Deretan Fakta Daun Kratom, Tanaman Obat Asal Kalimantan yang Peredarannya Dilarang BNN

Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Putradi Pamungkas
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Teh daun Kratom.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr Ari, kratom mengandung mitraginin yang berfungsi sebagai katalisator opium agar bisa bekerja dengan baik.

Mitraginin ini juga dapat berfungsi sebagai pengganti opium sehingga jika diberikan kepada pengguna opium maka ketergantungan mereka pelan-pelan dapat berkurang.

Selain itu, mitraginin yang termasuk ke golongan alkaloid ini dapat memberikan efek sedatif dan anti nyeri.

“Saya pernah uji coba ke mencit. Mencitnya kita beri panas, dosis semakin tinggi itu dia tidak merasa sakit,” papar Dr Ari.

Di saat bersamaan, Dr Ari memperhatikan bahwa kratom ini dapat memberikan efek high atau mabuk kepada para pengguna tradisional di Kalimantan, meski dampak itu belum dibuktikannya secara klinis.

Namun, jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat, Dr Ari yakin kratom tidak akan menyebabkan ketergantungan.

Tidak sebabkan ketergantungan

Para peminum teh kratom di Kampung Tembak, Kalimantan Barat, mengaku mseki cukup sering mengonsumsi kratom, namun menyebabkan ketergantungan hingga mencari-cari kratom setiap hari.

Di sana, warga meminum daun kratom kering yang diseduh dengan air panas, persis seperti membuat teh.

Bukan hanya tampilannya saja yang mirip teh, namun bau dan rasanya pun mirip dengan teh hijau yang pahit.

Baca: Menhub Persilakan Tiongkok Investasi Bangun Transportasi di Ibu Kota Baru Guna Kurangi APBN

Jadi obat turun-temurun

Bahkan menurut Sutono, warga Kampung Tembak yang sudah mengonsumsi kratom selama 10 tahun yakin jika kratom mujarab dijadikan obat.

“Kalau kolesterol saya naik, (tekanan) darah saya naik, pasti turun darahnya. Tidak perlu pakai obat-obat lain. Jadi saya tetap mengonsumsi obat ini (kratom) secara rutin untuk menurunkan darah tinggi dan kolesterol,” kata Sutono.

Begitupun Pascalis yakin bahwa kratom selama ini telah membantu sakit persendiannya dan juga untuk membantunya tidur.

“Saya susah tidur. Untuk tidur, minum ini. Tidurnya total. Segar di pagi hari,” ungkapnya.

Pascalis menolak jika dampak itu semua adalah sugesti pikiran belaka.

“Tidak. Saya pribadi (merasakan), bukan terpengaruh,” katanya.

Pendapat itu langsung didukung oleh Agung, warga lainnya.

Bagaimanapun, kratom telah menjadi tanaman obat bagi mereka secara turun-menurun.

“Dulu orang-orang tua (minum), jadi dikonsumsi sudah lama, digunakan sebagai tanaman obat. Tapi ternyata ada yang cari, yang beli, ya sudah dibudidayakan saja. Berarti itu menjadi sumber pendapatan. Tetapi kalau tidak ada, tetap akan menjadi obat,” tutur Agung.

Namun apakah tradisi itu harus dihentikan karena berubahnya legalitas kratom di Indonesia, pertanyaan itu hanya akan dapat dijawab oleh regulator.

(TribunnewsWIKI/Kompas.com/Rachmawati/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan
Editor: Putradi Pamungkas
BERITA TERKAIT

Berita Populer