TRIBUNNEWSWIKI.COM - Psikolog mengungkap kondisi rumah tangga Briptu Fadhilatun Nikmah dan Briptu Rian Dwi Wicaksono.
Briptu Fadhilatun Nikmah nekat membakar suaminya hingga akhirnya meninggal dunia.
Peristiwa itu terjadi di rumahnya di komplek Asrama Polisi (Aspol) Polres Mojokerto, Sabtu, 8 Juni 2024 sekira pukul 10.30 WIB.
Polwan cantik itu nekat membakar suaminya, Briptu Rian Wicaksono hingga tewas karena masalah uang gaji ke-13 dipakai untuk judi online.
Briptu Fadhilatun Nikmah ditetapkan sebagai tersangka kasus KDRT.
Psikolog ikut menyoroti rumah tangga Briptu FN hingga tega bakar suaminya, Briptu RDW lantaran adanya masalah.
Karolin Rista SPsi MPsi Psikolog, dosen Psikologi Untag Surabaya, mengatakan jika pelaku nekat membakar suaminya sebagai pelampiasan emosi yang tidak terkontrol.
Baca: Profil Briptu Fadhilatun Nikmah, Polwan yang Bakar Suaminya Briptu Rian karena Judol, Anaknya Kembar
Sebab secara psikologis memang ada banyak hal yang menyebabkan perilaku ini terjadi. Meskipun banyak opini masyarakat yang menyudutkan pelaku yang mengkritisi bagaimana seorang polwan bisa sampai melakukan tindak kriminal.
"Namun, terlepas dari semua itu saya berharap masyarakat bisa melihat bahwa dengan atribut dan profesi apapun, kasus ini menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam titik batas toleransi yang dimiliki atau ketika kesejahteraan psikologi seseorang sudah tidak lagi dimiliki maka ia mampu melakukan banyak hal yang di luar norma-norma atau batas-batas sewajarnya," ujarnya, Selasa, (11/6/2024) dilansir dari Tribun Jatim.
Ia mengatakan bahwa Briptu FN merasa tertekan dengan situasinya.
Apalagi posisinya ia merupakan seorang ibu dari beberapa orang anak dan suami ternyata memiliki keterikatan dengan judi online itu sebenarnya sudah merupakan tanggung jawab yang berat.
"Apalagi ketika ia tidak mendapatkan support system yang baik dari suami untuk menghidupi beberapa anak sehingga tekanan yang dimiliki oleh seorang ibu ini ternyata sudah cukup tinggi," tambahnya.
Ditambah lagi yang masih tetap harus bekerja dan berjuang untuk memenuhi kebutuhan dibandingkan pihak suami.
Sehingga putus asanya untuk berkata saya tidak mampu lagi menanggung beban dilakukan dengan sangat emosi.
Baca: Postingan Akun Medsos Briptu Fadhilatun Nikmah, Bahagia Nikah dengan Briptu Rian Dwi Wicaksono
Sayangnya memang dalam hal ini ia tidak lagi memiliki kontrol emosi karena kalau dilihat pencetusnya karena semua yang dipendam.
Semua yang ditahan sudah tidak bisa lagi dia toleransi, ini yang sangat disayangkan.
Harapannya dengan kasus-kasus begini kita lebih aware bahwa mau profesi apapun kesehatan mental seseorang itu sangat perlu.
"Kita tidak pernah tahu batas limit seseorang bertoleransi secara emosional itu ada di mana, lebih daripada itu hal-hal ini sebenarnya bisa lebih dicegah dengan perilaku pimpinan maupun lingkungan keluarga," tandasnya.
Misalkan situasi keluarga kita yang sudah masuk dalam kategori candu, candu judi, kecanduan mencuri kecanduan pornografi, kecanduan seks bebas.
Semua yang candu itu seharusnya sudah lebih cepat mendapatkan pertolongan mendapatkan bantuan karena imbasnya bukan hanya pada dirinya sendiri tapi orang-orang terdekatnya.