Heboh Kartu Surga Rp 250.000 Janjikan Dunia-Akhirat, Sosiolog: Perlu Edukasi, Bukan Disesat-sesatkan

Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Kartu Surga yang dilaporkan dibagi-bagikan oleh pemimpin tarekat ke anggotanya yang dihargai sebesar 10 hingga 250 ribu.(Kiri), Sosiolog Agama, UIN Sunan Kalijaga, Al Makin, memberikan pendapat perihal fenomena tersebut.(Kanan)

Berdasarkan informasi ini, MUI Gowa kemudian berinisiatif untuk melakukan investigasi secara mendalam dan menemukan fakta yang serupa dari laporan warga.

Tim investigasi MUI kemudian membuat himbauan berulang hingga sempat mengeluarkan fatwa perihal organisasi tersebut pada tahun 2016.

Sempat pula dilakukan mediasi, dan namun kemudian diakhiri dengan laporan ke polisi pada tahun ini.

Dilansir oleh Tribunnews.com, (6/11/2019), aliran yang dipimpin Puang La'lang ini juga dinyatakan sesat oleh MUI.

Hal tersebut tertuang dalam Fatwa MUI bernomor Kep 01/MUI-Gowa/XI/2016 tanggal 9 Nopember 2016.

Rekomendasi Pembubaran Tarekat

Dilansir oleh Tribun Timur, (7/11/2019), Bupati Gowa, Adnan Purcihta Ichsan Yasin Limpo telah mengeluarkan surat rekomendasi tentang pembubaran Tarekat Tajul Khalwatiyah Syekh Yusuf.

Saat mengungkap kasus ini, polisi turut menyita barang bukti sebanyak 138 buah dari kediaman Puang Lalang serta yang dikumpulkan Majelis Ulama Indonesia atau MUI Kabupaten Gowa.

Pendapat Sosiolog Agama, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Seorang ahli sosiologi agama dan juga guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Profesor Al Makin berpendapat bahwa kelompok-kelompok seperti tarekat milik Puang La'lang tergolong kelompok keagamaan baru.

Menurut Al Makin, kartu surga disebut menjadi andalan tarekat tersebut lantaran dapat menarik banyak pengikutnya.

Al Makin menambahkan bahwa terdapat faktor karakteristik dasar dari orang Indonesia.

"Orang Indonesia ini dari dulu wataknya memang religius, terutama orang Jawa dan orang Bugis, orang Minang religius, apalagi orang Aceh. Dan tidak hanya dalam hal Islam, pada umunya masyarakat Indonesia ini religius." ujar Al Makin.

Al Makin berpendapat bahwa upaya kritik terhadap agama di Indonesia selalu gagal.

Menurutnya, agama selalu menjadi amunisi para politisi yang kemudian ditanggapi dengan antusias oleh masyarakat.

Al Makin menyebut daerah Sulawesi dan sekitarnya termasuk hotspot.

"Dan Sulawesi atau masyarakat Bugis dan sekitarnya itu termasuk hotspot."

"Hotspot kemunculan para nabi, para orang-orang yang mengaku nabi, itu orang-orang Bugis sangat kuat, sama dengan masyarakat Jawa dan Sunda, itu juga sama-sama kuat."

"Kenapa? mungkin karena religius. Selama kita masih religius ya itu akan muncul terus," ujarnya kepada ABC.

Menurut Al Makin, tuduhan penodaan agama sering dipakai dalam menghadapi kelompok-kelompok seperti pimpinan Puang La'lang.

Al Makin menilai bahwa pendekatan yang digunakan bukanlah 'dituduh menyesatkan', melainkan 'diberi edukasi'.

"Itu enggak bisa disesat-sesatkan, itu pendekatan yang enggak tepat menurut saya. Pendekatannya adalah edukasi, pendidikan. Sesat-menyesatkan itu bukan solusi, itu justru menjadi bumerang itu."

"Itu sekali lagi tidak menghargai kebebasan beragama, tidak menghargai kreativitas." katanya.

Menurut Al Makin, Indonesia tidak akan pernah berhenti melahirkan tokoh keagamaan (dalam hal ini ia sebut sebagai Nabi).

Menurutnya (yang mengacu pada studi terbarunya) bahwa ia telah menemukan sekitar 1300 kelompok keagamaan yang serupa seperti tareket di Gowa.

"Berarti kan 1300 total kalau masing-masing ngaku ada nabi. Mau di fatwa apapun enggak bisa berhenti."

"Satu-satunya cara adalah dengan dipahami, kenapa mereka muncul, dipelajari, dan juga edukasi kepada masyarakat. Kalau disesat-sesatkan mereka tambah senang."

Al Makin berpendapat bahwa 1300 kelompok keagamaan baru ini memiliki persamaan kreativitas.

Menurutnya, kreativitas yang dimaksud adalah keberanian mereka memadukan banyak ajaran, terutama ajaran tradisi lokal.

"Kita ini kan kaya sekali tradisi lokalnya. Bahasa kita banyak, tradisi kita banyak. Nah para Nabi baru ini biasanya memadukan hal yang lebih baru lagi."

"Mereka juga punya karakteristik yang sama dalam ilmu sosiologi yaitu keberaniannya memadukan suasana lokal dengan tantangan zaman yang saat ini ada."

Al Makin berpendapat bahwa dalam agama mapan seperti Islam, Kristen, dan Hindu banyak sekali ruang kreativitas yang tertutup karena sudah ada ortodoksi.

Hal tersebut menurutnya membuat usaha interpretasi menjadi kecil.

 "Sementara para Nabi kita, orang-orang yang mengaku Nabi, mengaku mendapat wahyu dan mendirikan kelompok baru, mereka ini punya daya kreativitas yang tidak mungkin diwadahi oleh kelompok yang sudah mapan."

"Makanya mereka memilih jalan mendirikan sesuatu yang baru." kata Al Makin.

Al Makin berpendapat bahwa pendekatan dalam menyikapi fenomena tersebut adalah dengan adanya edukasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: haerahr

Berita Populer