TRIBUNNEWSWIKI.COM - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Kamis (18/1/2024) mengatakan kepada Amerika Serikat, dirinya merasa keberatan terhadap rencana pembentukan negara Palestina yang tidak menjamin keamanan Israel.
Dalam sebuah konferensi pers, ia mengatakan, ketiadaan pembentukan negara Palestina juga tidak akan menghalangi kesepakatan normalisasi hubungan dengan negara-negara Arab beberapa tahun lalu.
Dikutip dari Kompas.com, Netanyahu masih berniat mengundang lebih banyak negara agar bergabung ke dalam kesepakatan tersebut.
Israel dan pendukung utamanya, Amerika Serikat, dikabarkan sedang berselisih.
Netanyahu dan pemerintahan koalisi sayap kanannya menolak adanya pembentukan negara Palestina.
Adapun AS tetap menjunjung solusi dua negara sebagai jalan keluar terbaik untuk menciptakan perdamaian di kawasan tersebut.
Dalam kunjungan keempatnya ke Timur Tengah pekan lalu sejak serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyampaikan draf kesepakatan kepada Israel.
Draf itu menyebutkan negara-negara tetangga Israel, yang mayoritas beragama Islam, akan membantu merehabilitasi Gaza setelah perang usai dan melanjutkan integrasi ekonomi dengan Israel.
Dengan catatan selama Tel Aviv berkomitmen untuk mengizinkan pembentukan negara Palestina yang merdeka.
Baca: Israel Kembalikan 80 Mayat Warga Palestina Tanpa Organ, Sebagian Dalam Keadaan Terpotong-potong
Perundingan yang dimediasi AS tentang pembentukan negara Palestina di wilayah yang saat ini diduduki Israel gagal hampir satu dekade lalu.
Perkembangan terakhir dalam konflik Israel-Palestina yang berlangsung selama puluhan tahun itu dimulai saat militan Hamas menerobos masuk ke Israel selatan pada 7 Oktober.
Serbuan itu dilaporkan Israel menyebabkan 1.200 orang tewas dan sekitar 250 lainnya disandera.
Israel mengklaim, lebih dari 130 orang masih ditawan.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)