17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ketut Jelantik

I Gusti Ketut Jelantik adalah tokoh perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Bali. Atas jasa-jasanya, I Gusti Ketut Jelantik diberi gelar pahlawan nasional pada tahun 1993.


zoom-inlihat foto
i-gusti-ketut-jelantik-2.jpg
Kolase foto (pahlawancenter.com)
I Gusti Ketut Jelantik, (1800 - 1849)

I Gusti Ketut Jelantik adalah tokoh perjuangan kemerdekaan yang berasal dari Bali. Atas jasa-jasanya, I Gusti Ketut Jelantik diberi gelar pahlawan nasional pada tahun 1993.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - I Gusti Ketut Jelantik adalah seorang tokoh bali yang berjuang pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

I Gusti Ketut Jelantik memiliki keberanian dalam menentang penindasan yang dilakukan  pemerintahan Belanda.

Dalam permulaan pertentangannya dengan Belanda, I Gusti Ketut Jelantik membuat sikap dan tindakan dengan menolak tuntutan Belanda untuk mengganti kerugian atas kapal-kapal yang dirampas.

I Gusti Ketut Jelantik juga disuruh untuk mengakui kedaulatan Belanda di Hindia Belanda.

Disinilah kemudian menyulut kemarahan I Gusti Ketut Jelantik yang dikobarkan dalam perang.

Perang yang terkenal di deerah Bali adalah Perang Jagaraga yang salah satu tokohnya adalah I Gusti Ketut Jelantik.

Berkat jasa dan perjuangannya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993. [1]

I Gusti Ketut Jelantik 3
Lukisan I Gusti Ketut Jelantik. Kolase foto (https://bulelengkab.go.id)

  • Kehidupan Pribadi


Sejak masa muda I Gusti Ketut Jelantik sering berkunjung di desa Kalibukbuk yang pernah berdiri sebuah kerajaan kecil dengan hasil pertanian yang melimpah dan perahu yang ramai.

I Gusti Ketut Jelantik mempunyai istri bernama I Gusti Ayu Made Geria dan seorang putrinya bernama I Gusti Ayu Jelantik.

Di desa Kalibukbuk, I Gusti Ketut Jelantik bertani dengan keluarganya.

Ia mendapatkan modal untuk membeli tanah tegal dan mulai menanam tembakau, jagung, umbi-umbian, dan pohon kelapa.

Karena produktivitas pertaniannya tinggi, I Gusti Ketut Jelantik membangun tempat pemujaan yang berkembang menjadi pura yang terkenal dengan nama Pura Bukit Sari.

I Gusti Ketut Jelantik bersama dengan para bawahannya turut serta mengangkut padi dan hasil pertanian dengan menggunakan kuda.

Anak dari I Gusti Ketut Jelantik yaitu I Gusti Ayu Jelantik mempunyai perwatakan seperti anak laki-laki.

Pada suatu waktu, I Gusti Ketut Jelantik pernah didatangi oleh seseorang yang tergopoh-gopoh memberitahukan kabar bahwa karena ada musibah yang menimpa kakaknya I Gusti Nyoman Raka.

Karena mendengar kabar tersebut, I Gusti Ketut Jelantik kemudian bergegas menemui adiknya yang bersimbah darah.

Disinilah kakaknya kemudian menghembuskan napas terakhirnya.

Karena kejadian ini, I Gusti Ketut Jelantik diangkat sebagai penguasa lokal sejak 1898.

I Gusti Ketut Jelantik bekerja di bawah asisten residen pemerintahan Hindia Belanda. [2]

  • Masa Perjuangan: Pertempuran Jagaraga


Saat Hindia Belanda diterapkan sistem Culturstelseel, masyarakat Bali mendapatkan berbagai bentuk penindasan.

Berkat berbagai peristiwa yang dialami rakyatnya, I Gusti Ketut Jelantik terpanggil untuk melakukan perlawanan.

Pada suatu waktu, terjadi perundingan antara Belanda yang dipimpin oleh JPT Mayor Komisaris Pemerintah Belanda dengan Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem dan I Gusti Ketut Jelantik sebagai Patih Agung.

 I Gusti Ketut Jelantik marah karena peraturan dan perundingan yang dibuat merugikan daerah dan rakyatnya karena ia diharuskan mengakui kedaulatan Belanda atas daerahnya

I Gusti Ketut Jelantik marah, sambil memukul dada dengan kepalan tangan mengatakan:

“Tidak bisa menguasai negeri orang lain hanya dengan sehelai kertas saja tetapi harus diselesaikan diatas ujung keris. Selama saya masih hidup Kerajaan ini tidak akan pernah mengakui kedaulatan Belanda".

Pada peristiwa lain, pada 12 Mei 1845, Belanda mencari cara alternatif  dengan perantaran Raja Klungkung untuk menyelesaikan masalah perampasan perahu dagang yang terdampar di Pantai Sangit.

Dalam pertemuan tersebut Belanda menuntut agar daerah Buleleng menghapuskan hak “ Tawan Karang “, yaitu hak dari Raja Bali untuk merampas perahu yang terdampar di pantai Wilayah Kerajaannya ).

Daerah Buleleng juga diharukan mengakui kedaulatan Belanda.

Dalam ,momentum tersebut, I Gusti Ketut Jelantik memberikan reaksi yang keras, sambil menghunus keris lalu menusuk kertas perjanjian dan mencerca orang Belanda:

”Hai kau si mata putih (utusan Belanda) yang biadab, sampaikan pesanku kepada pimpinanmu di Betawi agar segera menyerang Den Bukit (daerah Bali Utara)".

Pada tanggal 27 Juni 1846, serdadu Belanda mengadakan perlawanan terhadap pasukan Bali dan bertempur hingga jatuhnya Buleleng ke tangan Belanda pada tanggal 29 1846.

Raja Buleleng dan I Gusti Ketut Jelantik mundur ke Desa Jagaraga untuk menyusun kekuatan.

Disinilah Perang Jagaraga dimulai.

Dalam mempertahankan Desa Jagaraga, I Gusti Ketut Jelantik aktif memperkuat pasukannya, dan mendapat dukungan dari kerajaan lainnya seperti Karang Asem, Klungkung, Badung dan Mengwi.

I Gusti Ketut Jelantik adalah seseorang yang ahli dalam strategi perang.

Kemahirannya membangun benteng Jagaraga membuat ia diberi gelar “Supit Urang”.

Tidak hanya itu, ia juga disegani oleh raja-raja di Bali karena keberanian dan tekadnya menentang penjajah Belanda.

Pada tanggal 6 hingga 8 Juni 1848, pihak Belanda mengirim ekspedisi yang kedua dengan mendaratkan pasukannya di Sangsit.

Perlawanan dari pasukan Bali dipimpin oleh I Gusti Ketut Jelantik.

Di pertempuran ini, I Gusti Ketut Jelantik memberi komando dari Benteng Jagaraga.

Benteng Jagaraga sendiri adalah benteng paling kuat dari empat benteng lainnya.

Sementara pasukan Belanda dipimpin oleh Jenderal Van der Wijck.

Namun dalam aksinya, pasukan darat Belanda tidak berhasil mendesak pasukan Bali.

Mereka (serdadu Belanda) kemudian memerintahkan pasukannya mundur ke panati.

Di pihak pasukan Bali hanya satu benteng saja yang jatuh ke tangan Belanda yaitu benteng disebelah timur Sansit dekat Bungkulan.

Ketidakmampuan serdadu Belanda mendesak Benteng Jagaraga ini menambah kepercayaan raja-raja Bali akan kekuatan dan kepemimpinanI Gusti Ketut Jelantik.

Keberhasilan  kelompok-kelompok kelaskaran pimpinan I Gusti Ketut Jelantik, mengagetkan serdadu Belanda hingga menggegerkan Parlemen Belanda.

Kemenangan laskar Buleleng pimpinan I Gusti Ketut Jelantik, menyebabkan pihak Belanda mengirimkan expedisinya pada tanggal 31 Maret 1849 di bawah pimpinan Jenderal Michiels.

Serdadu-serdadu Belanda kemudian melakukan tembakan-tembakan meriam dari atas kapal, mereka bergerak menuju Singaraja pada tanggal 2 April 1849.

Raja Karangasem dan Raja Buleleng mengirim utusannya untuk menyerahkan surat kepada pimpinan militer di kapal, namun gagal.

Kemudian pada tanggal 7 April 1849 Raja Buleleng I Gusti Ngurah Made Karangasem dan Patih I Gusti Ketut Jelantik bersama 10-12 ribu orang prajurit berhadapan dengan tentara Belanda yang dipimpin oleh Jenderal Michiels.

Disini pihak Belanda tetap kukuh pendiriannya untuk menuntut agar Raja Buleleng mengakui kekuasaan pemerintah Hindia Belanda dan membongkar semua benteng yang ada di Jagaraga.

Tuntutan Belanda tidak dilaksanakan oleh I Gusti Ketut Jelantik, maka terjadilah perang

Pada perang kali ini, benteng Jagaraga jatuh ketangan Belanda pada tanggal 16 April 1849.

Sementara pasukan Bali terdesak mundur sampai ke pegunungan Batur Kintamani, selanjutnya terus ke Karangasem untuk mencari bantuan.

Kemudian saat di Karangasem pasukan rakyat Bali diserang oleh pasukan Belanda yang didatangkan dari Lombok.

Pasukan Belanda terus menyerang sampai kepegunungan Bale Punduk.

Disinilah kemudian I Gusti Ketut Jelantik gugur dalam perjuangannya. [3]

  • Penghargaan


I Gusti Ketut Jelantik wafat dalam peperangan di Jagaraga pada 16 April 1849.

Serangan serdadu Belanda ke pasukan Bali membuat I Gusti Ketut Jelantik terdesak dan mundur sampai ke pegunungan Batur Kintamani, selanjutnya terus ke Karangasem untuk mencari bantuan.

Pada perang ini, benteng Jagaraga pada akhirnya jatuh ke tangan Belanda pada tanggal 16 April 1849.

Serangan pasukan Belanda bertubi-tubi sampai ke pegunungan Batur Kintamani, selanjutnya terus ke Karangasem untuk mencari bantuan.

Saat terdesak, Pasukan Belanda terus menyerang sampai kepegunungan Bale Punduk.

Disinilah kemudian I Gusti Ketut Jelantik gugur dalam perjuangannya.

Berkat jasa dan perjuangannya, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993. [4]

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: I Gusti Ketut Pudja

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Pajongga Daeng Ngalle

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Johannes Abraham Dimara

Baca: 17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Katamso Darmokusumo

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama I Gusti Ketut Jelantik
Gelar Patih
Lahir Tukadmungga, Buleleng, Buleleng, 1800
Wafat Jagaraga, Buleleng, 1849
Riwayat Pendidikan Pendidikan Tradisional di Lingkungan Keluarga
Keluarga
Ayah I Gusti Nyoman Jelantik Raja
Kakak I Gusti Nyoman Raka
Ibu Gusti Biang Kompyang
Istri I Gusti Ayu Made Geria
Anak I Gusti Ayu Jelantik


Sumber :


1. pahlawancenter.com
2. pahlawancenter.com
3. www.buleleng.com
4. pahlawancenter.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved