Namun uang itu tak semua dibawa pulang.
Ia harus mengeluarkan uang untuk biaya ojek.
"Ojek 2 balik Rp 70 ribu. Jadi dia dapet Rp 30 ribu," katanya.
Baca: Meninggal di Solo, Inilah Perjalanan Hidup Dokter Lo Siaw Ging, Dermawan & Berjasa saat Kerusuhan 98
Suka berbagi
Meskisering mengemis, Baliah ternyata tidak pernah merepotkan tetangga-tetangganya jika tidak memiliki uang untuk makan.
Baliah lebih memilih mengemis di kawasan wisata pada akhir pekan dan jika kepepet ia berkeliling permukiman hingga area pasar.
"Engga pernah, misal minta karena belum makan gitu ya, belum pernah itu mah," ujar Agus, ketua RT tempat Baliah tinggal di wilayah Desa Ciasihan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Sabtu (13/1/2024).
Walaupun Baliah dan keluarga sendiri merupakan keluarga yang serba kekurangan, namun ia tidak lupa berbagi.
Bagaimana tidak, Baliah sendiri gangguan mental sehingga sulit berkomunikasi layaknya manusia normal.
Sementara itu, sang suami yang diketahui bernama Ropik memiliki kekurangan yakni tidak bisa berbicara alias tunarungu.
Di samping itu, ia memiliki seorang anak laki-laki yang duduk dibangku kelas 5 sekolah dasar yang harus dipenuhi kebutuhannya olehnya sebagai tulang punggung keluarga.
Agus menyebut bahwa jika Baliah mendapat makanan lebih kerap dibagikan kepada tetangganya.
"Kalo pulang-pulang kadang ada yang ngasih kerupuk dibawa dibagi-bagi kesini," ungkapnya.
Kebaikan Baliah juga diakui oleh para tetannganya. Meski Baliah mengemis untuk memenuhi kebutuhannya akan tetapi ia tidak lupa untuk berbagi dengan tetangganya.
"Suka ngasih ke anak-anak gitu Rp 2 ribu, kalau belanja ke pasar beli buah banyak bagi-bagi ke tetangga, baik orangnya mah," ungkap salah satu tetangga Baliah saat berbincang dengan TribunnewsBogor.com.
(tribunnewswiki.com/tribun network)
Baca lebih lengkap seputar berita terkait lainnya di sini