Setelah Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ruhollah Khomeini, menerima gencatan senjata yang ditengahi PBB, anggota kelompok oposisi Iran yaitu Mujahidin-e-Khalq, yang dipersenjatai oleh Saddam Hussein, melakukan serbuan terhadap perbatasan Iran dari Irak dalam sebuah serangan mendadak.
Hanya saja Iran menggagalkan serangan itu.
Persidangan terhadap kelompok itu dimulai setelah peristiwa tersebut.
Para terdakwa diminta untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri.
Mereka yang menjawab “mujahidin” divonis dengan hukuman mati, sementara yang lain ditanyai tentang kesediaannya untuk “membersihkan ladang ranjau bagi tentara Republik Islam,” demikian menurut laporan Amnesty International tahun 1990.
Kelompok hak asasi internasional memperkirakan 5.000 orang dieksekusi.
Raisi kala itu bertugas di komisi tersebut.
Departemen Keuangan AS tahun 2019 memberikan sanksi kepada Raisi “atas pengawasan administratifnya terkait eksekusi individu yang masih di bawah umur pada saat melakukan kejahatan dan penyiksaan serta perlakuan atau hukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat terhadap tahanan di Iran, termasuk amputasi.”
Disebutkan juga keterlibatan Raisi dalam eksekusi tahun 1988.
Kepresidenan Raisi
Pada masa kepresidenan Raisi, Iran menghadapi protes anti-pemerintah cukup besar.
Protes itu terjadi setelah kematian perempuan muda Kurdi, Mahsa Amini, dalam tahanan polisi.
Pihak berwenang menanggapi aksi protes itu dengan aksi keras-brutal yang mencakup pembunuhan dan eksekusi.
Raisi mendukung badan keamanan Iran yang menindak segala perbedaan pendapat, termasuk setelah kematian Mahsa Amini tahun 2022 dan protes nasional yang terjadi setelahnya.
Penindakan keras selama berbulan-bulan itu sudah menewaskan lebih dari 500 orang dan menyebabkan lebih dari 22.000 orang ditahan.
Iran sejatinya dipimpin pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei (85 tahun).
Hanya saja, sebagai presiden Raisi melanjutkan program pengayaan uranium dan melanjutkan program rudal balistik.
Raisi juga mendukung serangan terhadap Israel dalam serangan besar pada April lalu yang melibatkan lebih dari 300 drone dan rudal yang ditembakkan ke Israel.
Hal itu sebagai tanggapan atas dugaan serangan Israel yang menewaskan jenderal-jenderal Iran di kompleks kedutaan Iran di Damaskus, Suriah.
Selama bertahun-tahun, Israel dan Iran sudah terlibat dalam perang proksi. Aksi Iran pada April lalu itu membuat perang mereka menjadi muncul ke permukaan.