti Ngurah Made Agung menemui rakyat untuk bersiap berangkat ke medan laga.

Pertempuran bakal berlangsung di Taensiat yang terletak di sebelah utara pusat kerajaan.

Sebelumnya, raja telah memerintahkan sebagian pasukan kerajaan di bawah pimpinan Cokorda Ngurah Gede untuk menahan Belanda sebisa mungkin.

Kekuatan memang tidak berimbang.

Belanda punya senjata api bahkan meriam, sedangkan prajurit Badung hanya bersenjatakan keris, pedang, dan tombak.

Namun, titah'puputan' sudah terucap.

Raja beserta pasukan dan rakyat Badung melawan Belanda dengan gagah-berani.

Mereka lebih baik mati sebagai ksatria daripada hidup sebagai taklukan.

Sang raja akhirnya gugur, meski begitu prajurit Badung yang tersisa masih terus melakukan perlawanan.

Akhirnya perang usai dengan kemenangan di pihak Belanda.

Meski begitu, kisah nyata perang Puputan Badung selalu dikenang.

Medan tempurnya kini diabadikan sebagai area monumen di Denpasar.

Sementara Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo pada 15 November 2015. (5)

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Perang Puputan Badung
Kategori Sejarah Nasional
Waktu 20 September 1906
Tempat Badung, Bali
Pihak Terlibat Rakyat Bali (Indonesia) dengan Belanda


Sumber :


1. daerah.sindonews.com
2. badungkab.go.id
3. tirto.id
4. badungkab.go.id
5. tirto.id


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Fathul Amanah






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved