Mengutip laman badan hukum narkoba di Amerika Serikat (AS) atau Drug Enforcement Administration (DEA), kratom juga disebut dengan nama biak, kakuam, ithang, dan thom.
Daun yang memiliki nama latin Mitragyna speciosa ini dikenal pula dengan nama daun purik atau ketum.
Belakangan, tanaman kratom banyak dibicarakan ketika Badan Nartkotika Nasional (BNN) akan melarang peredaran kratom.
Bahkan, BNN tengah memroses agar kratom dimasukkan ke dalam narkotika golongan I.
Namun terlepas dari itu, ada beberapa fakta yang menarik terkait tanaman kratom tersebut.
Baca: Akan Dilarang BNN, Ini Manfaat dan Efek Kratom, Tanaman Obat Asal Kalimantan
Bagi sekitar 300.000 petani di Kalimantan, kratom merupakan sumber pendapatan mereka.
Dikutip dari Kompas.com, Selasa (3/9/2019), salah seorang petani yang menggantungkan hidupnya dari tanaman kratom adalah Matius atau yang akrab dipanggil Mario oleh orang-orang di kampungnya.
Tanpa menggunakan alat, ia memanjat pohon kratom setinggi belasan meter di hutan di kampung Tembak, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Pohon itu berbatang tunggal sehingga Mario harus mengapit kakinya agar bisa naik ke puncak pohon.
Setibanya di puncak, dia mengeluarkan parang dan mulai menebas ranting-ranting yang berdaun.
Begitu merasa cukup, dia turun dengan cara yang sama dengan dia naik.
Itulah panen kratomnya hari itu.
Mario adalah salah seorang petani di daerah itu yang membudidayakan kratom, meski terkadang dia masih memanen kratom langsung di hutan.
Dia memulainya lima tahun yang lalu, setelah diajarkan oleh temannya.
Setelah mendapatkan manfaatnya, dia bahkan mengganti setengah hektar lahan karetnya menjadi kratom.
“Agak enak kratom lah cara kerjanya dibanding karet.
Walaupun musim hujan bisa menghasilkan uang, kalau karet mana bisa menghasilkan uang,” ungkapnya.
Dalam satu hari dia dan dua temannya bisa memetik 200 kilogram daun kratom yang jika kering akan susut menjadi sepersepuluhnya.
“Lumayanlah dapat 600.000 sehari.
Tapi belum langsung jadi uang.
Tapi paling tidak sudah kita petik, empat hari di rumah terus kita jemur sebentar sekitar lima menit baru kita kemas,” jelasnya.
Setiap bulan, rata-rata 300 hingga 500 ton kratom diekspor dari Kalimantan Barat, sekitar 80 persennya adalah dalam bentuk bubuk, sisanya dalam bentuk daun kering remahan.
Amerika Serikat merupakan negara dengan tujuan ekspor kratom terbesar, meski di beberapa negara bagiannya melarang kratom.
Di negara bagian New York, bar-bar yang menyediakan kratom mulai bermunculan.
Di negara ini, banyak konsumen kratom (dalam bentuk bubuk atau pil) menggunakannya untuk terapi ketergantungan opium, isu yang cukup pelik di negara itu, dengan lebih dari 130 orang mati dari overdosis opium setiap hari pada 2017, menurut Departemen Kesehatan (Health & Human Services) AS.
Namun, status kratom di Amerika Serikat saat ini juga masih dalam limbo.
Pada 2016, badan hukum narkoba (Drug Enforcement Administration) AS mengumumkan untuk memasukkan kratom ke Golongan I narkotika dan tak mengizinkan kratom digunakan dalam medis.
Namun protes keras dari para pengguna dan beberapa senator AS membuat departemen itu menunda keputusannya.
Pontianak menjadi pos perdagangan utama kratom di Kalimantan.
Data dari kantor pos utama, pada tahun 2016 menunjukkan bahwa wilayah itu mengirim sekitar 400 ton ke luar negeri setiap bulan yang memiliki nilai sekitar 130 juta Dolar AS per tahun.
Menurut American Kratom Association, sebanyak lima juta orang Amerika Serikat menggunakan kratom dan jumlahnya terus bertambah.
Para pelanggan biasanya mendapatkan kratom melalui paltform online seperti Facebook, Instagram dan toko online Ali Baba.
“Sekitar 90 persen dari pengiriman kami dari provinsi Kalimantan Barat adalah kratom yang dijual ke Amerika Serikat,” kata kepala kantor pos Zaenal Hamid.
Banyaknya permintaan kratom membuat para petani di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang menjadi pusat produksi kratom, beralih profesi.
Awalnya mereka memproduksi komoditas tradisional seperti karet dan minyak kelapa sawit, namun sekarang menjadi petani kratom.
Mereka mulai menanam pohon kratom dan mengubahnya menjadi tanaman komersial.
Dikutip dari dw.com, pada tahun 2017 ekspor kratom sempat turun karena cuaca buruk dan ketakutan akan salmonela.
Namun sejak tahun lalu, ekspor kratom kembali menguat.
“Pasar Kratom telah sangat baik selama dekade terakhir dan masih memiliki potensi di tahun-tahun mendatang,” jelas Prabu, petani Kratom.
“Orang akan melihat manfaatnya, cepat atau lambat,” tambah Prabu.
Baca: Ini Deretan Nama Korban Tewas Kecelakaan Beruntun di Tol Cipularang, Jasa Marga Masih Evakuasi Mobil
Di Indonesia sendiri, Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang memroses kratom untuk dimasukkan ke Golongan I narkotika.
“Kita sudah ajukan untuk dimasukan ke dalam appendix undang-undang 35 tahun 2009,” ungkap juru bicara BNN Sulistyo Pudjo seperti dilansir Kompas.
Pemerintah juga sedang gencar memberantas penggunaan narkotika yang sudah dianggap dalam kondisi darurat dengan 3,2% dari seluruh populasi penduduk terindikasi sebagai pengguna narkotika, menurut data BNN.
“Kita tidak mengharapkan loss generation,” tegas Sulistyo.
Jika masuk ke Golongan I narkotika, maka baik pengguna, pengedar, jaringan kratom akan diberlakukan hukuman seperti narkotika lainnya.
Itu artinya, petani seperti Mario dan lainnya tak lagi dapat menanam kratom, meskipun permintaan legal dari negara lain masih besar.
“Kepentingan bisnis kadang tidak kompatibel dengan kepentingan hukum. Kepentingan bisnis illegal ya illegal, legal ya legal,” ujar Pudjo.
Lebih jauh Pudjo mengatakan bahwa pihaknya sudah mengingatkan masyarakat bahwa kratom ini termasuk narkotika sehingga tak ada lagi alasan untuk menanam tumbuhan tersebut.
Seorang peneliti dari FMIPA Universitas Tanjungpura, Dr Ari Widiyantoro yang telah meneliti kratom mengatakan bahwa bukan pelarangan yang dibutuhkan terkait pelarangan kratom.
Yang lebih dibutuhkan menurutnya adalah pengawasan lewat aturan resmi dari Kementerian Kesehatan, mengingat potensi kratom untuk kebutuhan medis.
“Cuman masalahnya penggunaannya harus diatur, dosisnya terutama, dan siapa yang harus memakai,” kata Dr Ari.
Selain itu, dia juga mendukung agar dilakukan standardisasi produksi kratom karena para petani dan pengumpul kratom saat ini menjual daun tanpa membedakan usia daun, padahal semakin tua daun maka kadar mitragininnya semakin tinggi sehingga dampaknya ke pengguna juga akan berbeda.
“Dari berita dan buletin kesehatan di Amerika, packagingnya tidak bagus sehingga (bakteri) salmonela masuk. Itu memberikan cemaran kepada pasien sehingga tingkat kematian, infeksi menjadi tinggi,” Dr Ari menambahkan.
Dia juga menganjurkan agar riset terkait kratom terus dilakukan untuk mendalami efek-efek kratom, termasuk efek yang berbahaya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Dr Ari, kratom mengandung mitraginin yang berfungsi sebagai katalisator opium agar bisa bekerja dengan baik.
Mitraginin ini juga dapat berfungsi sebagai pengganti opium sehingga jika diberikan kepada pengguna opium maka ketergantungan mereka pelan-pelan dapat berkurang.
Selain itu, mitraginin yang termasuk ke golongan alkaloid ini dapat memberikan efek sedatif dan anti nyeri.
“Saya pernah uji coba ke mencit. Mencitnya kita beri panas, dosis semakin tinggi itu dia tidak merasa sakit,” papar Dr Ari.
Di saat bersamaan, Dr Ari memperhatikan bahwa kratom ini dapat memberikan efek high atau mabuk kepada para pengguna tradisional di Kalimantan, meski dampak itu belum dibuktikannya secara klinis.
Namun, jika dikonsumsi dalam dosis yang tepat, Dr Ari yakin kratom tidak akan menyebabkan ketergantungan.
Para peminum teh kratom di Kampung Tembak, Kalimantan Barat, mengaku mseki cukup sering mengonsumsi kratom, namun menyebabkan ketergantungan hingga mencari-cari kratom setiap hari.
Di sana, warga meminum daun kratom kering yang diseduh dengan air panas, persis seperti membuat teh.
Bukan hanya tampilannya saja yang mirip teh, namun bau dan rasanya pun mirip dengan teh hijau yang pahit.
Baca: Menhub Persilakan Tiongkok Investasi Bangun Transportasi di Ibu Kota Baru Guna Kurangi APBN
Bahkan menurut Sutono, warga Kampung Tembak yang sudah mengonsumsi kratom selama 10 tahun yakin jika kratom mujarab dijadikan obat.
“Kalau kolesterol saya naik, (tekanan) darah saya naik, pasti turun darahnya. Tidak perlu pakai obat-obat lain. Jadi saya tetap mengonsumsi obat ini (kratom) secara rutin untuk menurunkan darah tinggi dan kolesterol,” kata Sutono.
Begitupun Pascalis yakin bahwa kratom selama ini telah membantu sakit persendiannya dan juga untuk membantunya tidur.
“Saya susah tidur. Untuk tidur, minum ini. Tidurnya total. Segar di pagi hari,” ungkapnya.
Pascalis menolak jika dampak itu semua adalah sugesti pikiran belaka.
“Tidak. Saya pribadi (merasakan), bukan terpengaruh,” katanya.
Pendapat itu langsung didukung oleh Agung, warga lainnya.
Bagaimanapun, kratom telah menjadi tanaman obat bagi mereka secara turun-menurun.
“Dulu orang-orang tua (minum), jadi dikonsumsi sudah lama, digunakan sebagai tanaman obat. Tapi ternyata ada yang cari, yang beli, ya sudah dibudidayakan saja. Berarti itu menjadi sumber pendapatan. Tetapi kalau tidak ada, tetap akan menjadi obat,” tutur Agung.
Namun apakah tradisi itu harus dihentikan karena berubahnya legalitas kratom di Indonesia, pertanyaan itu hanya akan dapat dijawab oleh regulator.