Junta Militer Burkina Faso Minta Tentara Prancis Pulang ke Negaranya

Prancis memiliki waktu satu bulan untuk menarik kembali tentaranya dari Burkina Faso.


zoom-inlihat foto
Tentara-Burkina-Faso.jpg
OLYMPIA DE MAISMONT / AFP
Tentara Burkina Faso berpatroli di dekat kendaraan lapis baja milik Prancis di Kaya, Burkina Faso, (20/11/2022).


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Pemerintahan junta militer Burkina Faso meminta tentara Prancis angkat kaki dari negara Afrika Barat itu.

Menurut kantor berita Agence d’Information du Burkina atau AIB, Prancis memiliki waktu satu bulan untuk menarik kembali tentaranya. Hal itu sesuai dengan perjanjian yang disepakati tahun 2018.

"[Pemerintah] pekan lalu mengecam perjanjian yang telah berlaku sejak tahun 2018, keberadaan Angkatan Darat Prancis di wilayahnya," demikian pemberitaan AIB dikutip dari CNN International.

Reuters melaporkan bahwa Prancis saat ini masih memiliki 400 pasukan khusus yang ditempatkan di Burkina Faso. Pasukan itu membantu Burkina Faso untuk melawan militan islamis yang terkait dengan Al-Qaeda dan ISIS.

Pada hari Jumat, (20/1/2023), warga di ibu kota Burkina Faso, Ouagadougou, juga turun ke jalan guna berunjuk rasa menentang keberadaan tentara Prancis.

Video yang beredar memperlihatkan para pengunjuk rasa membawa papan bertuliskan "Tentara Prancis, keluar dari rumah kami" dan "Persahabatan Burkina Rusia". Beberapa pengunjuk rasa turut membawa bendera nasional Burkina Faso dan Rusia.

Baca: Militer Burkina Faso Bubarkan Pemerintahan, Presiden Damiba Dicopot

Pada bulan Desember, Presiden Ghana, Nana Akufo-Addo, mengklaim junta militer Burkina Faso telah mengundang tentara bayaran Wagner dari Rusia.

Dalam konferensi pers tanggal 16 Desember, Wakil Menteri Kerja Sama Regional Burkina Faso, Jean Marie Traoré, menyebut klaim itu "benar-benar serius".

Baca: Presiden Burkina Faso Roch Kabore Dikudeta Militer, Keberadaannya Tidak Diketahui

Tentara Prancis pertama kali memasuki kawasan Sahel (daerah antara Gurun Sahara dan padang sabana di selatannya, meliputi wilayah Senegal Mauritania, Mali, Burkina Faso dll.) tahun 2013 silam atas permintaan Mali. Prancis kemudian melancarkan Operasi Serval melawan militan islamis.

Misi Prancis di sana menuai keberhasilan dengan Operasi Barkhane yang digelar bulan Agustus 2014. Operasi antiteror itu menargetkan para militan di kawasan Sahel, termasuk Burkina Faso.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pada bulan Juni 2021 mengatakan misi itu akan digantikan oleh upaya yang lebih bersifat internasional. Pasukan Barat mulai pergi dari Mali pada bulan Februari 2022. Namun, masih ada pasukan di Burkina Faso.

Sementara itu, pada tanggal 24 Januari 2023 militer Burkina Faso naik ke tampuk kekuasaan dan melengserkan mantan Presiden Roch Kaboré. Militer juga membubarkan pemerintahan dan parlemen.

Letnan Kolonel Paul-Henri Damiba kemudian diangkat sebagai pemimpin baru di negara itu. Namun, kekuasaan Damiba hanya berlangsung singkat lantaran dia digulingkan pada peristiwa kudeta bulan Oktober 2022. Psisi Damiba digantikan oleh Ibrahim Traoré, seorang kapten angkatan darat.

Baca: Alami Krisis Pangan akibat Invasi Rusia, Afrika Minta Putin Permudah Ekspor Gandum Ukraina

(Tribunnewswiki)

Baca berita lain tentang Burkina Faso di sini.

 







KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved